Amsterdam Kota Buku Dunia, 'Buku Terbuka, Jiwa Terbuka'

1:43 am Kliping, Pustakaloka | 2,325 views

Amsterdam terkenal sebagai kota penganut kebebasan berbicara. Sudah berabad-abad warga ibukota Belanda ini menolak pembungkaman. Setelah pembunuhan sineas Theo van Gogh pada tahun 2004, soal kebebasan berbicara ini makin aktual saja.

Mulai pekan ini, buku, penulis, dan kemerdekaan berpendapat menjadi pusat perhatian Amsterdam. Kota ini oleh UNESCO, organisasi kebudayaan PBB, ditetapkan sebagai Kota Buku Dunia.

Kota penuh buku
“Amsterdam adalah kota pelarian bagi penulis yang di negara asal mereka tidak bebas bekerja. Di sini mereka mendapatkan ketenangan dan semua kemerdekaan untuk menulis. Amsterdam adalah kota khas yang menjamin hal itu.” Demikan penulis Nelleke Noordervliet menulis.

Ia menulis buku tentang perhelatan Amsterdam Kota Buku Dunia, yang diberi judul ‘Sebuah Kota Penuh Buku’. “Sudah merupakan tradisi sejak abad 16, 17, dan 18, para filsuf Prancis menerbitkan karya mereka di Amsterdam. Dan pada abad 20, Amsterdam menjadi pusat literatur pengasingan asal Jerman. Amsterdam adalah kota dengan jiwa dan hati yang terbuka bagi penulis,”tukas Noordervliet.

Sekitar tahun 1600, warga Belanda Utara memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan Spanyol. Republik Tujuh Propinsi merupakan republik pertama di dunia. Warganya, di antaranya Amsterdam, memerintah diri sendiri. Perkembangan perdagangan melesat cepat, seni mencetak buku berkembang dalam tempo tinggi supaya bisa menyediakan peta-peta yang bagus untuk kapal-kapal yang berlayar ke seluruh penjuru dunia.

Sementara itu pengungsi intelektual dari Eropa selatan mencari selamat di Eropa utara. Para pemikir merdeka tersebut menetap di Amsterdam, di mana cengkraman gereja tak begitu kuat. Berkat penerbit, percetakan dan perdagangan internasional, karya-karya mereka tersebar ke seantero Eropa.

Surga kebebasan berpendapat
Mulai pekan ini sampai April 2009, ada berbagai aktivitas di ibukota Belanda yang berhubungan dengan buku: ceramah, pasar buku, pameran, teater dan musik. Semuanya berkaitan dengan canangan Kota Buku Dunia, oleh karenanya dibentuk sebuah yayasan khusus. “Kami mengelola sendiri bermacam-macam hal, namun juga ada ratusan lembaga budaya dan lembaga ilmu pengetahuan yang ikut serta, dan mereka menyelenggarakan kegiatannya masing-masing.” demikian Judith Belinfante Ketua Yayasan Amsterdam Kota Buku. Ia gembira atas antusiasme pelbagai jaringan budaya di Amsterdam.

Banyak acara menarik, tapi sisi prinsipiil Amsterdam sebagai surga kebebasan berpendapat juga mendapat perhatian, kata Belinfante.

Judith Belinfante:”Tema tahun buku ialah ‘buku terbuka, jiwa terbuka’. Kata-kata bebas, kebebasan mengemukakan pendapat merupakan tradisi lama Amsterdam, dan kami merasa sangat penting itu tetap bertahan. Dan kami juga tetap cukup terbuka untuk mendengarkan satu sama lain.”

Spinoza, Anne Frank, Annie G.Schmidt
Tiga penulis Amsterdam dipilih sebagai ikon Amsterdam Kota Buku Dunia. Pemikir bebas Yahudi, Spinoza (1632-1677), Anne Frank -remaja putri yang terkenal lewat buku hariannya saat perang dunia kedua- dan Annie M.G. Schmidt (1911-1995) yang menulis untuk orang dewasa dan anak-anak, kebanyakan dengan humor, sering juga dengan mata kritis melihat masyarakat. Di luar itu masih banyak lagi rekan-rekan penulis lain turut dalam aktivitas.

Bukan hanya para penulis tamu Amsterdam Kota Buku Dunia yang tahun ini berkarya di Amsterdam. Atas permintaan Salman Rusdhie, penulis terkenal buku Ayat-Ayat Setan, ibukota Belanda menjadi anggota jaringan Kota Pelarian. Sejak tahun 1990-an banyak penulis yang tak bebas menulis di negaranya datang ke Amsterdam. Atas biaya Yayasan Amsterdam Kota Pelarian, mereka boleh tinggal dan menulis di Amsterdam selama satu tahun. Dua tahun belakangan, mereka berkarya di rumah tua Anne Frank. Keluarga Anne Frank harus meninggalkan rumah ini untuk bersembunyi dari kejaran Nazi. Ia tak pernah kembali.

Sebuah simbol
Rumah itu merupakan simbol, kata Tiziano Peres dari Yayasan Amsterdam Kota Pelarian. “Paling tidak, para penulis ini memperoleh kesempatan untuk menulis sebuah buku. Selain itu mereka bertemu dengan banyak penulis dan kaum cendikia di Amsterdam. Terlihat mereka kerap merasa dikuatkan saat pulang kampung. Rumah ini sebuah tempat di mana anda bisa merasakan bahagia, seperti Anne Frank di masa lalu. Sebuah pemikiran bagus mempertemukan dahulu dan sekarang,” katanya.

Belakangan ini, rumah Anne Frank di Merwedeplein, Amsterdam selatan, diatur seperti gaya jaman ia masih di sana. Dengan mebel dan kertas dinding tua, bahkan meja tulis tiruan yang sama persis di mana Anne Frank menulis halaman pertama buku hariannya.(ha/philip smet. ranesi.nl)

One Response

  1. GyncInheree Says:

    casino spiele online free casino games online casino australia

Leave a Comment

Your comment

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.