<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Taman Baca Guahira &#187; Minat Baca</title>
	<atom:link href="http://tamanbaca.guahira.com/category/minat-baca/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tamanbaca.guahira.com</link>
	<description>Karena membaca adalah jendela dunia...</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jul 2010 03:39:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Minat Baca Masyarakat Terus Diupayakan Peningkatan</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/minat-baca-masyarakat-terus-diupayakan-peningkatan.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/minat-baca-masyarakat-terus-diupayakan-peningkatan.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 08:38:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamanbaca.guahira.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Sigli, Seputar Aceh – saat ini Pemerintah Aceh terus mengupayakan peningkatan minat baca masyarakat. Untuk itu, Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh, membangun 600 lebih perpustakaan yang disebar di gampong-gampong seluruh Aceh. Program tersebut sudah dimulai Januari  2007 lalu.
“Pembangunan 600 lebih perpustakaan sebagai program menumbuhkan minat baca masyarakat, sehingga mereka tidak buta huruf,” kata Kepala Badan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sigli, Seputar Aceh</strong> – saat ini Pemerintah Aceh terus mengupayakan peningkatan minat baca masyarakat. Untuk itu, Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh, membangun 600 lebih perpustakaan yang disebar di gampong-gampong seluruh Aceh. Program tersebut sudah dimulai Januari  2007 lalu.</p>
<p>“Pembangunan 600 lebih perpustakaan sebagai program menumbuhkan minat baca masyarakat, sehingga mereka tidak buta huruf,” kata Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Propinsi Aceh, Kamaruddin Husen Kamis (19/11).</p>
<p>Kata Kamaruddin, selain membangun perpusatakaan, yang paling yang harus dilakukan tentunya memberikan fasilitas buku-buku bacaan. Selain itu ia juga mengatakann, upaya untuk menumbuh kembangkan minat baca itu tentunya tidak dapat dilakukan tanpa adanya dukungan dari masyarakat.</p>
<p>“Kita bisa melakukan apa saja jika ada dukungan dari masyarakat,”.</p>
<p>Untuk itu Kamaruddin meminta kepada seluruh masyarakat Aceh agar tetap mendukung upaya pemerintah dalam menumbuh kembangkan minat baca. Sehingga hasil yang dicapai nantinya terasa dan berguna. “Saya optimis minat baca di Aceh setiap tahun akan meningkat,” kata dia. <strong>[sa-amr]</strong></p>
<p><strong>Sumber: <a href="http://seputaraceh.com" target="_self">seputaraceh.com</a><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/minat-baca-masyarakat-terus-diupayakan-peningkatan.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TBM Guahira Ikut Lomba Jambore 1000 PTK-PNF 2009</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/tbm-guahira-ikut-lomba-jambore-1000-ptk-pnf-2009.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/tbm-guahira-ikut-lomba-jambore-1000-ptk-pnf-2009.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 05:06:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Taman baca Guahira mengikuti lomba karya nyata Jambore 1000 PTK-PNF 2009 tingkat provinsi Aceh yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal (PTK-PNF) pada 28-29 Juli 2009 di Asrama Haji Banda Aceh.
Perlombaan yang diikuti oleh TBM Guahira Community pada lomba Jambore 1000 PTK-PNF ada dua bagian perlommbaan karya nyata,  TBM dan bagian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Taman </strong>baca Guahira mengikuti lomba karya nyata Jambore 1000 PTK-PNF 2009 tingkat provinsi Aceh yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal (PTK-PNF) pada 28-29 Juli 2009 di Asrama Haji Banda Aceh.</p>
<p>Perlombaan yang diikuti oleh TBM Guahira Community pada lomba Jambore 1000 PTK-PNF ada dua bagian perlommbaan karya nyata,  TBM dan bagian IT. Pada bagian TMB menyangkut dengan &#8220;manajemen Taman Baca Masyarakat dan di bagian IT, &#8220;pengenbangan website lembaga&#8221;.</p>
<p>Pada bagian lomba IT, blog http://tbm.guahira.or.id kami ikut sertakan pada lomba karya nyata Jambore 1000 PTK-PNF.</p>
<p>Semoga lomba karya nyata Janmbore 1000 PTK-PNF tingkat provinsi Aceh mendapatkan web lembaga yang akan mengikutidi tingkat nasional, di Yogyakarta.[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/tbm-guahira-ikut-lomba-jambore-1000-ptk-pnf-2009.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumanto, Pustakawan Terbaik</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/sumanto-pustakawan-terbaik.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/sumanto-pustakawan-terbaik.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 15:19:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Berkeliling dengan sepeda onthel untuk menyewakan buku secara cuma-cuma adalah aktivitas sehari-hari Sumanto, selama empat tahun sebelum gempa melanda Bantul pada 2006. Setelah gempa, aktivitas keliling itu tetap dilakukannya. Namun, dia tak lagi menggunakan sepeda onthel, tetapi dengan sepeda motor beroda tiga, sumbangan dari orang yang bersimpati kepadanya.
Kegiatan menyewakan buku-buku itu mulai digeluti Sumanto sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Berkeliling</strong> dengan sepeda onthel untuk menyewakan buku secara cuma-cuma adalah aktivitas sehari-hari Sumanto, selama empat tahun sebelum gempa melanda Bantul pada 2006. Setelah gempa, aktivitas keliling itu tetap dilakukannya. Namun, dia tak lagi menggunakan sepeda onthel, tetapi dengan sepeda motor beroda tiga, sumbangan dari orang yang bersimpati kepadanya.</p>
<p>Kegiatan menyewakan buku-buku itu mulai digeluti Sumanto sejak tahun 2003. Pengalamannya menjadi tenaga survei dalam proyek pengentasan kemiskinan telah membuka matanya akan arti pentingnya membaca bagi masyarakat di lapisan apa pun.<span id="more-21"></span></p>
<p>”Dalam kegiatan survei itu, saya melihat banyak kemiskinan di sekitar desa saya. Salah satu penyebabnya karena minimnya tradisi membaca. Ini pun berkaitan dengan kesulitan mereka untuk membeli buku,” katanya.</p>
<p>Dengan koleksi sekitar 500 buku, Sumanto lalu mendirikan perpustakaan swadaya di rumahnya. Perpustakaan itu diberinya nama Mitra Tema. Memanfaatkan ruangan berukuran 2 x 6 meter, ia menata koleksi buku-bukunya.</p>
<p>Namun, Sumanto tak hanya berharap pada pengunjung yang mau datang ke rumahnya. Dia juga menjajakan buku-bukunya berkeliling ke berbagai tempat dengan sepeda onthel-nya.</p>
<p>”Saya harus berkeliling untuk ’menjemput bola’. Tidak mungkin saya hanya mengandalkan pembaca yang mau datang ke rumah. Kan, saya yang ingin mengajak masyarakat agar banyak membaca,” ceritanya.</p>
<p>Semua itu dikerjakan Sumanto nyaris tanpa pamrih apa pun. Ia tidak dibayar oleh siapa pun, dan ia juga meminjamkan koleksi buku-bukunya secara gratis. Untuk mencukupi kebutuhannya, ia membudidayakan pisang dan singkong.</p>
<p>”Saya tetap harus menghidupi istri dan anak-anak saya. Selain bertani, saya juga harus bekerja di bidang bangunan,” kata Sumanto.</p>
<p>Ketika koleksi bukunya masih sedikit, Sumanto menyiasatinya dengan kreatif. Ia bekerja sama dengan perpustakaan keliling milik Pemerintah Kabupaten Bantul. Sistem kerja samanya, Sumanto bersedia mencarikan anggota baru bagi perpustakaan keliling asal ia bisa meminjam buku untuk kemudian dipinjamkannya lagi.</p>
<p>”Waktu itu belum banyak yang mau menyumbangkan buku. Kalau hanya mengandalkan koleksi saya sendiri, masyarakat pasti jenuh juga. Makanya, saya bekerja sama dengan perpustakaan keliling, yang waktu kunjungannya tidak terlalu sering,” katanya.</p>
<p>Lambat laun usaha Sumanto mulai mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Sumbangan buku kemudian terus mengalir. Kini, koleksinya sekitar 20.000 judul buku. Kondisi itu membuat dia makin bersemangat untuk mengajak masyarakat gemar membaca.</p>
<p>Saat gempa menimpa Bantul pada 27 Mei 2006, sebagian rumah Sumanto hancur, termasuk bangunan perpustakaan. Sekitar 3.000 buku rusak. Keterpurukannya itu mengundang simpati seorang distributor buku.</p>
<p>”Orang itulah yang membantu membangun kembali ruang perpustakaan,” katanya.</p>
<p><strong>Sepeda motor</strong></p>
<p>Pasca-gempa ia juga mendapatkan bantuan sepeda motor beroda tiga. Dengan fasilitas lebih baik, Sumanto bisa membawa sekitar 400 buku setiap kali berkeliling. Dulu, sewaktu menggunakan sepeda onthel, ia hanya mampu membawa 60 buku.</p>
<p>Wilayah kunjungannya juga makin luas. Kalau dulu ia hanya mampu menjangkau 52 titik di empat kecamatan (Imogiri, Pleret, Jetis, dan Bantul), belakangan bertambah menjadi 89 titik. Ada tiga kecamatan baru yang dirambahnya, yakni Sewon, Pundong, dan Bambanglipuro.</p>
<p>Titik-titik kunjungan perpustakaan kelilingnya berupa masjid, panti asuhan, toko-toko, dan kantor-kantor pemerintahan. Untuk lokasi yang pembacanya anak-anak, Sumanto memilih berkeliling seusai jam sekolah. Adapun untuk pembaca umum, biasanya ia datangi pada pagi atau sore hari.</p>
<p>Kegigihan Sumanto itu membuat jumlah peminjam terus bertambah. Selama tahun 2007, jumlah peminjam buku di perpustakaannya mencapai 7.156 orang, sedangkan pengunjung perpustakaan sampai 20.320 orang.</p>
<p>Meski tak memiliki latar belakang bidang perpustakaan, Sumanto tergolong piawai dalam mengelola perpustakaan. Buku-buku koleksinya dibagi menjadi kategori SD, SMP, SMA, agama, dan umum.</p>
<p>”Sistem pengelolaan itu saya pelajari dari perpustakaan milik Provinsi DIY di Jalan Malioboro. Kebetulan sewaktu SMA, saya sering nongkrong di tempat itu,” katanya.</p>
<p>Untuk membantu pengelolaan perpustakaan sewaktu ia berkeliling, Sumanto mempekerjakan seorang pegawai di perpustakaannya dengan upah Rp 300.000 per bulan.</p>
<p>Agar ia bisa membayar pegawainya itu, sang istri membuka tempat penitipan anak dengan tarif seikhlasnya. Beberapa keluarga yang menitipkan anak mereka pun memberinya sekitar Rp 50.000 per minggu. Selain itu, Sumanto juga menyewakan empat unit komputer dengan tarif Rp 500 per jam.</p>
<p>Jerih payah dan semangat Sumanto untuk menarik masyarakat agar gemar membaca, membuahkan hasil. Usahanya mengembangkan perpustakaan swadaya mendapat penghargaan dari Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta. Ia antara lain menerima piagam Rekso Pustoko Bakti Tomo.</p>
<p>Ia berkisah, menjadi pustakawan bukan impiannya. Meski dilahirkan di Bantul, tetapi sejak 1982 Sumanto merantau ke Jakarta. Selama sekitar 13 tahun, dia bekerja di PT Astra International. Namun, ritme kerja yang cepat rupanya tak cocok baginya. Sumanto merasa teralineasi secara sosial. Ia lalu mengundurkan diri saat menempati posisi sebagai kepala stok mobil.</p>
<p>Setelah itu, ia berusaha mencari pekerjaan baru yang relatif tak terlalu mengikat dari segi waktu. Pilihannya jatuh di bidang asuransi.</p>
<p>Akan tetapi, mengingat kondisi orangtuanya di Bantul, Sumanto kemudian memutuskan kembali ke Bantul dengan segala risiko, terutama dari sisi finansial. Tujuannya satu, ingin mendampingi orangtua sebagai bentuk pengabdian seorang anak.</p>
<p>Sesampai di desa, ia sempat bingung tak punya pekerjaan tetap. Semua tawaran kerja dilakoninya, termasuk menjadi anggota tim survei Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP). Di sinilah ia banyak bergelut dengan dunia kemiskinan. Ia melihat kemiskinan itu berkaitan dengan minat baca masyarakat. Di sinilah inspirasi mendirikan perpustakaan itu muncul.</p>
<p>”Memang sudah ada beberapa perpustakaan di Bantul, tetapi sayangnya, sebagian besar malah mati. Penyebab utamanya, ya, sumber daya manusia. Makanya, saya yakin bisa mengelola perpustakaan asal ada kemauan kuat dari diri sendiri,” katanya. (<a href="http://cetak.kompas.com">Kompas Cetak</a>)</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"><br />
DATA DIRI</span></strong></p>
<p><strong>Nama:</strong> Sumanto</p>
<p><strong>Lahir:</strong> Bantul, DI Yogyakarta, 12 Mei 1961</p>
<p><strong>Alamat:</strong> Dusun Jati, Desa Sriharjo, Imogiri, Bantul</p>
<p><strong>Istri:</strong> Siti Mardila (48)</p>
<p><strong>Anak:</strong></p>
<p>- Alfi Miranti Hanifah (almarhumah)</p>
<p>- Merviana Aulia (19)</p>
<p>- Baihaqi Handono (16)</p>
<p>- Ariyanti Latifah (14)</p>
<p><strong>Pendidikan:</strong></p>
<p>- SD Sriharjo, Imogiri, Bantul</p>
<p>- SMP Muhammadiyah I, Imogiri, Bantul</p>
<p>- SMA Putra Bakti Pleret, Bantul</p>
<p><strong>Pekerjaan:</strong></p>
<p>- PT Astra International</p>
<p>- Nabasa Life Insurance</p>
<p>- Asuransi Panin</p>
<p><strong>Penghargaan:</strong></p>
<p>- Piagam Rekso Pustoko Bakti Tomo dari Pemprov DI Yogyakarta, 2006</p>
<p>- Juara II lomba Jambore Reading Club, 2008</p>
<p>- Pengelola Perpustakaan Terbaik Bantul, 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/sumanto-pustakawan-terbaik.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bacaan Sastra Minim, Siswa Pun Kurang Berminat</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/bacaan-sastra-minim-siswa-pun-kurang-berminat.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/bacaan-sastra-minim-siswa-pun-kurang-berminat.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 19:15:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Minta Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Ketersediaan bahan bacaan sastra saat ini sangat terbatas, termasuk di sekolah-sekolah. Di sisi lain, kurikulum pengajaran lebih menekankan pada kebahasaan atau tata bahasa. Faktor-faktor inilah yang antara lain menyebabkan siswa kurang berminat terhadap sastra.
Guru Bahasa Indonesia dan Sastra di SMPN 90 Jakarta Timur, Nefita, Senin (13/10), mengatakan, rendahnya minat terhadap sastra terjadi terutama di sekolah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ketersediaan</strong> bahan bacaan sastra saat ini sangat terbatas, termasuk di sekolah-sekolah. Di sisi lain, kurikulum pengajaran lebih menekankan pada kebahasaan atau tata bahasa. Faktor-faktor inilah yang antara lain menyebabkan siswa kurang berminat terhadap sastra.</p>
<p>Guru Bahasa Indonesia dan Sastra di SMPN 90 Jakarta Timur, Nefita, Senin (13/10), mengatakan, rendahnya minat terhadap sastra terjadi terutama di sekolah minim fasilitas dan bahan bacaan sastra. ”Di sekolah unggulan, minat siswa terhadap sastra cukup tinggi. Bahkan, ada yang sangat menonjol. Sekolah-sekolah demikian tentu siap mengikuti kompetisi di bidang sastra, seperti olimpiade sastra,” ujarnya.<span id="more-18"></span></p>
<p>Akan tetapi, tidak demikian di sekolah yang serba terbatas. Dia mencontohkan, sekolah tempatnya mengajar di SMPN 90 yang terletak di kawasan industri, Jatinegara Kawung. Sebagian besar wali murid bekerja sebagai buruh pabrik. Sangat sulit mengharapkan anak membeli buku bacaan sastra.</p>
<p>”Jangankan buku sastra, membeli buku teks pelajaran saja sudah sulit,” ujarnya.</p>
<p>Di perpustakaan juga tidak tersedia cukup buku sastra. Nefita yang pernah menjadi pengurus perpustakaan di sekolah tersebut mengatakan, seharusnya minimal terdapat 50 judul buku sastra. Namun, di sekolah tersebut jumlah yang tersedia hanya sekitar 20 judul.</p>
<p><strong>Lebih ke tata bahasa</strong></p>
<p>Kurikulum pengajaran juga tidak mengacu kepada bagaimana agar siswa menggali sastra. Muatan kurikulum yang ada, sekitar 80 persen muatan kebahasaan atau tata bahasa Indonesia dan sisanya barulah tentang sastra.</p>
<p>Hal senada dikemukakan oleh Syamsudin, guru Bahasa Indonesia dan Sastra SMAN 35 Jakarta Pusat. Keberadaan guru-guru kreatif dan bahan bacaan sangat memengaruhi minat dan kemajuan pembelajaran sastra di sekolah. ”Gurunya harus mengerti sastra dan ditunjang buku bacaan di sekolah,” katanya.</p>
<p>Di SMAN 35, guru Bahasa Indonesia dan Sastra merupakan guru-guru senior di bidang tersebut. Bahan bacaan juga tersedia lengkap di sekolah yang Jurusan Bahasa dan Sastra berada di peringkat dua DKI Jakarta.</p>
<p>Hanya saja, gengsi terhadap Jurusan Bahasa dan Sastra memang masih dirasa kurang. Tak heran jika kemudian sedikit sekolah yang membuka jurusan tersebut dan memilih membuka jurusan Ilmu Pengetahuan Alam.</p>
<p>”Untuk jurusan IPA dan IPS, sekitar 70 persen kurikulum bahasa lebih ke arah tata bahasa dan sisanya baru sastra,” ujarnya.</p>
<p>Supaya anak tertarik dengan sastra, Syamsudin tidak sekadar menekankan kepada teori, melainkan juga praktik. Melalui kegiatan praktik akan terbentuk karakter dan tergali minat anak di bidang sastra. Sebagai contoh, Syamsudin memberikan tugas kepada anak untuk mewawancarai orang terkenal dan menulis laporannya. Terkadang mereka berlatih drama.</p>
<p><strong>Olimpiade sastra</strong></p>
<p>Gagasan olimpiade sastra di sisi lain mendapatkan dukungan dari para guru tersebut. Melalui olimpiade tersebut, Nefita mengatakan, apresiasi dan kecintaan siswa terhadap sastra akan meningkat. Anak termotivasi mempelajari sastra dan berusaha keras mengembangkan sastra dan menghasilkan karya yang baik.</p>
<p>” Anak yang berbakat di bidang tersebut juga bisa menggali minatnya,” katanya.</p>
<p>Guru pun akan belajar dan meningkatkan pengetahuannya seiring dengan membina anak- anak untuk ikut serta dalam ajang tersebut. <strong>(Kompas Cetak, 14/10/08)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/bacaan-sastra-minim-siswa-pun-kurang-berminat.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taman Baca Guahira masuk Koran</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/taman-baca-guahira-masuk-koran.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/taman-baca-guahira-masuk-koran.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 11:34:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[PADA hari Nuzulul Quran 17 Ramadhan 1428 H, secara mengejutkan Taman Baca Guahira dimuat di KORAN HARIAN ACEH. Pada rubrik Fokus koran tersebut, Harian Aceh mengangkat tema baca (iqra) bertepatan dengan hari turunnya Al Quran  yang pertama lkali tentang perintah membaca, &#8220;baca dengan namamu yang menciptakan&#8221;&#8211; Al Alaq.
Berikut tulisan yang saya copy dari situs [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PADA</strong> hari Nuzulul Quran 17 Ramadhan 1428 H, secara mengejutkan Taman Baca Guahira dimuat di KORAN <a href="http://harian-aceh.com" target="_self">HARIAN ACEH</a>. Pada rubrik Fokus koran tersebut, Harian Aceh mengangkat tema baca (iqra) bertepatan dengan hari turunnya Al Quran  yang pertama lkali tentang perintah membaca, <em>&#8220;baca dengan namamu yang menciptakan&#8221;</em>&#8211; Al Alaq.</p>
<p>Berikut tulisan yang saya copy dari situs koran <a href="http://harian-aceh.com">Harian Aceh</a>. Dan terima kasi telah sudi memuaatnya. <span id="more-16"></span></p>
<h2 class="contentheading"><a class="contentpagetitle" href="http://harian-aceh.com/index.php?/Fokus/17-ramadhan-dan-kisah-di-gampong-sejarah.html"> 17 Ramadhan dan Kisah di Gampong Sejarah </a></h2>
<div class="article-tools clearfix">
<div class="article-meta"><span class="createdate"> Rabu, 17 September 2008 03:09 </span></div>
</div>
<h2 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"><strong>Oleh Thayeb Loh Angen</strong></span></h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Di malam dingin mencekam dan hening kelam tanpa suara di Gua Hira pada 17 Ramadhan yang bersejarah itu,</span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"> <span> </span><span>Nabi Muhammad ketakutan sendiri karena mendapat wahyu pertama yang <span> </span>diturunkan Tuhan. Sekujur tubuh laki-laki Makkah itu tenggelam dalam keringatnya sendiri. Begitulah beratnya menerima sepotong kata dari Tuhan. Malam itu disebut malam nuzulul Quran. </span></span></p>
<div class="img_caption left" style="float: left; width: 317px;"><img class="caption" title="Kautsar lagi memilih-milih buku untuk dibacanya." src="http://harian-aceh.com/images/stories/fokus/kautsar-lagi-melihat-lihat-.jpg" border="0" alt="" align="left" />Kautsar lagi memilih-milih buku untuk dibacanya.</p>
</div>
<p><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kita semua tahu apa isi wahyu pertama itu, wahyu yang membuat sang penerima sakit berhari-hari setelahnya. Pepatah lama kita, ‘dengan membaca, jendela dunia terbuka bagi anda,’ sepenuhnya <span> </span>benar. Hampir s</span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">eribu lima belas abad lalu, kia sudah tahu itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Malam nuzul Quran itu malam titik berangkat sebuah agama langit yang kita anut, agama yang tumbuh pertama di tanah Arab, agama yang bernama Islam. Bagi yang tak mempercayai agama, cukuplah saja mengakui, keyakinan itu sebuah budaya yang bertahan ribuan tahun Gampong kita yang besar ini, Gampong yang bernama Aceh. Bagi Ateis itu bukan mengakui agama, namun mengakui bahwa agama telah jadi fenomenal budaya vital selama ribuan tahun di aGampong kita yang besar ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Di masa silam Aceh, sebelum kemaharajaan bertamaddun tinggi kita diporak-poranda bajingan Belanda, budaya membaca Aceh sangat tinggi bila dibandingkan negeri lain masa itu. Kenyataan lampau itu telah musnah, hanya dapat ditemui sedikit dari secuil pustaka tua, <em>Tgk Chik Tanoh Abee</em>. <span> </span>Kenyataan<span> </span>ini mencerminkan Aceh telah berbudaya jiwa membaca sejak ratusan tahun lalu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ribuan bukti selain pustaka tua itu telah dibumi-apikan Belanda tak beradab di akhir abad sembilan belas Masehi. Namun, lahirnya karya sastra bernilai tinggi nan indah seperti <em>Hikayat Prang Sabi, Hikayat Prang Gompeuni, Hikayat Prang Peuringgi, Hikayat Malem Dagang, Hikayat Putroe Geumbak Meuh, dsb.</em> adalah bukti fenomenal lain, bahwa hanya bangsa yang berbudaya membaca tinggi mampu menghadirkan karya sastra bermutu tinggi nan indah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Telah diakui peneliti Barat, <em>Hikayat Prang Sabi,</em> sepanjang sejarah manusia, satu-satunya puisi panjang yang sanggup mengobarkan api semangat komunitas besar masyarakat untuk berperang sampai menang atau tewas. Mereka bilang, tulisan itu berdaya magis ampuh dari sejuta arwah penyihir yang bersatu dalam puisi sakti.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"><span> </span>Masyarakat Aceh di silam itu membaca hikayat di pedium-pedium seantero Gampong. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Setiap tahun di setiap Gampong kecil dalam Gampong kita yang besar ini, dikukuhkan pertunjukan baca hikayat sampai beberapa kali. Ketika pembacaan hikayat pedium diselenggarkan, masyarakat berbondong-bondong menyaksikan mendengar pembacaan puisi balada berirama syahdu itu dalam temaram purnama. Ya, temaram purnama, karena baca hikayat dibuat ketika bulan terang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ibu-ibu membawa tikar, ayunan bayi, makanan ringan, selimut, bekal menyaksikan pembacaaan hikayat oleh penyair di pedium berlampu panyot culot, yang biasanya sampai dini hari setiap malam dalam sepekan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Masa itu, naskah harus ditulis manual, belum lahir Guttenberg, bocah jenius berkebangsaan Jerman, penemu mesin cetak itu. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Agar dapat dinikmati public, maka, dilaksanakan pembacaan puisi balada itu di podium dengan persiapan matang. Berbeda dengan penikmat karya tulis zaman ini yang bisa mendapatkan buku sebanyak yang diinginkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Sudah tiba masanya kita panggil kembali roh suka membaca rakyat Aceh yang sudah hilang lebih seratus tahun bersama perang licik. Dalam hal ini pemerintah Aceh sekarang seyogyanya membuat iklan-iklan penyeru membudayakan membaca masyarakat Aceh. Buatlah baliho-baliho, spanduk-spanduk seantero Aceh, iklankan di media elektronik, dan selipkan seruan tak lansung dalam klip-klip film dan lagu Aceh sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"><span> </span>Fasilitasilah media baca, seperti bulletin-buletin berisi pesan moral, dsb. Jika hal ini dilakukan, perlahan-lahan Aceh akan maju dalam berfikir, tidak lagi preh dahoh dan peusalah gop. Selain pemerintah, ulama-ulama pun harus menganjurkan gemar membaca pada masyarakat kita. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ulama dan tokoh Aceh seyogyanya mensensor buku-buku yang tersebar di toko buku komersial seAceh. Artinya sederhana, tokoh agama dan tokoh masyarakat harus lebih dahulu membaca buku-buku itu agar tahu mana buku yang sesuai dengan islam dan mana buku sekuler materialis. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Hal ini ironi, mengingat ulama kini mencibir buku-buku yang<span> </span>berserakan di toko, tetapi, para pelajar, mahasiswa, masyarakat pencinta buku, membacanya. Sehingga pemikiran-pemikiran yang tergelincir dari tauhid diserap mayarakat. Pemikiran rakyat Aceh terbelah karenanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"><span> </span>Sedangkan Teungku-Tengku sibuk dengan kebijaksanaan beragama secara konvesional, tanpa menyadari, hati umat Islam Aceh telah dicuri orang dari jauh. Jauh sekali, sehingga takkan mungkin dipanggil pulang bertahun-tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ibarat mau mengalahkan pencuri professional, orang harus belajar trik pencuri agar dapat mengantisipasi kejahatannya. Begitu pun tokoh agama dan tokoh masyarakat Aceh harus membaca buku-buku itu, sebagai perbandingan agar dapat menyelamatkan ummat yang tauhidnya kurang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Pemerintah dan ulama sudah saatnya membudayakan membaca rakyat Aceh, memfasilitasi mendapatkan buku-buku bermutu yang sesuai ajaran nabi Muhammmad Saw. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Begitulah, jika mau Aceh bermartabat, kita harus kembali kepada ayat alquran yang pertama diturunkan seperti endatu-endatu kita. Semoga Allah Swt. merahmati mereka di alam baqa sana. Semoga kita cucu-cucunya dapat membaca tanda-tanda zaman ini. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Amin!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Begitulah, kalau kita mau Gampong kita yang besar ini maju. Kalau kita tak melakukannya, boleh saja, tapi orang di Pulau Jawa itu sudah melakukannya. Tentulah kita tak mau tertinggal seperti kemarin.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">****</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Zaman ini, kita terkesan kurang membaca Al Quran, meski bulan Ramadhan. Umat sibuk di depan televisi menyimak hiburan tidak Islami, hiburan komersial milik kartel India di pulau seberang. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Syukur, bila kita dilahirkan dengan hobi membaca, dapat kawan juga hobi membaca. Dan lebih senang lagi kalau tetangga juga hobi membaca. Apalagi yang hobi membaca puasa memiliki banyak koleksi buku bacaan. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ada juga yang hobi membaca, tapi tak ada koleksi buku untuk membaca. Nah, yang model peminjam buku begini banyak, termasuk penulis ini. Ada juga orang yang merelakan beberapa koleksi buku yang Ia miliki untuk dibaca orang lain.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Perintah membaca dari Tuhan kita mencakup dua dimensi, yakni, tersurat dan tersurat.<span> </span>Ada yang pintar membaca keduanya. Secara tersurat terbaca di naskah Quran, dan membaca keadaan sekitar disebut tersirat. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kisah di Sebuah Gampong </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kendati kesejahteraan Gampong itu pada tingkat menengah, pengaruh yang tidak sehat terhadap siswa, pelajar, remaja dan pemuda desa pastilah ada. Penyakit sosial masyarakat telah berkeliaran di sana, menancapkan pengaruh, yaitu narkoba, pergaulan tidak sehat dan kurangnya sarana untuk menyalurkan kegiatan yang positif.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Rasa kegelisahan tersebut sangat menghantui orang tua terhadap perkembangan anak-anaknya. <span> </span>Fahmi, seorang pemuda gampong Muenasah Timu pun merasakan keresahan itu. Ia menginginkan remaja dan pemuda di Gampong itu mengisi hari-hari luangnya dengan kegiatan yang positif.</span></p>
<div class="img_caption left" style="float: left; width: 300px;"><img class="caption" title="Taman Baca Masyarakat Guahira yang dikelola oleh Yayasan Guahira Community di desa Kelurahan matangglumpangdua, Meunasah Timu, Peusangan-Bireuen." src="http://harian-aceh.com/images/stories/fokus/taman-baca-guahira.jpg" border="0" alt="" width="300" height="366" align="left" />Taman Baca Masyarakat Guahira yang dikelola oleh Yayasan Guahira Community di desa Kelurahan matangglumpangdua, Meunasah Timu, Peusangan-Bireuen.</p>
</div>
<p><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Untuk mewujudkannya, Fahmi mengajak remaja dan pemuda <span> </span>sekitar rumahnya untuk mengisi waktu luang dengan belajar. Syukur, keinginan tersebut disambut baik oleh adek-adek <span> </span>sekitar rumahnya. Ia juga merelakan beberapa koleksi buku yang Ia miliki untuk dibaca orang lain. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kebetulan, di depan rumah Fahmi, ada sebuah kios kosong yang tidak di pakai lagi. Kios yang dibangun tahun 1990 berdinding papan sudah nampak renggang. Kios itu kalau dilihat dari depan sudah miring ke kanan dan atapnya bocor.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kios itu pun dibersihkan oleh para muda penyuka baca. Atapnya yang bocor ditempel kembali. Untuk plafon mereka pakek bungkusan zak semen, senagai alternatif karena tak sanggup beli triplek. Lalu, agar sedikit artistik mereka dekor model stalakmit dalam sebuah gua. Setelah selesai, akhirnya kios yang memang dasarnya jelek itu jadilah sulapan sebuah lorong dalam gua dan gelap.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Karena tempat ini akan jadi tempat berteduh untuk membaca dan belajar, penyuka baca di sana pun memberi nama Guahira. Nama itu mereka adopsi dari nama Gua Hira’, tempat pertama kali turunnya ayat ayat Al Quran di waktu Nabi Muhammad Saw ber-khalwat di gua angker tersebut. Ayat itu menerangkan, “Allah menciptakan manusia dari benda yang hina. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kemudian memuliakan manusia dengan mengajar membaca, menulis dan memberinya pengetahuan. Tetapi <span> </span>konon, manusia tidak ingat lagi akan asalnya, karena itu ada manusia yang tidak mensyukuri nikmat Allah, bahkan ada yang <span> </span>bertindak melampaui batas karena melihat dirinya telah merasa serba cukup.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Setelah satu bulan menepati tampat baca baru, para penyuka baca di Gampong kecil itu ngumpul bersama dan mengajak kawan lain untuk belajar bersama di komunitas itu. Masyarakat di sekitar pun amat <span> </span>mendukung kegiatannya. Seiring penambahan anggota baru, koleksi buku pustaka itu pun bertambah. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Penyuka baca Gampong termaksud <span> </span>membentuk komunitas di rumah hadiah guna itu. Rumah baca pun jadilah tempat kajian keislaman dan umum, juga jadi tempat belajar komputer . Bersama berjalannya waktu,<span> </span>mereka sepakat membentuk taman bacaan gampong.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Taman bacaan itu terealisasi berkat penyuka baca yang bersatu dan bersemangat tinggi. Mereka mencari alamat baru untuk Guahira, yaitu <a href="http://www.guahira.or.id/">http://www.guahira.or.id</a>. Perintah bacalah <span> </span>mereka praktikkan, dan akhirnya mereka pintar membaca, lalu lahirlah situs itu. Itu hanya satu contoh dekat gebrakan membaca di Gampong kita yang besar ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Pada satu kesempatan, penyuka baca Gampong itu mendapat tambahan buku, yang terbanyak disumbangkan oleh keluarga (Alm) Zulkifli, pengelola toko buku ‘Pustaka Almuslim’. Berkat sumbanganya, pustaka mini itu dapat mengeloksi ratusan buku. Tentulah para penyuka baca di sana girang dan melompat bagai anak ayam kedapatan sebuah kamtung jagung.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Setelah melihat komunitas baca itu berkembangan pesat dan masyarakat Gampong itu mendukung, para pengurus belajar dan menbaca itu didaftarkan menjadi sebuah lembaga kuat dan berbadan hukum. Tepat pada 20 Desember 2003 kelompok belajar Guahira resmi menjadi Yayasan berdasarkan akte Notaris Abdullah Ismail, SH. Akte dengan NOMOR:15.HT.20.12-TH.2003.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Gampong kecil itu bernama Meunasah Timu, sebuah Gampong<span> </span>secara administrasi masuk dalam Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Meunasah Timu memiliki luas wilayah 47,3 ha dengan 19 ha adalah sawah. Gampong<span> </span>kecil itu punya tiga lingkungan, yakni, lingkungan T. Assalam, lingkungan T. Cut Ali dan lingkungan Affan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Bila mahu ke Gampong kecil itu, mudah saja, kita naik kenderaan darat <span> </span>selama kira-kira 15 menit,<span> </span>kita tempuh jalan sejauh 10 km dari pusat kota kabupaten Bireuen. Dan tibalah di Gampong kecil itu. Lokasinya di tepi utara pusat kota Matangglumpangdua, ibu kota Kecamatan Peusangan yang terkenal dengan Sate Matang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Masyarakat Menasah Timu mempunyai karakteristik urban tingkat kesejahteraan berada pada tingkat menengah. Jumlah penduduk mencapai 1756 orang dengan jumlah kepala keluarga (KK) sebanyak 370. Mayoritas penduduknya berprofesi PNS. <span> </span>Bila kita rinci, 50 persen PNS, wiraswasta 35 persen, petani sebanyak 10 persen, dan lain-lain 5 persen.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Suatu ketika, pengelola uang takziah Aceh-Nias membuat program pendirian Taman Bacaan Masyarakat (TBM) <span> </span>di Gampong itu melalui Satket terkait propinsi Aceh. Maka Yayasan Guahira Community Meunasah Timu, Kelurahan Matang Glumpangdua, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, dipercayakan untuk mengelola TBM tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Begitulah kisah para penyuka baca di Gampong kecil itu. Dan pada Rabu, 11 Juli 2007, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen, meresmikan <em>Taman Bacaan Masyarakat Guahira Community</em> di Gampong itu. Taman Baca Guahira pun jadi TBM pertama dan sampai kini satu-satunya di Kabupaten Bireuen. Taman Bacaan Guahira dikelola oleh Yayasan Guahira. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kisah tadi hanya satu di antara sekian banyak kisah di Gampong kecil seantero Aceh. Kita bisa melihat sendiri, apa yang berguna dan apa yang sia-sia dilakukan. Terserah saja. Di Gampong kita yang besar ini tidak ada peraturan tentang menempuh cara hidup. Gampong kita ini adalah Gampong tak bertuan. Masing masing tokoh kita hanya pikirkan diri dan keluarganya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Gampong kita ini sedang menghadapi pancaroba identitas dirinya yang hilang ditelan musim tak bernama, di ujung sebuah keputusan tak terbukti. Gampong kita yang besar ini sedang mencari kesempurnaan yang telah puluhan tahun ditinggalkan orang, karena itu dianggap kuno.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Tidak ada yang pasti di Gampong kita ini. Nuzulul Quran tak pernah diperingati lagi. Kalu pun ada hanya seremoni, bukan menghayati pesan Tuhan dalam ayat itu. Mungkin pula kita menganggap <span> </span>peringatan malam turun wahyu pertama untuk Nabi Muhammad itu memang tak perlu sama sekali. <span> </span>Lihatlah sendiri di Gampong kita yang besar ini. Kesejatian Quran telah hilang semisal hilangnya kelam karena pagi datang. Kesejatian Quran hanya waktu MTQ dan di meunasah tuha yang lampunya sering mati akhir-akhir ini. Lampu wahyu bercahaya pedoman hidup manusia sebagian memang telah padam.[]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/taman-baca-guahira-masuk-koran.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemerintah Aceh Diminta Tentukan Hari Membaca</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/pemerintah-aceh-diminta-tentukan-hari-membaca.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/pemerintah-aceh-diminta-tentukan-hari-membaca.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 May 2008 03:32:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Hari baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Pemerintah Aceh diminta menentukan hari membaca bagi masyarakat Aceh. Sehingga, warga Aceh ke depan akan memahami pentingnya ‘membaca’ dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Aceh, Kamaruddin, mengatakan minat baca masyarakat Aceh saat ini sangat tinggi. “Jadi sudah selayaknya pemerintah menentukan satu hari dalam setahun sebagai hari membaca untuk memberi motivasi dan mengajak masyarakat bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Pemerintah Aceh diminta menentukan hari membaca bagi masyarakat Aceh. Sehingga, warga Aceh ke depan akan memahami pentingnya ‘membaca’ dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p class="MsoNormal">Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Aceh, Kamaruddin, mengatakan minat baca masyarakat Aceh saat ini sangat tinggi. “Jadi sudah selayaknya pemerintah menentukan satu hari dalam setahun sebagai hari membaca untuk memberi motivasi dan mengajak masyarakat bahwa membaca itu sangat perlu,” katanya.</p>
<p>Menurut dia, perpustakaan itu saat ini memiliki 150 ribu buku dan enam armada untuk kegiatan Pustaka Keliling.(<strong>Harian Aceh)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/pemerintah-aceh-diminta-tentukan-hari-membaca.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minat Baca di Indonesia Memprihatinkan</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/minat-baca-di-indonesia-memprihatinkan.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/minat-baca-di-indonesia-memprihatinkan.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 13:11:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu cara penyelenggarakan pendidikan adalah dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.
PENEGASAN itu jelas tercantum dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tetang Sistem Pendidikan Nasional, Bab III Pasal 4 ayat 5. Begitu pentingnya sehingga lelulur bangsa indonesia menciptakan ungkapan “membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudang ilmu adalah buku”
Lalu bagaimana kondisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h4><em>Salah satu cara penyelenggarakan pendidikan adalah dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.</em></h4>
<p>PENEGASAN itu jelas tercantum dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tetang Sistem Pendidikan Nasional, Bab III Pasal 4 ayat 5. Begitu pentingnya sehingga lelulur bangsa indonesia menciptakan ungkapan “membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudang ilmu adalah buku”<span id="more-6"></span></p>
<p>Lalu bagaimana kondisi dunia baca di indonesia? Data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2003 dapat dijadikan gambaran bagaimana minat baca bangsa Indonesia. Data itu menggambarkan bahwa penduduk Indonesia berumur di atas 15 tahun yang membaca koran pada minggu hanya 55,11 persen. Sedangkan yang membaca majalah atau tabloid hanya 29,22 persen, buku cerita 16,72 persen, buku pelajaran sekolah 44.28 persen, dan yang membaca buku ilmu pengetahuan lainnya hanya 21,07 persen.</p>
<p>Data BPS lainnya juga menunjukkan bahwa penduduk Indonesia belum menjadikan membaca sebagai informasi. Orang lebih memilih televisi dan mendengarkan radio. Malahan, kecenderungan cara mendapatkan informasi lewat membaca stagnan sejak 1993. Hanya naik sekitar 0,2 persen. Jauh jika dibandingkan dengan menonton televisi yang kenaikan persentasenya mencapai 211,1 persen.</p>
<p>Data 2006 menunjukkan bahwa orang Indonesia yang membaca untuk mendapatkan informasi baru 23,5 persen dari total penduduk. Sedangkan, dengan menonton televisi sebanyak 85,9 perasen dan mendengarkan radio sebesar 40,3 persen.</p>
<p>Angka-angka tersebut menggambarkan bahwa minat penduduk Indonesia masih rendah. Padahal, untuk meningkatkan minat baca, harus dimulai sejak anak-anak. Namun, saat ini pun kondisi kemampuan membaca (reading literacy) anak indonesia masih rendah. Tidak perlu membandingkan dengan negara yang sudah maju, dengan sesama negara  yang  berkembang lainyapun kemampuan membaca anak-anak Indonesia masih rendah.</p>
<p>Data lain juga menunjukan yang sama. Pada 1992, Internasional Associations for Evaluation of Educational (IEA) melakukan studi kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar kelas IV di 30 negara dunia. Kesimpulan dari studi tersebut menyebutkan bahwa indonesia menempati urutan ke-29! Hanya setingkat diatas negara Venezuella.</p>
<p>Lalu, dalam laporan Worl Bank dalam sebuah laporan pendidikan Education In Indonesia From Crisis to Recovery menyebutkan bahwa kemampuan membaca ana-anak kelas IV sekolah dasar di Indonesia masih dibawah negara Asia lainnya. Laporan tersebut mengutip hasil Vincent Greannary pada 1998 yang menunjukkan Indonesia hanya mampu meraih nilai 51,7. Sedangkan negara Asia lainnya yang juga menjadi objek nilai, seperti Filipina memperoleh nilai 52,6, Thailand 65,1, Singapura 74,0 dan Hong Kong 75,5.</p>
<p>Buruknya kemampuan anak-anak Indonesia berdampak pada penguasaan bidang ilmu pengetahuan dan matematika. Hasil tes yang dilakukan Trends in Science Study (TIMSS) 2003 terhadap para siswa kelas II SLTP 50 negara di dunia, menunjukkan prestasi siswa-siswa Indonesia berada di peringkat ke-36 dengan nilai rata-rata Internasional 474.</p>
<p>Perpustakaan dan Buku</p>
<p>Salah satu faktor yang menyebabkan kemampuan membaca anak-anak Indonesia tergolong rendah adalah sarana dan prasarana khususnya perpustakaan dengan buku-bukunya belum mendapat prioritas. Sedangkan kegiatan membaca membutuhkan buku-buku yang memadai dan bermutu serta ditunjang eksistensi perpustakaan.</p>
<p>Perpustakaan merupakan sarana sumber belajar yang efektif untuk menambah pengetahuan melalui beraneka bacaan. Berbeda dengan pengetahuan dan ketrampilan yang dipelajari secara klasikal di sekolah, perpustakaan menyediakan berbagai bahan pustaka yang secara individual dapat digumuli peminatnya masing-masing. Ketersediaan beraneka bahan pustaka memungkinkan tiap orang memilih apa yang sesuai dengan minat dan kepentingannya.</p>
<p>Kalau warga masyarakat menambah pengetahuannya melalui pustaka pilihannya, akhirnya merata pula peningkatan taraf kecerdasan mereka. Kalau kita sepakat bahwa perbaikan mutu perikehidupan suatu masyarakat ditentukan oleh meningkatnya taraf kecerdasan warganya. Oleh karena itu, kehadiran perpustakaan dalam suatu lingkungan kemasyarakatan dapat turut berpengaruh terhadap teratasinya kondisi ketertinggalan masyarakat yang bersangkutan.</p>
<p>Perpustakaan juga harus bisa diandalkan untuk menyediakan buku-buku bermutu. Buku-buku bermutu yang menyangkut isi, bahasa, pengarang, tata letak, atau penyajiannya yang sesuai dengan tingkat pendidikan dan kecerdasan seseorang akan dapat merangsang “birahi” membaca orang tersebut. Demikian pula kalau buku-buku dalam semua jenisnya tersebar luas secara merata ke berbagai lapisan masyarakat, mudah didapat serta harganya terjangkau oleh semua tingkatan sosial ekonomi masyarakat, kegiatan membaca akan tumbuh dengan sendirinya. Pada akhirnya, akan tercipta sebuah kondisi masyarakat konsumen membaca yang akan mengonsumsi buku-buku setiap hari sebagai kebutuhan pokok dalam hidup keseharian.</p>
<p>Namun, jumlah perpustakaan di Indonesia masih amat kurang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang lebih dari 220 juta jiwa. Alfons Taryadi dalam bukunya, Buku dalam Indonesia Baru, terbitan Yayasan Obor Indonesia terdapat satu perpustakaan nasional, 117.000 perpustakaan sekolah dengan total koleksi 106 juta buku, 798 perpustakaan khusus. Sedangkan, perpustakaan yang disediakan untuk masyarakat umum hanya 2.583 perpustakaan. Bila dirasionalkan, perpustakaan umum yang ada harus sanggup untuk melayani 85 ribu penduduk.</p>
<p>Kondisi perpustakaan di hampir sekolah masih belum memenuhi standar. Perpustakaan belum sepenuhnya belum berfungsi disana. Jumlah buku-buku perpustakaan jauh dari mencukupi kebutuhan tuntutan membaca sebagai basis pendidikan serta peralatan dan tenaga yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Padahal, perpustakaan sekolah merupakan sumber membaca dan belajar sangat vital bagi muridnya.</p>
<p>Perluasan jangkauan layanan perpustakaan, baik melalui perpustakaan menetap atau perpustakaan mobil keliling di pusat-pusat kegiatan masyarakat desa, RW/RT secara merata dan berkesinambungan akan dapat menjadikan masyarakat membaca (reading society). Semakin besar peluang masyarakat untuk membaca melalui fasilitas yang tersebar luas, semakin besar pula stimulus membaca sesama warga masyarakat.</p>
<p>Perpustakaan Bergilir<br />
Saat ini Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Perpustakaan Nasional Indonesia sedang menyusun rancangan besar minat dan menuju budaya baca. Ikapi juga menggulirkan perpustakaan bergilir.</p>
<p>Perpustakaan bergilir adalah satu konsep bahwa judul buku di satu kelurahan itu berbeda untuk setiap RT (Rukun Tetangga). Jadi setiap dua bulan akan berputar akan berputar ke RT lain dengan judul yang lain,&#8221; ujar ketua IKAPI setia Dharma Madjid.</p>
<p>Pertumbuhan industri percetakan di Indonesia per tahun nampak berkembang. Saat ini terdapat sebanyak 7.760 industri cetak. Kondisi itu, jika dibandingkan dengan negara lain, masih tertinggal. China punya sedikitnya 90.000 industri cetak, sedangkan Italia 45.000 industri.</p>
<p>Sementara itu, ketersediaan buku-buku di Indonesia juga sangat terbats. Cina dengan penduduk 1,3 miliar jiwa mampu menerbitkan 140.000 judul buku baru setiap tahunnya. Vietnam dengan 80 juta jiwa menerbitkan 15.000 judul buku baru per tahun, Malaysia berpenduduk 26 juta jiwa menerbitkan 10.000 judul, sedangkan Indonesia dengan 220 juta jiwa hanya mampu menerbitkan 10.000 judul pertahun.</p>
<p>Kepala pusat Grafika Indonesia Depdiknas Pudjo Sumedi AS mengemukakan, 10.000 terbitan buku itu didominasi buku umum, yakni sebanyak 3.500 judul atau 35n persen. Sedangkan, buku anak atau remaja 1.900 judul (19 persen), Agama 1.800 judul (16 persen), dan perguruan tinggi 800 judul (8 persen).<strong>(Sumber; Analisis Media Indonesia)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/minat-baca-di-indonesia-memprihatinkan.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perpustakaan Keliling Mulai Diminati</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/perpustakaan-keliling-mulai-diminati.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/perpustakaan-keliling-mulai-diminati.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 03:59:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Kutacane &#124; Harian Aceh&#8211;Kantor perpusatakaan dan arsip daerah Diraja Bintang, Jl. Ahmad Yani, Kota Kutacane belakangan ini mulai ramai didatangi pelajar dan masyarakat setempat. “Minat baca masyarakat menunjukkan ada peningkatan, sejak adanya perpustakaan keliling” ujar  Kepala Kantor Perpustakaan, Ir. Ishak Bukhari MM.
Dia menjelaskan dalam sehari paling tidak 50 buah buku dipinjam para pengunjung. “Mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kutacane | Harian Aceh&#8211;</strong>Kantor perpusatakaan dan arsip daerah Diraja Bintang, Jl. Ahmad Yani, Kota Kutacane belakangan ini mulai ramai didatangi pelajar dan masyarakat setempat. “Minat baca masyarakat menunjukkan ada peningkatan, sejak adanya perpustakaan keliling” ujar  Kepala Kantor Perpustakaan, Ir. Ishak Bukhari MM.</p>
<p>Dia menjelaskan dalam sehari paling tidak 50 buah buku dipinjam para pengunjung. “Mereka ada mahasiswa maupun warga biasa,” katanya, kepada Harian Aceh, di kantornya, kemarin.<span id="more-70"></span></p>
<p>Peningkatan pengunjung perpustakaan ini mulai terasa sejak adanya sosialisasi perpustakaan keliling yang belakangan sering dilakukan.  Pada awal 2008, perpustakaan ini mendapat bantuan APBN pusat satu unit kendaraan yang kini diperuntukkan sebagai perpustakaan berjalan.</p>
<p>Hampir setiap hari perpustakaan berjalan mengunjungi daerah yang banyak pelajarnya seperti Babussalam. Selain itu, juga keliling dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya.<br />
Kini, atas bantuan Penda Tk. I perpustakaan ini telah memiliki dua paket gedung perkantoran yaitu perpustakaan kabupaten dan satu lagi untuk Kecamatan Lawe Sigala-gala. Di sisi lain, juga telah dibentuk perpustakaan Desa sebayak 20 unit.</p>
<p>Ishak berharap, ke depan perpustakaan tersebut setara dengan provinsi serta dilengkapi dengan buku-buku dari semua golongan. Dia juga merencanakan masuk ke wilayah terpencil untuk meningkatkan minat baca masyarakat.<strong>(harian aceh/ade)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/perpustakaan-keliling-mulai-diminati.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
