<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Taman Baca Guahira &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://tamanbaca.guahira.com/category/artikel/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tamanbaca.guahira.com</link>
	<description>Karena membaca adalah jendela dunia...</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jul 2010 03:39:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kisah di Balik Tiga Buku Harian</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/kisah-di-balik-tiga-buku-harian.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/kisah-di-balik-tiga-buku-harian.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 11:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>
		<category><![CDATA[Anne Frank]]></category>
		<category><![CDATA[buku harian]]></category>
		<category><![CDATA[Dang Thuy Tram]]></category>
		<category><![CDATA[Ramon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[SEBUAH buku harian menjadi terkenal karena si empunya buku itu memang tokoh. Buku harian juga terkenal karena memberi pengetahuan mengenai suatu peristiwa pada suatu masa. Akan tetapi, tidak sedikit buku harian menjadi terkenal karena penemuannya yang berliku dan unik.
Buku harian Ilan Ramon yang dipamerkan di Jerusalem pada awal Oktober mungkin merupakan buku harian yang sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEBUAH buku harian menjadi terkenal karena si empunya buku itu memang tokoh. Buku harian juga terkenal karena memberi pengetahuan mengenai suatu peristiwa pada suatu masa. Akan tetapi, tidak sedikit buku harian menjadi terkenal karena penemuannya yang berliku dan unik.</p>
<p>Buku harian Ilan Ramon yang dipamerkan di Jerusalem pada awal Oktober mungkin merupakan buku harian yang sangat unik. Ramon adalah astronot pertama Israel yang tewas saat pesawat ulang alik Amerika Serikat Columbia meledak saat memasuki atmosfer Bumi pada 1 Februari 2003. Semua korban tewas. Namun, sebagian reruntuhan pesawat yang jatuh dari ketinggian 37 mil dari Bumi ada yang bisa ditemukan.<span id="more-20"></span><br />
Buku harian Ramon, seperti dikutip Associated Press, ditemukan setelah dua bulan peristiwa terjadi. Badan luar angkasa AS, NASA, menemukan 37 halaman buku harian Ramon dalam kondisi basah di sebuah lapangan di kota Palestine, Texas. Buku harian ini tergolong mujur, terhindar dari kerusakan akibat panas ekstrem saat ledakan. Tidak rusak akibat mikroorganisme saat ditemukan.</p>
<p>Banyak kalangan mengaku heran dan menganggap sebagai suatu keajaiban serta sulit dicari logikanya hingga benda itu masih selamat. Dari sejumlah kejadian sejenis selama ini, benda- benda seperti itu tak bisa ditemukan.</p>
<p>NASA tidak berkomentar banyak dan menyerahkan buku harian itu kepada istri Ramon, Rona, di Israel. Rona membawa buku harian itu ke ahli forensik di Museum Israel dan polisi.</p>
<p>Para petugas kemudian merestorasi buku harian itu. Setidaknya butuh waktu setahun untuk restorasi. Untuk proses pembacaan, kalangan ilmuwan membutuhkan waktu beberapa lama. Sekitar 80 persen dari buku harian itu berhasil dibaca.</p>
<p>Kisah buku harian yang juga tergolong unik adalah buku harian Dang Thuy Tram, dokter Vietnam yang menangani korban Perang Vietnam. Buku hariannya diterbitkan dalam bahasa Inggris, Last Night I Dreamed of Peace, tahun 2007. Thuy yang merawat pasukan Vietkong berkisah saat ia mulai menjadi dokter pasukan (8 April 1968) hingga dua hari menjelang tewas ditembak 20 Juni 1970.</p>
<p>Riwayat penerbitan buku harian itu berliku-liku. Pada 22 Juni 1970 patroli pasukan AS mendengar radio yang memutar lagu-lagu Vietnam. Pasukan AS memergoki empat orang, salah satunya Thuy.</p>
<p>Pasukan AS menembaki empat orang itu. Dua orang tewas, yaitu Thuy dan Boi (tentara). Dua lainnya lolos. Tentara AS meneliti barang bawaan dua orang yang tewas itu.</p>
<p>Barang-barang itu kemudian diteliti oleh intelijen AS untuk ditentukan kategorinya. Barang yang tidak punya informasi militer dimusnahkan. Fred Whitehurst bertugas menyeleksi. Ia melempar sejumlah barang ke drum pembakaran. Seorang penerjemah, Sersan Nguyen Trung Hieu, meminta agar buku harian Thuy jangan dibakar.</p>
<p>Fred menurutinya. Hieu lantas menerjemahkan buku harian itu. Hati Fred tersentuh oleh kisah-kisah dalam buku harian itu. Ia nekat melanggar aturan ketentaraan dengan membawa buku harian itu ke AS tahun 1972.</p>
<p>Baru tahun 1993 setelah ia keluar dari FBI, Fred mulai memikirkan buku harian itu. Ia punya saudara, Rob, yang mampu berbahasa Vietnam. Buku harian itu mulai diterjemahkan.</p>
<p>Selesai menerjemahkan Maret 2005, mereka membawa buku harian itu ke sebuah konferensi tentang Perang Vietnam di Texas. Mereka bertemu dengan veteran angkatan udara dan memberinya kopi buku harian itu. Dalam beberapa bulan kemudian, veteran ini ke Vietnam mencari keluarga Thuy.</p>
<p>Keluarga Thuy pun berhubungan dengan Fred. Fred berhasil berkomunikasi dengan Kim Tram, adik Thuy, lewat surat elektronik. Pada Agustus 2005 Fred bertemu keluarga Thuy di Hanoi. Selanjutnya, buku itu diterbitkan.</p>
<p>Buku harian Thuy ini dikagumi anak-anak muda Vietnam karena, di samping sifat Thuy yang pemberani dan idealis, buku ini juga berisi roman kasih tak sampai Thuy kepada pemuda bernama M. Kisah ini menjadi sisi lain Perang Vietnam yang sangat menyentuh.</p>
<p>Kisah dua buku harian itu mengingatkan kita pada penemuan buku harian legendaris, The Diary of Anne Frank, yang tidak kalah menariknya.</p>
<p>Buku harian Anne Frank sempat terserak di rumah yang diberi nama Secret Annex di Prinsengrahct 263, Amsterdam. Lembaran-lembaran buku harian itu terserak setelah pasukan Nazi mengubrak-abrik tempat itu dan mengirim para penghuninya ke kamp konsentrasi pada 4 Agustus 1944.</p>
<p>Buku itu ditemukan dua sekretaris di gedung itu, yaitu Miep Gies dan Bep Voskuijl. Saat mereka mengetahui Anne meninggal, keduanya menyerahkan buku harian itu kepada Otto Frank, ayah Anne. Oleh Otto, buku harian Anne diterbitkan setelah beberapa bagian diseleksi. (ANDREAS MARYOTO)</p>
<p><strong>Sumber: Koran Kompas, Rabu, 29 Oktoer 2008</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/kisah-di-balik-tiga-buku-harian.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bacaan Sastra Minim, Siswa Pun Kurang Berminat</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/bacaan-sastra-minim-siswa-pun-kurang-berminat.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/bacaan-sastra-minim-siswa-pun-kurang-berminat.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 19:15:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Minta Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Ketersediaan bahan bacaan sastra saat ini sangat terbatas, termasuk di sekolah-sekolah. Di sisi lain, kurikulum pengajaran lebih menekankan pada kebahasaan atau tata bahasa. Faktor-faktor inilah yang antara lain menyebabkan siswa kurang berminat terhadap sastra.
Guru Bahasa Indonesia dan Sastra di SMPN 90 Jakarta Timur, Nefita, Senin (13/10), mengatakan, rendahnya minat terhadap sastra terjadi terutama di sekolah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ketersediaan</strong> bahan bacaan sastra saat ini sangat terbatas, termasuk di sekolah-sekolah. Di sisi lain, kurikulum pengajaran lebih menekankan pada kebahasaan atau tata bahasa. Faktor-faktor inilah yang antara lain menyebabkan siswa kurang berminat terhadap sastra.</p>
<p>Guru Bahasa Indonesia dan Sastra di SMPN 90 Jakarta Timur, Nefita, Senin (13/10), mengatakan, rendahnya minat terhadap sastra terjadi terutama di sekolah minim fasilitas dan bahan bacaan sastra. ”Di sekolah unggulan, minat siswa terhadap sastra cukup tinggi. Bahkan, ada yang sangat menonjol. Sekolah-sekolah demikian tentu siap mengikuti kompetisi di bidang sastra, seperti olimpiade sastra,” ujarnya.<span id="more-18"></span></p>
<p>Akan tetapi, tidak demikian di sekolah yang serba terbatas. Dia mencontohkan, sekolah tempatnya mengajar di SMPN 90 yang terletak di kawasan industri, Jatinegara Kawung. Sebagian besar wali murid bekerja sebagai buruh pabrik. Sangat sulit mengharapkan anak membeli buku bacaan sastra.</p>
<p>”Jangankan buku sastra, membeli buku teks pelajaran saja sudah sulit,” ujarnya.</p>
<p>Di perpustakaan juga tidak tersedia cukup buku sastra. Nefita yang pernah menjadi pengurus perpustakaan di sekolah tersebut mengatakan, seharusnya minimal terdapat 50 judul buku sastra. Namun, di sekolah tersebut jumlah yang tersedia hanya sekitar 20 judul.</p>
<p><strong>Lebih ke tata bahasa</strong></p>
<p>Kurikulum pengajaran juga tidak mengacu kepada bagaimana agar siswa menggali sastra. Muatan kurikulum yang ada, sekitar 80 persen muatan kebahasaan atau tata bahasa Indonesia dan sisanya barulah tentang sastra.</p>
<p>Hal senada dikemukakan oleh Syamsudin, guru Bahasa Indonesia dan Sastra SMAN 35 Jakarta Pusat. Keberadaan guru-guru kreatif dan bahan bacaan sangat memengaruhi minat dan kemajuan pembelajaran sastra di sekolah. ”Gurunya harus mengerti sastra dan ditunjang buku bacaan di sekolah,” katanya.</p>
<p>Di SMAN 35, guru Bahasa Indonesia dan Sastra merupakan guru-guru senior di bidang tersebut. Bahan bacaan juga tersedia lengkap di sekolah yang Jurusan Bahasa dan Sastra berada di peringkat dua DKI Jakarta.</p>
<p>Hanya saja, gengsi terhadap Jurusan Bahasa dan Sastra memang masih dirasa kurang. Tak heran jika kemudian sedikit sekolah yang membuka jurusan tersebut dan memilih membuka jurusan Ilmu Pengetahuan Alam.</p>
<p>”Untuk jurusan IPA dan IPS, sekitar 70 persen kurikulum bahasa lebih ke arah tata bahasa dan sisanya baru sastra,” ujarnya.</p>
<p>Supaya anak tertarik dengan sastra, Syamsudin tidak sekadar menekankan kepada teori, melainkan juga praktik. Melalui kegiatan praktik akan terbentuk karakter dan tergali minat anak di bidang sastra. Sebagai contoh, Syamsudin memberikan tugas kepada anak untuk mewawancarai orang terkenal dan menulis laporannya. Terkadang mereka berlatih drama.</p>
<p><strong>Olimpiade sastra</strong></p>
<p>Gagasan olimpiade sastra di sisi lain mendapatkan dukungan dari para guru tersebut. Melalui olimpiade tersebut, Nefita mengatakan, apresiasi dan kecintaan siswa terhadap sastra akan meningkat. Anak termotivasi mempelajari sastra dan berusaha keras mengembangkan sastra dan menghasilkan karya yang baik.</p>
<p>” Anak yang berbakat di bidang tersebut juga bisa menggali minatnya,” katanya.</p>
<p>Guru pun akan belajar dan meningkatkan pengetahuannya seiring dengan membina anak- anak untuk ikut serta dalam ajang tersebut. <strong>(Kompas Cetak, 14/10/08)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/bacaan-sastra-minim-siswa-pun-kurang-berminat.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
