<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Taman Baca Guahira &#187; Buku</title>
	<atom:link href="http://tamanbaca.guahira.com/category/buku/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tamanbaca.guahira.com</link>
	<description>Karena membaca adalah jendela dunia...</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jul 2010 03:39:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kisah di Balik Tiga Buku Harian</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/kisah-di-balik-tiga-buku-harian.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/kisah-di-balik-tiga-buku-harian.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 11:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>
		<category><![CDATA[Anne Frank]]></category>
		<category><![CDATA[buku harian]]></category>
		<category><![CDATA[Dang Thuy Tram]]></category>
		<category><![CDATA[Ramon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[SEBUAH buku harian menjadi terkenal karena si empunya buku itu memang tokoh. Buku harian juga terkenal karena memberi pengetahuan mengenai suatu peristiwa pada suatu masa. Akan tetapi, tidak sedikit buku harian menjadi terkenal karena penemuannya yang berliku dan unik.
Buku harian Ilan Ramon yang dipamerkan di Jerusalem pada awal Oktober mungkin merupakan buku harian yang sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEBUAH buku harian menjadi terkenal karena si empunya buku itu memang tokoh. Buku harian juga terkenal karena memberi pengetahuan mengenai suatu peristiwa pada suatu masa. Akan tetapi, tidak sedikit buku harian menjadi terkenal karena penemuannya yang berliku dan unik.</p>
<p>Buku harian Ilan Ramon yang dipamerkan di Jerusalem pada awal Oktober mungkin merupakan buku harian yang sangat unik. Ramon adalah astronot pertama Israel yang tewas saat pesawat ulang alik Amerika Serikat Columbia meledak saat memasuki atmosfer Bumi pada 1 Februari 2003. Semua korban tewas. Namun, sebagian reruntuhan pesawat yang jatuh dari ketinggian 37 mil dari Bumi ada yang bisa ditemukan.<span id="more-20"></span><br />
Buku harian Ramon, seperti dikutip Associated Press, ditemukan setelah dua bulan peristiwa terjadi. Badan luar angkasa AS, NASA, menemukan 37 halaman buku harian Ramon dalam kondisi basah di sebuah lapangan di kota Palestine, Texas. Buku harian ini tergolong mujur, terhindar dari kerusakan akibat panas ekstrem saat ledakan. Tidak rusak akibat mikroorganisme saat ditemukan.</p>
<p>Banyak kalangan mengaku heran dan menganggap sebagai suatu keajaiban serta sulit dicari logikanya hingga benda itu masih selamat. Dari sejumlah kejadian sejenis selama ini, benda- benda seperti itu tak bisa ditemukan.</p>
<p>NASA tidak berkomentar banyak dan menyerahkan buku harian itu kepada istri Ramon, Rona, di Israel. Rona membawa buku harian itu ke ahli forensik di Museum Israel dan polisi.</p>
<p>Para petugas kemudian merestorasi buku harian itu. Setidaknya butuh waktu setahun untuk restorasi. Untuk proses pembacaan, kalangan ilmuwan membutuhkan waktu beberapa lama. Sekitar 80 persen dari buku harian itu berhasil dibaca.</p>
<p>Kisah buku harian yang juga tergolong unik adalah buku harian Dang Thuy Tram, dokter Vietnam yang menangani korban Perang Vietnam. Buku hariannya diterbitkan dalam bahasa Inggris, Last Night I Dreamed of Peace, tahun 2007. Thuy yang merawat pasukan Vietkong berkisah saat ia mulai menjadi dokter pasukan (8 April 1968) hingga dua hari menjelang tewas ditembak 20 Juni 1970.</p>
<p>Riwayat penerbitan buku harian itu berliku-liku. Pada 22 Juni 1970 patroli pasukan AS mendengar radio yang memutar lagu-lagu Vietnam. Pasukan AS memergoki empat orang, salah satunya Thuy.</p>
<p>Pasukan AS menembaki empat orang itu. Dua orang tewas, yaitu Thuy dan Boi (tentara). Dua lainnya lolos. Tentara AS meneliti barang bawaan dua orang yang tewas itu.</p>
<p>Barang-barang itu kemudian diteliti oleh intelijen AS untuk ditentukan kategorinya. Barang yang tidak punya informasi militer dimusnahkan. Fred Whitehurst bertugas menyeleksi. Ia melempar sejumlah barang ke drum pembakaran. Seorang penerjemah, Sersan Nguyen Trung Hieu, meminta agar buku harian Thuy jangan dibakar.</p>
<p>Fred menurutinya. Hieu lantas menerjemahkan buku harian itu. Hati Fred tersentuh oleh kisah-kisah dalam buku harian itu. Ia nekat melanggar aturan ketentaraan dengan membawa buku harian itu ke AS tahun 1972.</p>
<p>Baru tahun 1993 setelah ia keluar dari FBI, Fred mulai memikirkan buku harian itu. Ia punya saudara, Rob, yang mampu berbahasa Vietnam. Buku harian itu mulai diterjemahkan.</p>
<p>Selesai menerjemahkan Maret 2005, mereka membawa buku harian itu ke sebuah konferensi tentang Perang Vietnam di Texas. Mereka bertemu dengan veteran angkatan udara dan memberinya kopi buku harian itu. Dalam beberapa bulan kemudian, veteran ini ke Vietnam mencari keluarga Thuy.</p>
<p>Keluarga Thuy pun berhubungan dengan Fred. Fred berhasil berkomunikasi dengan Kim Tram, adik Thuy, lewat surat elektronik. Pada Agustus 2005 Fred bertemu keluarga Thuy di Hanoi. Selanjutnya, buku itu diterbitkan.</p>
<p>Buku harian Thuy ini dikagumi anak-anak muda Vietnam karena, di samping sifat Thuy yang pemberani dan idealis, buku ini juga berisi roman kasih tak sampai Thuy kepada pemuda bernama M. Kisah ini menjadi sisi lain Perang Vietnam yang sangat menyentuh.</p>
<p>Kisah dua buku harian itu mengingatkan kita pada penemuan buku harian legendaris, The Diary of Anne Frank, yang tidak kalah menariknya.</p>
<p>Buku harian Anne Frank sempat terserak di rumah yang diberi nama Secret Annex di Prinsengrahct 263, Amsterdam. Lembaran-lembaran buku harian itu terserak setelah pasukan Nazi mengubrak-abrik tempat itu dan mengirim para penghuninya ke kamp konsentrasi pada 4 Agustus 1944.</p>
<p>Buku itu ditemukan dua sekretaris di gedung itu, yaitu Miep Gies dan Bep Voskuijl. Saat mereka mengetahui Anne meninggal, keduanya menyerahkan buku harian itu kepada Otto Frank, ayah Anne. Oleh Otto, buku harian Anne diterbitkan setelah beberapa bagian diseleksi. (ANDREAS MARYOTO)</p>
<p><strong>Sumber: Koran Kompas, Rabu, 29 Oktoer 2008</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/kisah-di-balik-tiga-buku-harian.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taman Baca Guahira masuk Koran</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/taman-baca-guahira-masuk-koran.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/taman-baca-guahira-masuk-koran.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 11:34:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[PADA hari Nuzulul Quran 17 Ramadhan 1428 H, secara mengejutkan Taman Baca Guahira dimuat di KORAN HARIAN ACEH. Pada rubrik Fokus koran tersebut, Harian Aceh mengangkat tema baca (iqra) bertepatan dengan hari turunnya Al Quran  yang pertama lkali tentang perintah membaca, &#8220;baca dengan namamu yang menciptakan&#8221;&#8211; Al Alaq.
Berikut tulisan yang saya copy dari situs [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PADA</strong> hari Nuzulul Quran 17 Ramadhan 1428 H, secara mengejutkan Taman Baca Guahira dimuat di KORAN <a href="http://harian-aceh.com" target="_self">HARIAN ACEH</a>. Pada rubrik Fokus koran tersebut, Harian Aceh mengangkat tema baca (iqra) bertepatan dengan hari turunnya Al Quran  yang pertama lkali tentang perintah membaca, <em>&#8220;baca dengan namamu yang menciptakan&#8221;</em>&#8211; Al Alaq.</p>
<p>Berikut tulisan yang saya copy dari situs koran <a href="http://harian-aceh.com">Harian Aceh</a>. Dan terima kasi telah sudi memuaatnya. <span id="more-16"></span></p>
<h2 class="contentheading"><a class="contentpagetitle" href="http://harian-aceh.com/index.php?/Fokus/17-ramadhan-dan-kisah-di-gampong-sejarah.html"> 17 Ramadhan dan Kisah di Gampong Sejarah </a></h2>
<div class="article-tools clearfix">
<div class="article-meta"><span class="createdate"> Rabu, 17 September 2008 03:09 </span></div>
</div>
<h2 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"><strong>Oleh Thayeb Loh Angen</strong></span></h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Di malam dingin mencekam dan hening kelam tanpa suara di Gua Hira pada 17 Ramadhan yang bersejarah itu,</span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"> <span> </span><span>Nabi Muhammad ketakutan sendiri karena mendapat wahyu pertama yang <span> </span>diturunkan Tuhan. Sekujur tubuh laki-laki Makkah itu tenggelam dalam keringatnya sendiri. Begitulah beratnya menerima sepotong kata dari Tuhan. Malam itu disebut malam nuzulul Quran. </span></span></p>
<div class="img_caption left" style="float: left; width: 317px;"><img class="caption" title="Kautsar lagi memilih-milih buku untuk dibacanya." src="http://harian-aceh.com/images/stories/fokus/kautsar-lagi-melihat-lihat-.jpg" border="0" alt="" align="left" />Kautsar lagi memilih-milih buku untuk dibacanya.</p>
</div>
<p><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kita semua tahu apa isi wahyu pertama itu, wahyu yang membuat sang penerima sakit berhari-hari setelahnya. Pepatah lama kita, ‘dengan membaca, jendela dunia terbuka bagi anda,’ sepenuhnya <span> </span>benar. Hampir s</span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">eribu lima belas abad lalu, kia sudah tahu itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Malam nuzul Quran itu malam titik berangkat sebuah agama langit yang kita anut, agama yang tumbuh pertama di tanah Arab, agama yang bernama Islam. Bagi yang tak mempercayai agama, cukuplah saja mengakui, keyakinan itu sebuah budaya yang bertahan ribuan tahun Gampong kita yang besar ini, Gampong yang bernama Aceh. Bagi Ateis itu bukan mengakui agama, namun mengakui bahwa agama telah jadi fenomenal budaya vital selama ribuan tahun di aGampong kita yang besar ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Di masa silam Aceh, sebelum kemaharajaan bertamaddun tinggi kita diporak-poranda bajingan Belanda, budaya membaca Aceh sangat tinggi bila dibandingkan negeri lain masa itu. Kenyataan lampau itu telah musnah, hanya dapat ditemui sedikit dari secuil pustaka tua, <em>Tgk Chik Tanoh Abee</em>. <span> </span>Kenyataan<span> </span>ini mencerminkan Aceh telah berbudaya jiwa membaca sejak ratusan tahun lalu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ribuan bukti selain pustaka tua itu telah dibumi-apikan Belanda tak beradab di akhir abad sembilan belas Masehi. Namun, lahirnya karya sastra bernilai tinggi nan indah seperti <em>Hikayat Prang Sabi, Hikayat Prang Gompeuni, Hikayat Prang Peuringgi, Hikayat Malem Dagang, Hikayat Putroe Geumbak Meuh, dsb.</em> adalah bukti fenomenal lain, bahwa hanya bangsa yang berbudaya membaca tinggi mampu menghadirkan karya sastra bermutu tinggi nan indah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Telah diakui peneliti Barat, <em>Hikayat Prang Sabi,</em> sepanjang sejarah manusia, satu-satunya puisi panjang yang sanggup mengobarkan api semangat komunitas besar masyarakat untuk berperang sampai menang atau tewas. Mereka bilang, tulisan itu berdaya magis ampuh dari sejuta arwah penyihir yang bersatu dalam puisi sakti.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"><span> </span>Masyarakat Aceh di silam itu membaca hikayat di pedium-pedium seantero Gampong. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Setiap tahun di setiap Gampong kecil dalam Gampong kita yang besar ini, dikukuhkan pertunjukan baca hikayat sampai beberapa kali. Ketika pembacaan hikayat pedium diselenggarkan, masyarakat berbondong-bondong menyaksikan mendengar pembacaan puisi balada berirama syahdu itu dalam temaram purnama. Ya, temaram purnama, karena baca hikayat dibuat ketika bulan terang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ibu-ibu membawa tikar, ayunan bayi, makanan ringan, selimut, bekal menyaksikan pembacaaan hikayat oleh penyair di pedium berlampu panyot culot, yang biasanya sampai dini hari setiap malam dalam sepekan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Masa itu, naskah harus ditulis manual, belum lahir Guttenberg, bocah jenius berkebangsaan Jerman, penemu mesin cetak itu. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Agar dapat dinikmati public, maka, dilaksanakan pembacaan puisi balada itu di podium dengan persiapan matang. Berbeda dengan penikmat karya tulis zaman ini yang bisa mendapatkan buku sebanyak yang diinginkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Sudah tiba masanya kita panggil kembali roh suka membaca rakyat Aceh yang sudah hilang lebih seratus tahun bersama perang licik. Dalam hal ini pemerintah Aceh sekarang seyogyanya membuat iklan-iklan penyeru membudayakan membaca masyarakat Aceh. Buatlah baliho-baliho, spanduk-spanduk seantero Aceh, iklankan di media elektronik, dan selipkan seruan tak lansung dalam klip-klip film dan lagu Aceh sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"><span> </span>Fasilitasilah media baca, seperti bulletin-buletin berisi pesan moral, dsb. Jika hal ini dilakukan, perlahan-lahan Aceh akan maju dalam berfikir, tidak lagi preh dahoh dan peusalah gop. Selain pemerintah, ulama-ulama pun harus menganjurkan gemar membaca pada masyarakat kita. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ulama dan tokoh Aceh seyogyanya mensensor buku-buku yang tersebar di toko buku komersial seAceh. Artinya sederhana, tokoh agama dan tokoh masyarakat harus lebih dahulu membaca buku-buku itu agar tahu mana buku yang sesuai dengan islam dan mana buku sekuler materialis. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Hal ini ironi, mengingat ulama kini mencibir buku-buku yang<span> </span>berserakan di toko, tetapi, para pelajar, mahasiswa, masyarakat pencinta buku, membacanya. Sehingga pemikiran-pemikiran yang tergelincir dari tauhid diserap mayarakat. Pemikiran rakyat Aceh terbelah karenanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"><span> </span>Sedangkan Teungku-Tengku sibuk dengan kebijaksanaan beragama secara konvesional, tanpa menyadari, hati umat Islam Aceh telah dicuri orang dari jauh. Jauh sekali, sehingga takkan mungkin dipanggil pulang bertahun-tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ibarat mau mengalahkan pencuri professional, orang harus belajar trik pencuri agar dapat mengantisipasi kejahatannya. Begitu pun tokoh agama dan tokoh masyarakat Aceh harus membaca buku-buku itu, sebagai perbandingan agar dapat menyelamatkan ummat yang tauhidnya kurang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Pemerintah dan ulama sudah saatnya membudayakan membaca rakyat Aceh, memfasilitasi mendapatkan buku-buku bermutu yang sesuai ajaran nabi Muhammmad Saw. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Begitulah, jika mau Aceh bermartabat, kita harus kembali kepada ayat alquran yang pertama diturunkan seperti endatu-endatu kita. Semoga Allah Swt. merahmati mereka di alam baqa sana. Semoga kita cucu-cucunya dapat membaca tanda-tanda zaman ini. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Amin!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Begitulah, kalau kita mau Gampong kita yang besar ini maju. Kalau kita tak melakukannya, boleh saja, tapi orang di Pulau Jawa itu sudah melakukannya. Tentulah kita tak mau tertinggal seperti kemarin.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">****</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Zaman ini, kita terkesan kurang membaca Al Quran, meski bulan Ramadhan. Umat sibuk di depan televisi menyimak hiburan tidak Islami, hiburan komersial milik kartel India di pulau seberang. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Syukur, bila kita dilahirkan dengan hobi membaca, dapat kawan juga hobi membaca. Dan lebih senang lagi kalau tetangga juga hobi membaca. Apalagi yang hobi membaca puasa memiliki banyak koleksi buku bacaan. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ada juga yang hobi membaca, tapi tak ada koleksi buku untuk membaca. Nah, yang model peminjam buku begini banyak, termasuk penulis ini. Ada juga orang yang merelakan beberapa koleksi buku yang Ia miliki untuk dibaca orang lain.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Perintah membaca dari Tuhan kita mencakup dua dimensi, yakni, tersurat dan tersurat.<span> </span>Ada yang pintar membaca keduanya. Secara tersurat terbaca di naskah Quran, dan membaca keadaan sekitar disebut tersirat. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kisah di Sebuah Gampong </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kendati kesejahteraan Gampong itu pada tingkat menengah, pengaruh yang tidak sehat terhadap siswa, pelajar, remaja dan pemuda desa pastilah ada. Penyakit sosial masyarakat telah berkeliaran di sana, menancapkan pengaruh, yaitu narkoba, pergaulan tidak sehat dan kurangnya sarana untuk menyalurkan kegiatan yang positif.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Rasa kegelisahan tersebut sangat menghantui orang tua terhadap perkembangan anak-anaknya. <span> </span>Fahmi, seorang pemuda gampong Muenasah Timu pun merasakan keresahan itu. Ia menginginkan remaja dan pemuda di Gampong itu mengisi hari-hari luangnya dengan kegiatan yang positif.</span></p>
<div class="img_caption left" style="float: left; width: 300px;"><img class="caption" title="Taman Baca Masyarakat Guahira yang dikelola oleh Yayasan Guahira Community di desa Kelurahan matangglumpangdua, Meunasah Timu, Peusangan-Bireuen." src="http://harian-aceh.com/images/stories/fokus/taman-baca-guahira.jpg" border="0" alt="" width="300" height="366" align="left" />Taman Baca Masyarakat Guahira yang dikelola oleh Yayasan Guahira Community di desa Kelurahan matangglumpangdua, Meunasah Timu, Peusangan-Bireuen.</p>
</div>
<p><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Untuk mewujudkannya, Fahmi mengajak remaja dan pemuda <span> </span>sekitar rumahnya untuk mengisi waktu luang dengan belajar. Syukur, keinginan tersebut disambut baik oleh adek-adek <span> </span>sekitar rumahnya. Ia juga merelakan beberapa koleksi buku yang Ia miliki untuk dibaca orang lain. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kebetulan, di depan rumah Fahmi, ada sebuah kios kosong yang tidak di pakai lagi. Kios yang dibangun tahun 1990 berdinding papan sudah nampak renggang. Kios itu kalau dilihat dari depan sudah miring ke kanan dan atapnya bocor.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kios itu pun dibersihkan oleh para muda penyuka baca. Atapnya yang bocor ditempel kembali. Untuk plafon mereka pakek bungkusan zak semen, senagai alternatif karena tak sanggup beli triplek. Lalu, agar sedikit artistik mereka dekor model stalakmit dalam sebuah gua. Setelah selesai, akhirnya kios yang memang dasarnya jelek itu jadilah sulapan sebuah lorong dalam gua dan gelap.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Karena tempat ini akan jadi tempat berteduh untuk membaca dan belajar, penyuka baca di sana pun memberi nama Guahira. Nama itu mereka adopsi dari nama Gua Hira’, tempat pertama kali turunnya ayat ayat Al Quran di waktu Nabi Muhammad Saw ber-khalwat di gua angker tersebut. Ayat itu menerangkan, “Allah menciptakan manusia dari benda yang hina. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kemudian memuliakan manusia dengan mengajar membaca, menulis dan memberinya pengetahuan. Tetapi <span> </span>konon, manusia tidak ingat lagi akan asalnya, karena itu ada manusia yang tidak mensyukuri nikmat Allah, bahkan ada yang <span> </span>bertindak melampaui batas karena melihat dirinya telah merasa serba cukup.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Setelah satu bulan menepati tampat baca baru, para penyuka baca di Gampong kecil itu ngumpul bersama dan mengajak kawan lain untuk belajar bersama di komunitas itu. Masyarakat di sekitar pun amat <span> </span>mendukung kegiatannya. Seiring penambahan anggota baru, koleksi buku pustaka itu pun bertambah. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Penyuka baca Gampong termaksud <span> </span>membentuk komunitas di rumah hadiah guna itu. Rumah baca pun jadilah tempat kajian keislaman dan umum, juga jadi tempat belajar komputer . Bersama berjalannya waktu,<span> </span>mereka sepakat membentuk taman bacaan gampong.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Taman bacaan itu terealisasi berkat penyuka baca yang bersatu dan bersemangat tinggi. Mereka mencari alamat baru untuk Guahira, yaitu <a href="http://www.guahira.or.id/">http://www.guahira.or.id</a>. Perintah bacalah <span> </span>mereka praktikkan, dan akhirnya mereka pintar membaca, lalu lahirlah situs itu. Itu hanya satu contoh dekat gebrakan membaca di Gampong kita yang besar ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Pada satu kesempatan, penyuka baca Gampong itu mendapat tambahan buku, yang terbanyak disumbangkan oleh keluarga (Alm) Zulkifli, pengelola toko buku ‘Pustaka Almuslim’. Berkat sumbanganya, pustaka mini itu dapat mengeloksi ratusan buku. Tentulah para penyuka baca di sana girang dan melompat bagai anak ayam kedapatan sebuah kamtung jagung.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Setelah melihat komunitas baca itu berkembangan pesat dan masyarakat Gampong itu mendukung, para pengurus belajar dan menbaca itu didaftarkan menjadi sebuah lembaga kuat dan berbadan hukum. Tepat pada 20 Desember 2003 kelompok belajar Guahira resmi menjadi Yayasan berdasarkan akte Notaris Abdullah Ismail, SH. Akte dengan NOMOR:15.HT.20.12-TH.2003.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Gampong kecil itu bernama Meunasah Timu, sebuah Gampong<span> </span>secara administrasi masuk dalam Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Meunasah Timu memiliki luas wilayah 47,3 ha dengan 19 ha adalah sawah. Gampong<span> </span>kecil itu punya tiga lingkungan, yakni, lingkungan T. Assalam, lingkungan T. Cut Ali dan lingkungan Affan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Bila mahu ke Gampong kecil itu, mudah saja, kita naik kenderaan darat <span> </span>selama kira-kira 15 menit,<span> </span>kita tempuh jalan sejauh 10 km dari pusat kota kabupaten Bireuen. Dan tibalah di Gampong kecil itu. Lokasinya di tepi utara pusat kota Matangglumpangdua, ibu kota Kecamatan Peusangan yang terkenal dengan Sate Matang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Masyarakat Menasah Timu mempunyai karakteristik urban tingkat kesejahteraan berada pada tingkat menengah. Jumlah penduduk mencapai 1756 orang dengan jumlah kepala keluarga (KK) sebanyak 370. Mayoritas penduduknya berprofesi PNS. <span> </span>Bila kita rinci, 50 persen PNS, wiraswasta 35 persen, petani sebanyak 10 persen, dan lain-lain 5 persen.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Suatu ketika, pengelola uang takziah Aceh-Nias membuat program pendirian Taman Bacaan Masyarakat (TBM) <span> </span>di Gampong itu melalui Satket terkait propinsi Aceh. Maka Yayasan Guahira Community Meunasah Timu, Kelurahan Matang Glumpangdua, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, dipercayakan untuk mengelola TBM tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Begitulah kisah para penyuka baca di Gampong kecil itu. Dan pada Rabu, 11 Juli 2007, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen, meresmikan <em>Taman Bacaan Masyarakat Guahira Community</em> di Gampong itu. Taman Baca Guahira pun jadi TBM pertama dan sampai kini satu-satunya di Kabupaten Bireuen. Taman Bacaan Guahira dikelola oleh Yayasan Guahira. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kisah tadi hanya satu di antara sekian banyak kisah di Gampong kecil seantero Aceh. Kita bisa melihat sendiri, apa yang berguna dan apa yang sia-sia dilakukan. Terserah saja. Di Gampong kita yang besar ini tidak ada peraturan tentang menempuh cara hidup. Gampong kita ini adalah Gampong tak bertuan. Masing masing tokoh kita hanya pikirkan diri dan keluarganya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Gampong kita ini sedang menghadapi pancaroba identitas dirinya yang hilang ditelan musim tak bernama, di ujung sebuah keputusan tak terbukti. Gampong kita yang besar ini sedang mencari kesempurnaan yang telah puluhan tahun ditinggalkan orang, karena itu dianggap kuno.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Tidak ada yang pasti di Gampong kita ini. Nuzulul Quran tak pernah diperingati lagi. Kalu pun ada hanya seremoni, bukan menghayati pesan Tuhan dalam ayat itu. Mungkin pula kita menganggap <span> </span>peringatan malam turun wahyu pertama untuk Nabi Muhammad itu memang tak perlu sama sekali. <span> </span>Lihatlah sendiri di Gampong kita yang besar ini. Kesejatian Quran telah hilang semisal hilangnya kelam karena pagi datang. Kesejatian Quran hanya waktu MTQ dan di meunasah tuha yang lampunya sering mati akhir-akhir ini. Lampu wahyu bercahaya pedoman hidup manusia sebagian memang telah padam.[]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/taman-baca-guahira-masuk-koran.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
