‘Mahkota Rajadiraja Aceh’ dan Masa Depan Sastra
August 22, 2008 12:35 pm Pustakaloka | 820 views “Sastra Aceh, tradisional ataupun modern dan kontemporer, sangat mungkin berkembang pesat ke depan, hadirkan ruang ekspresi yang luas bagi sastrawan, tumbuhkan apresiasi, yang penting, penghargaan/penerimaan dari berbagai pihak terhadap sekecil apapun karya yang dihasilkan oleh anak bangsa ini.” Mukhlis A Hamid ‘Kita harus mampu menciptakan kejayaan Aceh di masa depan melebihi kegemilangan masa Iskandar Muda, tetapi tetap berakar Aceh yang Islami, ke depan, sastra Aceh akan maju pesat, sekarang pun, kemampuan penulis sastra Aceh sederajat dengan penulis sastra di Jakarta. Yang saya pelajari setelah amuk gelombang 2004, orang Aceh bukanlah bangsa peminta, mereka tetap tegar menghadapi apapun karena Aceh tak berpengalaman hidup terjajah’ Zoelfikar Sawang‘Paska amuk lantak laut, kekuatan terbesar di Aceh adalah semangat, itu harus dipertahankan. Semaraknya sastra Aceh ke depan tergantung pada semangat itu,’ Sulaiman Tripa
Judul : Spektrum Banda Aceh
Katagori : Ilmiah sejarah
Editor : Ampuh Devayan, Mukhlis A. Hamid, Sulaiman Tripa
Penerbit : Dewan Kesenian Banda Aceh
Tebal : xiv + 170 Halaman
Cetakan : 1, Desember, 2007
‘Penulis dan Peneliti sejarah adalah pahlawan, sementara sastrawan adalah saksi abadinya, dan kita tahu, seindah apapun sebuah tulisan, ia tak bermakna tanpa seorang pembaca’
Dalam buku “Spektrum Banda Aceh” ini dimaktubkan, bahwa 1 Ramadhan 601 H bertepatan dengan 22 April 1205 M, Banda Aceh diproklamirkan oleh Sulthan Alaidin Johan Syah. Sejak itu dan ratusan tahun sesudahnya, Banda Aceh merupakan ibukota negara berdaulat penuh yang memimpin seantero Pulau Sumatera dan Semenanjung Melayu, sebagi salah satu Negara besar dan maju dunia.
Abad-abad berganti terjadi sebagaimana hukum alam, bahwa kejayaan dan kehancuran datang bertukar mengisi waktu. Buku sejarah ini mencatat, bahwa 662 tahun setelah Banda Aceh berdiri dan berjaya dalam segala bidangnya, malapetaka bagi bangsa kita datang tak diundang.
Itu bermula ketika bajak laut Belanda menghancurkan istana sulthan Aceh, dalam waktu 1873-1874, mahkota mutiara raja diraja Aceh Darul Al Salam terjatuh bersimbah darah demi mempertahankan kedaulatan dan iman bangsa. Banda Aceh tua pun diganti namanya menjadi Kutaraja oleh Van Sweaten.
Sejak 90 tahun setelahnya, 1963, nama Kutaraja dihapus oleh menteri Jakarta, dan nama Banda Aceh tua dipakai lagi sampai sekarang. Dan kita boleh saja menyebut, bahwa kini Banda Aceh hanya tinggal nama. Apa yang telah terjadi antara kurun waktu tujuh ratus tahun itu, tidaklah cukup kita bicarakan di halaman fokus ini. Lagi pula, untuk apa kita tulis di sini kalau dalam buku tersebut sudah lengkap dan tersusun rapi.
Buku ‘Spektrum Banda Aceh’ ini adalah hasil kumpulan tiga sastrawan Aceh, Ampuh Devayan, Mukhlis A Hamid, dan Sulaiman Tripa, yang difasilitasi oleh sastrawan Aceh, Zoelfikar Sawang, selaku pejabat ketua Dewan Kesenian Banda Aceh sekarang. Buku tersebut dirintis selama satu tahun, bahannya dikumpulkan dari tiga belas buku sejarah tentang Aceh, yang kebanyakan hasil penulis luar negeri.
Dari sekian banyak referensi, pengumpul data sejarah kita yang tekun dan teliti tersebut mengambil hal yang penting untuk kita ketahui, sebagai generasi Aceh masa kini. Perlu kita tegaskan, bahwa pengumpul data sejarah adalah pahlawan. Jadi dalam melahirkan buku ini kita punya empat pahlawan, yang foto mereka terpatri di halaman ini.
Namun, tentulah mereka dibantu oleh beberapa yang lain, sebagaimana yang telah kita bicarakan kemarin, bahwa dalam sebuah tim, satu orang tak berguna tanpa ada yang lain. Selaku penyuka sejarah, kita berterimakasih atas ketekunan dan ketelitian para sastrawan kita dalam mempersatukan sejarah yang terpisah tentang Banda Aceh menjadi satu kesatuan yang dapat dikatakan ‘utuh’.
Untuk mengetahui isi buku tersebut, tak ada yang lebih baik selain membacanya sendiri. Dan di sini kita bicara perkara beberapa pendapat Zoelfikar Sawang tentang sejarah Aceh dan sastra Aceh, yang dikatakannya di kantor budaya tersebut.
Buku “Spektrum Banda Aceh” ini rencananya akan dijadikan referensi dan rujukan pelajaran di sekolah-sekolah seluruh wilayah dalam provinsi Aceh. Rencana ini, menurut pengumpul data sejarah itu, akan meluruskan sejarah Aceh yang selama ini sengaja dihapus dari daftar mata pelajaran sekolah.
Kita bersyukur, kalau buku penting ini dijadikan mata pelajaran di sekolah seluruh Aceh, karena dengan membaca sejarah yang telah teruji mendekati kebenaran ini, mayarakat Aceh akan dapat mengembalikan rasa percaya dirinya yang selama ini hilang.
Saat ditemui Harian Aceh di kantornya, Sabtu, (16/8), Zoelfikar Sawang, menyebut tentang sejarah Aceh dan perkembangan sastranya serta prediksi penyair itu tentang masa depan Aceh yang kita puja dan kadang kita caci ini. Ia menyebutkan, bahwa sejarah Aceh harus dipelajari agar kita tahu apa yang telah terjadi untuk mampu mengukur diri dan menyusun ancang-ancang untuk hari esok yang gemilang.
Kata orang, tidak ada yang lebih membahayakan bagi sebuah bangsa selain memiliki kaum mudanya yang pesimis. Zoelfikar sepenuhnya yakin akan hal itu. Dan penyair itu bilang, ‘Kita harus mampu menciptakan kejayaan Aceh di masa depan mulai kini melebihi kejayaan Aceh masa silam, tetapi tetap berakar Aceh yang Islami.’
Zoelfikar sangat optimis akan masa depan sastra Aceh. Kata dia, ke depan, sastra Aceh akan maju pesat, sekarang pun, lanjutnya, kemampuan penulis sastra Aceh memiliki kemampuan yang sederajat dengan penulis sastra yang tinggal di Jakarta. Kalau demikian adanya, lalu mengapa penulis Jakarta tampaknya lebih dikenal dan hebat? Kita pasti hantam tanya begitu.
Ia menjawab bahwa, terlihat seakan-akan karya orang Jakarta lebih hebat karena mereka tinggal di pusat sebuah negara, dan di Jakarta fasilitas dan semacam pendukung lain terpenuhi. Selain itu, terutama hal mutu karya, menurut Zoelfikar, yang ditonjolkan di Jakarta pun bisa dihadirkan oleh sastrawan di Aceh. Semua sudut bumi bisa menghadirkan orang jenius, bukan perkara tempat, namun kegigihan usaha dan terus memperbaiki karyalah yang menentukan.
Menyangkut hal tersebut, Mukhlis A Hamid, punya pandangan, bahwa ke depan, sastra Aceh (tradisional ataupun modern dan kontemporer) punya kemungkinan untuk berkembang. “Sangat besar kemungkinan tersebut, sejauh adanya ruang ekspresi yang luas bagi sastrawan, seperti adanya apresiasi dari masyarakat dan pemerintah; dan adanya usaha pendidikan, pelestarian, dan pengembangan dari berbagai pihak,” ujarnya.
Menurutnya, penyediaan ruang sastra dan budaya di surat kabar lokal merupakan salah satu usaha yang patut diacungi jempo,l karena tanpa ruang ekspresi, karya sastra hanya ada dalam ingatan pemilik aktif ataupun catatan lepas para penciptanya.
Mukhlis berharap, agar masyarakat memberi apresiasi terhadap karya yang dihasilkan anak bangsa ini. Sekecil apapun apresiasi tersebut, katanya, akan mendorong anak bangsa untuk terus berkarya. “Jangan mencemooh, apalagi mematikan, usaha dari siapapun untuk menghasilkan, mendokumentasikan, ataupun menciptakan hal-hal baru berdasar karya yang sudah ada,” harapnya.
Mukhlis A. Hamid adalah laki-laki yang lahir di Peukan Bada, Aceh Besar, 2 Desember 1962. Sejak 1988 menjadi dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, FKIP, Univ. Syiah Kuala, Banda Aceh. Ia kini S2 bidang Ilmu Sastra (Filologi) pada Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, 1993.
Mukhlis telah mengikuti beberapa training/pelatihan khusus di dalam dan di luar negeri, antara lain Pelatihan Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya, PPISB Syiah Kuala University, Darussalam, Banda Aceh, Juli 1994 – Maret 1995; Workshop Penulis Buku Ajar Perguruan Tinggi, Bogor, Jawa Barat, Juli 1996; Training of Trainer in Human Right and Refugees Right for Police, facilitated by UNHCR, Bogor, 2001;
Ia juga mengikuti Metode Pembelajaran untuk Orang Dewasa dan Universitas Terbuka, Padang, Sumatera Barat, Agustus 2001; TOT Metode Pembelajaran Kontekstual, Surabaya, September 2003; In Country Training for Mediator and Peace Keeper, facilitated by Norwegian Embassy, Bogor, Jawa Barat, Oktober 2004; Conflict Transformation and Human Rights Training, Lillehammer and Oslo, Norway, Juni 2005
Di samping menjadi penulis opini dan hasil telaah kesastraan di koran dan jurnal lokal, penulis juga menjadi editor dan tim penyusun beberapa buku yang diterbitkan di Banda Aceh, antara lain editor buku Takdir-Takdir Fanshuri, Buku Kumpulan Esai Sastra dan Budaya (DKB, 2002); editor buku Celoteh Budaya Politik Aceh, Buku kumpulan Esei M.A.Glanggang (DKB, 2003); tim penyusun buku Cerita Rakyat Nanggroe Aceh Darussalam (Dinas Kebudayaan, 2004/2005).
Bukunya dengan judul Sastra dan Problematika Pembelajarannya di Aceh diterbitkan oleh Aliansi Sastrawan Aceh (ASA), Banda Aceh, 2007; Di samping itu, penulis juga terlibat sebagai anggota tim penulis buku “Ensiklopedi Aceh” (Forum Lsm Aceh-BRR NAD-Nias, 2007); “Spektrum Banda Aceh” (DKB, 2008); tim penulis buku “Leksikon Sastra Aceh” (DKB, 2008);
Salah satu tulisannya “Refleksi Sikap Hidup Kemelayuan dalam Hadih Maja Aceh” diterbitkan dalam buku Bahasa dan Pemikiran Melayu/Indonesia Menyongsong 2025” (Irwandy, Editor, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 2007).
Laki-laki ini pun mengaku sering menjadi dewan juri dalam berbagai lomba penulisan dalam beragam even, antara lain:
Fasilitator pelatihan menulis bagi guru SD, SMP, SMA dalam Provinsi NAD (2002, 2003, 2004, 2006, 2007; Fasilitator pelatihan menulis bagi ulama dan santri dayah, RTA/HUDA NAD, 2007; Dewan juri lomba karya ilmiah remaja (KIR) SMP/SMA, Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh, 2003, 2005, 2006; Dewan Juri lomba penulisan karya ilmiah bagi guru LPMP NAD, 2005, 2006;
Dewan Juri lomba penulisan esai, cerpen, novel perdamaian, Komunitas Tikar Pandan, 2006; Dewan Juri lomba penulisan resensi buku, Aceh Institute, 2007. Dewan Juri Anugrah Sastra, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NAD, 2008, yang memengangkan lima sastrawan Aceh, yakni, Arafat Nur, Musmarwan Abdullah, Saiful Bahri, Sulaiman Tripa, dan Rosni Idham.
Tentu saja, banyak lagi sastrawan kita yang tak sempat kita perkenalkan kali ini, dan di kesempatan lain kita perkenalkan satu persatu. Sebab, ruang ini tak cukup memuat semua penulis sejarah, sastrawan, karena jumlahnya yang mencapai ratusan lebih.
Tentang buku ‘Spektrum Banda Aceh’, seperti disebut tadi, kita memang tak mengulas isinya, karena isinya harus dibaca secara utuh oleh setiap orang Aceh, tepatnya bacaan wajib. Menyangkut gaya dan aliran tulisnya, kita tak perlu menyebutkan, karena buku ini buku sejarah, bukan karya sastra.
Mengenai masa depan sastra yang dicetuskan sastrawan kita tadi, memang begitulah adanya. Masa depan sastra di Aceh sedang membuka diri setelah sekian tahun terkucil prahara politik. Kita bisa membandingkan Aceh dengan Negara luar, setiap Negara maju pastilah sastranya maju. Karena sastra adalah cermin dari budaya suatu bangsa.
Dan perlu kita tegaskan, bahwa, sastra maju karena ada hubungan timbal balik, yakni, ada penulis, ada pembaca dan ada media penyampai karya. Kita sudah lihat sendiri, di kampong kita yang besar ini, hal itu sudah tampak berkembang dengan bunganya yang harum.
Sebelum kita akhiri bincang-bincang kali ini, tersebutlah sebuah kalimat, bahwa, seindah apapun sebuah tulisan, ia tak bermakna tanpa ada pembaca.(HA/21/08/08/Thayeb Loh Angen)







December 14th, 2008 at 12:59
Wajib dibaca, apalagi Sulaiman Tripa itu idola Abu….