<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Taman Baca Guahira &#187; Pustakaloka</title>
	<atom:link href="http://tamanbaca.guahira.com/category/pustakaloka/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tamanbaca.guahira.com</link>
	<description>Karena membaca adalah jendela dunia...</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jul 2010 03:39:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pemkab Bireuen Didesak Bangun Perpustakaan</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/pemkab-bireuen-didesak-bangun-perpustakaan.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/pemkab-bireuen-didesak-bangun-perpustakaan.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 03:39:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamanbaca.guahira.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Bireuen &#124; Harian Aceh &#8211; Pemerintah Kabupaten Bireuen didesak segera membangun perpustakaan. Mengingat sulitnya memperoleh bahan bacaan di tengah makin besarnya minat baca masyarakat. “Bupati Bireuen pernah merencanakan membangun perpustakaan daerah di lokasi gedung SMP Negeri 7 Bireuen. Sementara sekolah itu dipindahkan ke kawasan sekolah terpadu Desa Lhok Awe-Awe, Jeumpa. Namun apa yang dicanangkan itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bireuen | Harian Aceh &#8211; Pemerintah Kabupaten Bireuen didesak segera membangun perpustakaan. Mengingat sulitnya memperoleh bahan bacaan di tengah makin besarnya minat baca masyarakat. “Bupati Bireuen pernah merencanakan membangun perpustakaan daerah di lokasi gedung SMP Negeri 7 Bireuen. Sementara sekolah itu dipindahkan ke kawasan sekolah terpadu Desa Lhok Awe-Awe, Jeumpa. Namun apa yang dicanangkan itu belum menjadi kenyataan,” kata Muhajir, seorang mahasiswa asal Juli, Sabtu (24/7/2010).</p>
<p>Atas kondisi itu, Muhajir menilai pernyataan Bupati Nurdin Abdul Rahman beberapa bulan lalu itu hanya sebuah retorika. Nyatanya, langkah menuju ke arah tersebut belum juga dilakukan. Sementara masyarakat Bireuen amat membutuhkan adanya sebuah perpustakaan daerah yang representatif.</p>
<p>“Masyarakat Bireuen tergolong gemar membaca dan haus ilmu. Dengan adanya perpustakaan masyarakat bisa meminjam buku-buku mengenai sejarah dan  ilmu pengetahuan lainnya. Atau bisa membaca di ruang yang disediakan di perpustakaan,” ujarnya.</p>
<p>Sejumlah kalangan masyarakat Bireuen lainnya menyatakan mendukung pembangunan perpustakaan itu. M Harun, warga Bireuen lainnya menyebutkan, lokasi SMP Negeri 7 Bireuen di kawasan Cot Gapu sangat strategis untuk lokasi pembangunan perpustakaan daerah. “Terlebih jika dilakukan penataan dan dibuat taman kota yang membuat masyarakat nyaman dan tenang dalam membaca,” imbuhnya.(harian-aceh.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/pemkab-bireuen-didesak-bangun-perpustakaan.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minat Baca Masyarakat Terus Diupayakan Peningkatan</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/minat-baca-masyarakat-terus-diupayakan-peningkatan.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/minat-baca-masyarakat-terus-diupayakan-peningkatan.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 08:38:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamanbaca.guahira.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Sigli, Seputar Aceh – saat ini Pemerintah Aceh terus mengupayakan peningkatan minat baca masyarakat. Untuk itu, Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh, membangun 600 lebih perpustakaan yang disebar di gampong-gampong seluruh Aceh. Program tersebut sudah dimulai Januari  2007 lalu.
“Pembangunan 600 lebih perpustakaan sebagai program menumbuhkan minat baca masyarakat, sehingga mereka tidak buta huruf,” kata Kepala Badan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sigli, Seputar Aceh</strong> – saat ini Pemerintah Aceh terus mengupayakan peningkatan minat baca masyarakat. Untuk itu, Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh, membangun 600 lebih perpustakaan yang disebar di gampong-gampong seluruh Aceh. Program tersebut sudah dimulai Januari  2007 lalu.</p>
<p>“Pembangunan 600 lebih perpustakaan sebagai program menumbuhkan minat baca masyarakat, sehingga mereka tidak buta huruf,” kata Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Propinsi Aceh, Kamaruddin Husen Kamis (19/11).</p>
<p>Kata Kamaruddin, selain membangun perpusatakaan, yang paling yang harus dilakukan tentunya memberikan fasilitas buku-buku bacaan. Selain itu ia juga mengatakann, upaya untuk menumbuh kembangkan minat baca itu tentunya tidak dapat dilakukan tanpa adanya dukungan dari masyarakat.</p>
<p>“Kita bisa melakukan apa saja jika ada dukungan dari masyarakat,”.</p>
<p>Untuk itu Kamaruddin meminta kepada seluruh masyarakat Aceh agar tetap mendukung upaya pemerintah dalam menumbuh kembangkan minat baca. Sehingga hasil yang dicapai nantinya terasa dan berguna. “Saya optimis minat baca di Aceh setiap tahun akan meningkat,” kata dia. <strong>[sa-amr]</strong></p>
<p><strong>Sumber: <a href="http://seputaraceh.com" target="_self">seputaraceh.com</a><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/minat-baca-masyarakat-terus-diupayakan-peningkatan.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LAPAN Resmikan Perpustakaan Online dan Komunitas Antariksa</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/lapan-resmikan-perpustakaan-online-dan-komunitas-antariksa.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/lapan-resmikan-perpustakaan-online-dan-komunitas-antariksa.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 15:07:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) meresmikan layanan perpustakaan online dan komunitas pencinta antariksa Indonesia.
Sekretaris Utama LAPAN, Bambang Koesoemanto meresmikan layanan online perpustakaan LAPAN tersebut dalam acara &#8220;Diseminasi Perkembangan Roket dan Satelit di Indonesia&#8221; di kantor LAPAN, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu.
Perpustakaan online LAPAN, kata Bambang, bertujuan untuk meningkatkan minat dan pengetahuan masyarakat luas terhadap antariksa, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Lembaga</strong> Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) meresmikan layanan perpustakaan online dan komunitas pencinta antariksa Indonesia.</p>
<p>Sekretaris Utama LAPAN, Bambang Koesoemanto meresmikan layanan online perpustakaan LAPAN tersebut dalam acara &#8220;Diseminasi Perkembangan Roket dan Satelit di Indonesia&#8221; di kantor LAPAN, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu.</p>
<p>Perpustakaan online LAPAN, kata Bambang, bertujuan untuk meningkatkan minat dan pengetahuan masyarakat luas terhadap antariksa, roket dan satelit yang selama ini dirasa masih kurang.</p>
<p>Dengan layanan online ini, masyarakat akan mudah dan setiap saat untuk mengakses database koleksi textbook, jurnal dan hasil penelitian dari perpustakaan LAPAN.<span id="more-85"></span><br />
Bambang mengatakan saat ini ada sekitar 5.000 textbook yang telah bisa diakses online dari sebanyak 8.000 koleksi perpustakaan LAPAN.</p>
<p>&#8220;Tetapi karena masalah `copyright` buku, maka masyarakat hanya bisa mengakses judul, pengarang dan daftar isi dari teksbook,&#8221; katanya.</p>
<p>Di masa mendatang, perpustakaan LAPAN bisa memberikan layanan pengiriman buku yang telah disewa dan dipesan secara online kepada masyarakat.</p>
<p>Sedangkan untuk jurnal dan hasil penelitian peneliti-peneliti LAPAN yang bersifat tidak rahasia bisa langsung diunduh (download) oleh masyarakat.</p>
<p>Selain itu, perpustakaan LAPAN juga memiliki koleksi materi audiovisual sebanyak 2.000 judul yang bisa dilihat langsung di perpustakaan LAPAN.</p>
<p>komunitas antariksa</p>
<p>Pada kesempatan tersebut, LAPAN juga meresmikan dan memperkenalkan komunitas pencinta antariksa melalui `mailing list` (milis) komunitas-antariksa@yahoogroups.com.</p>
<p>Bambang mengatakan dengan komunitas pencinta antariksa ini akan dapat meningkatkan pengetahuan dan jaringan kerja dari masyarakat yang gandrung pada berbagai hal terkait antariksa.</p>
<p>Keinginan jangka panjang dari layanan online perpustakaan LAPAN dan komunitas pencinta antariksa, tambah Bambang, adalah untuk merintis kemandirian peroketan dan antariksa Indonesia dimasa mendatang.(<a href="http://www.antaranews.com/berita/1248852788/lapan-resmikan-perpustakaan-online-dan-komunitas-antariksa" target="_self">antaranews.com</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/lapan-resmikan-perpustakaan-online-dan-komunitas-antariksa.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TBM Guahira Ikut Lomba Jambore 1000 PTK-PNF 2009</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/tbm-guahira-ikut-lomba-jambore-1000-ptk-pnf-2009.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/tbm-guahira-ikut-lomba-jambore-1000-ptk-pnf-2009.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 05:06:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Taman baca Guahira mengikuti lomba karya nyata Jambore 1000 PTK-PNF 2009 tingkat provinsi Aceh yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal (PTK-PNF) pada 28-29 Juli 2009 di Asrama Haji Banda Aceh.
Perlombaan yang diikuti oleh TBM Guahira Community pada lomba Jambore 1000 PTK-PNF ada dua bagian perlommbaan karya nyata,  TBM dan bagian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Taman </strong>baca Guahira mengikuti lomba karya nyata Jambore 1000 PTK-PNF 2009 tingkat provinsi Aceh yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal (PTK-PNF) pada 28-29 Juli 2009 di Asrama Haji Banda Aceh.</p>
<p>Perlombaan yang diikuti oleh TBM Guahira Community pada lomba Jambore 1000 PTK-PNF ada dua bagian perlommbaan karya nyata,  TBM dan bagian IT. Pada bagian TMB menyangkut dengan &#8220;manajemen Taman Baca Masyarakat dan di bagian IT, &#8220;pengenbangan website lembaga&#8221;.</p>
<p>Pada bagian lomba IT, blog http://tbm.guahira.or.id kami ikut sertakan pada lomba karya nyata Jambore 1000 PTK-PNF.</p>
<p>Semoga lomba karya nyata Janmbore 1000 PTK-PNF tingkat provinsi Aceh mendapatkan web lembaga yang akan mengikutidi tingkat nasional, di Yogyakarta.[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/tbm-guahira-ikut-lomba-jambore-1000-ptk-pnf-2009.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>M Harith Duta Baca dari Aceh</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/m-harith-duta-baca-dari-aceh.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/m-harith-duta-baca-dari-aceh.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 19:53:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Duta Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Muhammad Harith, murid SD Negeri 56, Ulee Kareng, Banda Aceh, terpilih menjadi finalis Duta Baca Anak dan Remaja Indonesia 2009 yang diadakan oleh Klub Perpustakaan Indonesia di Jakarta. Harith akan bersaing dengan para finalis duta baca utusan provinsi lainnya dari seluruh Indonesia pada Rabu (25/3) besok.
Acara penobatan Duta Baca Anak dan Remaja Indonesia ini juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Muhammad Harith</strong>, murid SD Negeri 56, Ulee Kareng, Banda Aceh, terpilih menjadi finalis Duta Baca Anak dan Remaja Indonesia 2009 yang diadakan oleh Klub Perpustakaan Indonesia di Jakarta. Harith akan bersaing dengan para finalis duta baca utusan provinsi lainnya dari seluruh Indonesia pada Rabu (25/3) besok.</p>
<p>Acara penobatan Duta Baca Anak dan Remaja Indonesia ini juga akan disiarkan oleh TVRI pukul 19.00 WIB-21.00 WIB pada hari tersebut. “Besok (hari ini) Harith dan seluruh finalis lainnya dijadwalkan bertemu dengan Duta Baca Indonesia, Tantowi Yahya, dan Menteri Negara BUMN, Sofyan A Djalil,” kata Drs Adlias, guru pembimbing Harith di SD Negeri 56.</p>
<p>Kepala SD Negeri 56 Ulee Kareng, Hj Salmiah SPd serta orang tua Harith, Hasanuddin dan Anita mengharapkan dukungan masyarakat Aceh dalam pemilihan Duta Baca Anak dan Remaja Indonesia yang akan berlangsung besok.<strong>(serambinews.com) </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/m-harith-duta-baca-dari-aceh.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumanto, Pustakawan Terbaik</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/sumanto-pustakawan-terbaik.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/sumanto-pustakawan-terbaik.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 15:19:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Berkeliling dengan sepeda onthel untuk menyewakan buku secara cuma-cuma adalah aktivitas sehari-hari Sumanto, selama empat tahun sebelum gempa melanda Bantul pada 2006. Setelah gempa, aktivitas keliling itu tetap dilakukannya. Namun, dia tak lagi menggunakan sepeda onthel, tetapi dengan sepeda motor beroda tiga, sumbangan dari orang yang bersimpati kepadanya.
Kegiatan menyewakan buku-buku itu mulai digeluti Sumanto sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Berkeliling</strong> dengan sepeda onthel untuk menyewakan buku secara cuma-cuma adalah aktivitas sehari-hari Sumanto, selama empat tahun sebelum gempa melanda Bantul pada 2006. Setelah gempa, aktivitas keliling itu tetap dilakukannya. Namun, dia tak lagi menggunakan sepeda onthel, tetapi dengan sepeda motor beroda tiga, sumbangan dari orang yang bersimpati kepadanya.</p>
<p>Kegiatan menyewakan buku-buku itu mulai digeluti Sumanto sejak tahun 2003. Pengalamannya menjadi tenaga survei dalam proyek pengentasan kemiskinan telah membuka matanya akan arti pentingnya membaca bagi masyarakat di lapisan apa pun.<span id="more-21"></span></p>
<p>”Dalam kegiatan survei itu, saya melihat banyak kemiskinan di sekitar desa saya. Salah satu penyebabnya karena minimnya tradisi membaca. Ini pun berkaitan dengan kesulitan mereka untuk membeli buku,” katanya.</p>
<p>Dengan koleksi sekitar 500 buku, Sumanto lalu mendirikan perpustakaan swadaya di rumahnya. Perpustakaan itu diberinya nama Mitra Tema. Memanfaatkan ruangan berukuran 2 x 6 meter, ia menata koleksi buku-bukunya.</p>
<p>Namun, Sumanto tak hanya berharap pada pengunjung yang mau datang ke rumahnya. Dia juga menjajakan buku-bukunya berkeliling ke berbagai tempat dengan sepeda onthel-nya.</p>
<p>”Saya harus berkeliling untuk ’menjemput bola’. Tidak mungkin saya hanya mengandalkan pembaca yang mau datang ke rumah. Kan, saya yang ingin mengajak masyarakat agar banyak membaca,” ceritanya.</p>
<p>Semua itu dikerjakan Sumanto nyaris tanpa pamrih apa pun. Ia tidak dibayar oleh siapa pun, dan ia juga meminjamkan koleksi buku-bukunya secara gratis. Untuk mencukupi kebutuhannya, ia membudidayakan pisang dan singkong.</p>
<p>”Saya tetap harus menghidupi istri dan anak-anak saya. Selain bertani, saya juga harus bekerja di bidang bangunan,” kata Sumanto.</p>
<p>Ketika koleksi bukunya masih sedikit, Sumanto menyiasatinya dengan kreatif. Ia bekerja sama dengan perpustakaan keliling milik Pemerintah Kabupaten Bantul. Sistem kerja samanya, Sumanto bersedia mencarikan anggota baru bagi perpustakaan keliling asal ia bisa meminjam buku untuk kemudian dipinjamkannya lagi.</p>
<p>”Waktu itu belum banyak yang mau menyumbangkan buku. Kalau hanya mengandalkan koleksi saya sendiri, masyarakat pasti jenuh juga. Makanya, saya bekerja sama dengan perpustakaan keliling, yang waktu kunjungannya tidak terlalu sering,” katanya.</p>
<p>Lambat laun usaha Sumanto mulai mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Sumbangan buku kemudian terus mengalir. Kini, koleksinya sekitar 20.000 judul buku. Kondisi itu membuat dia makin bersemangat untuk mengajak masyarakat gemar membaca.</p>
<p>Saat gempa menimpa Bantul pada 27 Mei 2006, sebagian rumah Sumanto hancur, termasuk bangunan perpustakaan. Sekitar 3.000 buku rusak. Keterpurukannya itu mengundang simpati seorang distributor buku.</p>
<p>”Orang itulah yang membantu membangun kembali ruang perpustakaan,” katanya.</p>
<p><strong>Sepeda motor</strong></p>
<p>Pasca-gempa ia juga mendapatkan bantuan sepeda motor beroda tiga. Dengan fasilitas lebih baik, Sumanto bisa membawa sekitar 400 buku setiap kali berkeliling. Dulu, sewaktu menggunakan sepeda onthel, ia hanya mampu membawa 60 buku.</p>
<p>Wilayah kunjungannya juga makin luas. Kalau dulu ia hanya mampu menjangkau 52 titik di empat kecamatan (Imogiri, Pleret, Jetis, dan Bantul), belakangan bertambah menjadi 89 titik. Ada tiga kecamatan baru yang dirambahnya, yakni Sewon, Pundong, dan Bambanglipuro.</p>
<p>Titik-titik kunjungan perpustakaan kelilingnya berupa masjid, panti asuhan, toko-toko, dan kantor-kantor pemerintahan. Untuk lokasi yang pembacanya anak-anak, Sumanto memilih berkeliling seusai jam sekolah. Adapun untuk pembaca umum, biasanya ia datangi pada pagi atau sore hari.</p>
<p>Kegigihan Sumanto itu membuat jumlah peminjam terus bertambah. Selama tahun 2007, jumlah peminjam buku di perpustakaannya mencapai 7.156 orang, sedangkan pengunjung perpustakaan sampai 20.320 orang.</p>
<p>Meski tak memiliki latar belakang bidang perpustakaan, Sumanto tergolong piawai dalam mengelola perpustakaan. Buku-buku koleksinya dibagi menjadi kategori SD, SMP, SMA, agama, dan umum.</p>
<p>”Sistem pengelolaan itu saya pelajari dari perpustakaan milik Provinsi DIY di Jalan Malioboro. Kebetulan sewaktu SMA, saya sering nongkrong di tempat itu,” katanya.</p>
<p>Untuk membantu pengelolaan perpustakaan sewaktu ia berkeliling, Sumanto mempekerjakan seorang pegawai di perpustakaannya dengan upah Rp 300.000 per bulan.</p>
<p>Agar ia bisa membayar pegawainya itu, sang istri membuka tempat penitipan anak dengan tarif seikhlasnya. Beberapa keluarga yang menitipkan anak mereka pun memberinya sekitar Rp 50.000 per minggu. Selain itu, Sumanto juga menyewakan empat unit komputer dengan tarif Rp 500 per jam.</p>
<p>Jerih payah dan semangat Sumanto untuk menarik masyarakat agar gemar membaca, membuahkan hasil. Usahanya mengembangkan perpustakaan swadaya mendapat penghargaan dari Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta. Ia antara lain menerima piagam Rekso Pustoko Bakti Tomo.</p>
<p>Ia berkisah, menjadi pustakawan bukan impiannya. Meski dilahirkan di Bantul, tetapi sejak 1982 Sumanto merantau ke Jakarta. Selama sekitar 13 tahun, dia bekerja di PT Astra International. Namun, ritme kerja yang cepat rupanya tak cocok baginya. Sumanto merasa teralineasi secara sosial. Ia lalu mengundurkan diri saat menempati posisi sebagai kepala stok mobil.</p>
<p>Setelah itu, ia berusaha mencari pekerjaan baru yang relatif tak terlalu mengikat dari segi waktu. Pilihannya jatuh di bidang asuransi.</p>
<p>Akan tetapi, mengingat kondisi orangtuanya di Bantul, Sumanto kemudian memutuskan kembali ke Bantul dengan segala risiko, terutama dari sisi finansial. Tujuannya satu, ingin mendampingi orangtua sebagai bentuk pengabdian seorang anak.</p>
<p>Sesampai di desa, ia sempat bingung tak punya pekerjaan tetap. Semua tawaran kerja dilakoninya, termasuk menjadi anggota tim survei Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP). Di sinilah ia banyak bergelut dengan dunia kemiskinan. Ia melihat kemiskinan itu berkaitan dengan minat baca masyarakat. Di sinilah inspirasi mendirikan perpustakaan itu muncul.</p>
<p>”Memang sudah ada beberapa perpustakaan di Bantul, tetapi sayangnya, sebagian besar malah mati. Penyebab utamanya, ya, sumber daya manusia. Makanya, saya yakin bisa mengelola perpustakaan asal ada kemauan kuat dari diri sendiri,” katanya. (<a href="http://cetak.kompas.com">Kompas Cetak</a>)</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"><br />
DATA DIRI</span></strong></p>
<p><strong>Nama:</strong> Sumanto</p>
<p><strong>Lahir:</strong> Bantul, DI Yogyakarta, 12 Mei 1961</p>
<p><strong>Alamat:</strong> Dusun Jati, Desa Sriharjo, Imogiri, Bantul</p>
<p><strong>Istri:</strong> Siti Mardila (48)</p>
<p><strong>Anak:</strong></p>
<p>- Alfi Miranti Hanifah (almarhumah)</p>
<p>- Merviana Aulia (19)</p>
<p>- Baihaqi Handono (16)</p>
<p>- Ariyanti Latifah (14)</p>
<p><strong>Pendidikan:</strong></p>
<p>- SD Sriharjo, Imogiri, Bantul</p>
<p>- SMP Muhammadiyah I, Imogiri, Bantul</p>
<p>- SMA Putra Bakti Pleret, Bantul</p>
<p><strong>Pekerjaan:</strong></p>
<p>- PT Astra International</p>
<p>- Nabasa Life Insurance</p>
<p>- Asuransi Panin</p>
<p><strong>Penghargaan:</strong></p>
<p>- Piagam Rekso Pustoko Bakti Tomo dari Pemprov DI Yogyakarta, 2006</p>
<p>- Juara II lomba Jambore Reading Club, 2008</p>
<p>- Pengelola Perpustakaan Terbaik Bantul, 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/sumanto-pustakawan-terbaik.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah di Balik Tiga Buku Harian</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/kisah-di-balik-tiga-buku-harian.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/kisah-di-balik-tiga-buku-harian.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 11:00:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>
		<category><![CDATA[Anne Frank]]></category>
		<category><![CDATA[buku harian]]></category>
		<category><![CDATA[Dang Thuy Tram]]></category>
		<category><![CDATA[Ramon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[SEBUAH buku harian menjadi terkenal karena si empunya buku itu memang tokoh. Buku harian juga terkenal karena memberi pengetahuan mengenai suatu peristiwa pada suatu masa. Akan tetapi, tidak sedikit buku harian menjadi terkenal karena penemuannya yang berliku dan unik.
Buku harian Ilan Ramon yang dipamerkan di Jerusalem pada awal Oktober mungkin merupakan buku harian yang sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEBUAH buku harian menjadi terkenal karena si empunya buku itu memang tokoh. Buku harian juga terkenal karena memberi pengetahuan mengenai suatu peristiwa pada suatu masa. Akan tetapi, tidak sedikit buku harian menjadi terkenal karena penemuannya yang berliku dan unik.</p>
<p>Buku harian Ilan Ramon yang dipamerkan di Jerusalem pada awal Oktober mungkin merupakan buku harian yang sangat unik. Ramon adalah astronot pertama Israel yang tewas saat pesawat ulang alik Amerika Serikat Columbia meledak saat memasuki atmosfer Bumi pada 1 Februari 2003. Semua korban tewas. Namun, sebagian reruntuhan pesawat yang jatuh dari ketinggian 37 mil dari Bumi ada yang bisa ditemukan.<span id="more-20"></span><br />
Buku harian Ramon, seperti dikutip Associated Press, ditemukan setelah dua bulan peristiwa terjadi. Badan luar angkasa AS, NASA, menemukan 37 halaman buku harian Ramon dalam kondisi basah di sebuah lapangan di kota Palestine, Texas. Buku harian ini tergolong mujur, terhindar dari kerusakan akibat panas ekstrem saat ledakan. Tidak rusak akibat mikroorganisme saat ditemukan.</p>
<p>Banyak kalangan mengaku heran dan menganggap sebagai suatu keajaiban serta sulit dicari logikanya hingga benda itu masih selamat. Dari sejumlah kejadian sejenis selama ini, benda- benda seperti itu tak bisa ditemukan.</p>
<p>NASA tidak berkomentar banyak dan menyerahkan buku harian itu kepada istri Ramon, Rona, di Israel. Rona membawa buku harian itu ke ahli forensik di Museum Israel dan polisi.</p>
<p>Para petugas kemudian merestorasi buku harian itu. Setidaknya butuh waktu setahun untuk restorasi. Untuk proses pembacaan, kalangan ilmuwan membutuhkan waktu beberapa lama. Sekitar 80 persen dari buku harian itu berhasil dibaca.</p>
<p>Kisah buku harian yang juga tergolong unik adalah buku harian Dang Thuy Tram, dokter Vietnam yang menangani korban Perang Vietnam. Buku hariannya diterbitkan dalam bahasa Inggris, Last Night I Dreamed of Peace, tahun 2007. Thuy yang merawat pasukan Vietkong berkisah saat ia mulai menjadi dokter pasukan (8 April 1968) hingga dua hari menjelang tewas ditembak 20 Juni 1970.</p>
<p>Riwayat penerbitan buku harian itu berliku-liku. Pada 22 Juni 1970 patroli pasukan AS mendengar radio yang memutar lagu-lagu Vietnam. Pasukan AS memergoki empat orang, salah satunya Thuy.</p>
<p>Pasukan AS menembaki empat orang itu. Dua orang tewas, yaitu Thuy dan Boi (tentara). Dua lainnya lolos. Tentara AS meneliti barang bawaan dua orang yang tewas itu.</p>
<p>Barang-barang itu kemudian diteliti oleh intelijen AS untuk ditentukan kategorinya. Barang yang tidak punya informasi militer dimusnahkan. Fred Whitehurst bertugas menyeleksi. Ia melempar sejumlah barang ke drum pembakaran. Seorang penerjemah, Sersan Nguyen Trung Hieu, meminta agar buku harian Thuy jangan dibakar.</p>
<p>Fred menurutinya. Hieu lantas menerjemahkan buku harian itu. Hati Fred tersentuh oleh kisah-kisah dalam buku harian itu. Ia nekat melanggar aturan ketentaraan dengan membawa buku harian itu ke AS tahun 1972.</p>
<p>Baru tahun 1993 setelah ia keluar dari FBI, Fred mulai memikirkan buku harian itu. Ia punya saudara, Rob, yang mampu berbahasa Vietnam. Buku harian itu mulai diterjemahkan.</p>
<p>Selesai menerjemahkan Maret 2005, mereka membawa buku harian itu ke sebuah konferensi tentang Perang Vietnam di Texas. Mereka bertemu dengan veteran angkatan udara dan memberinya kopi buku harian itu. Dalam beberapa bulan kemudian, veteran ini ke Vietnam mencari keluarga Thuy.</p>
<p>Keluarga Thuy pun berhubungan dengan Fred. Fred berhasil berkomunikasi dengan Kim Tram, adik Thuy, lewat surat elektronik. Pada Agustus 2005 Fred bertemu keluarga Thuy di Hanoi. Selanjutnya, buku itu diterbitkan.</p>
<p>Buku harian Thuy ini dikagumi anak-anak muda Vietnam karena, di samping sifat Thuy yang pemberani dan idealis, buku ini juga berisi roman kasih tak sampai Thuy kepada pemuda bernama M. Kisah ini menjadi sisi lain Perang Vietnam yang sangat menyentuh.</p>
<p>Kisah dua buku harian itu mengingatkan kita pada penemuan buku harian legendaris, The Diary of Anne Frank, yang tidak kalah menariknya.</p>
<p>Buku harian Anne Frank sempat terserak di rumah yang diberi nama Secret Annex di Prinsengrahct 263, Amsterdam. Lembaran-lembaran buku harian itu terserak setelah pasukan Nazi mengubrak-abrik tempat itu dan mengirim para penghuninya ke kamp konsentrasi pada 4 Agustus 1944.</p>
<p>Buku itu ditemukan dua sekretaris di gedung itu, yaitu Miep Gies dan Bep Voskuijl. Saat mereka mengetahui Anne meninggal, keduanya menyerahkan buku harian itu kepada Otto Frank, ayah Anne. Oleh Otto, buku harian Anne diterbitkan setelah beberapa bagian diseleksi. (ANDREAS MARYOTO)</p>
<p><strong>Sumber: Koran Kompas, Rabu, 29 Oktoer 2008</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/kisah-di-balik-tiga-buku-harian.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bacaan Sastra Minim, Siswa Pun Kurang Berminat</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/bacaan-sastra-minim-siswa-pun-kurang-berminat.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/bacaan-sastra-minim-siswa-pun-kurang-berminat.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 19:15:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Minta Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Ketersediaan bahan bacaan sastra saat ini sangat terbatas, termasuk di sekolah-sekolah. Di sisi lain, kurikulum pengajaran lebih menekankan pada kebahasaan atau tata bahasa. Faktor-faktor inilah yang antara lain menyebabkan siswa kurang berminat terhadap sastra.
Guru Bahasa Indonesia dan Sastra di SMPN 90 Jakarta Timur, Nefita, Senin (13/10), mengatakan, rendahnya minat terhadap sastra terjadi terutama di sekolah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ketersediaan</strong> bahan bacaan sastra saat ini sangat terbatas, termasuk di sekolah-sekolah. Di sisi lain, kurikulum pengajaran lebih menekankan pada kebahasaan atau tata bahasa. Faktor-faktor inilah yang antara lain menyebabkan siswa kurang berminat terhadap sastra.</p>
<p>Guru Bahasa Indonesia dan Sastra di SMPN 90 Jakarta Timur, Nefita, Senin (13/10), mengatakan, rendahnya minat terhadap sastra terjadi terutama di sekolah minim fasilitas dan bahan bacaan sastra. ”Di sekolah unggulan, minat siswa terhadap sastra cukup tinggi. Bahkan, ada yang sangat menonjol. Sekolah-sekolah demikian tentu siap mengikuti kompetisi di bidang sastra, seperti olimpiade sastra,” ujarnya.<span id="more-18"></span></p>
<p>Akan tetapi, tidak demikian di sekolah yang serba terbatas. Dia mencontohkan, sekolah tempatnya mengajar di SMPN 90 yang terletak di kawasan industri, Jatinegara Kawung. Sebagian besar wali murid bekerja sebagai buruh pabrik. Sangat sulit mengharapkan anak membeli buku bacaan sastra.</p>
<p>”Jangankan buku sastra, membeli buku teks pelajaran saja sudah sulit,” ujarnya.</p>
<p>Di perpustakaan juga tidak tersedia cukup buku sastra. Nefita yang pernah menjadi pengurus perpustakaan di sekolah tersebut mengatakan, seharusnya minimal terdapat 50 judul buku sastra. Namun, di sekolah tersebut jumlah yang tersedia hanya sekitar 20 judul.</p>
<p><strong>Lebih ke tata bahasa</strong></p>
<p>Kurikulum pengajaran juga tidak mengacu kepada bagaimana agar siswa menggali sastra. Muatan kurikulum yang ada, sekitar 80 persen muatan kebahasaan atau tata bahasa Indonesia dan sisanya barulah tentang sastra.</p>
<p>Hal senada dikemukakan oleh Syamsudin, guru Bahasa Indonesia dan Sastra SMAN 35 Jakarta Pusat. Keberadaan guru-guru kreatif dan bahan bacaan sangat memengaruhi minat dan kemajuan pembelajaran sastra di sekolah. ”Gurunya harus mengerti sastra dan ditunjang buku bacaan di sekolah,” katanya.</p>
<p>Di SMAN 35, guru Bahasa Indonesia dan Sastra merupakan guru-guru senior di bidang tersebut. Bahan bacaan juga tersedia lengkap di sekolah yang Jurusan Bahasa dan Sastra berada di peringkat dua DKI Jakarta.</p>
<p>Hanya saja, gengsi terhadap Jurusan Bahasa dan Sastra memang masih dirasa kurang. Tak heran jika kemudian sedikit sekolah yang membuka jurusan tersebut dan memilih membuka jurusan Ilmu Pengetahuan Alam.</p>
<p>”Untuk jurusan IPA dan IPS, sekitar 70 persen kurikulum bahasa lebih ke arah tata bahasa dan sisanya baru sastra,” ujarnya.</p>
<p>Supaya anak tertarik dengan sastra, Syamsudin tidak sekadar menekankan kepada teori, melainkan juga praktik. Melalui kegiatan praktik akan terbentuk karakter dan tergali minat anak di bidang sastra. Sebagai contoh, Syamsudin memberikan tugas kepada anak untuk mewawancarai orang terkenal dan menulis laporannya. Terkadang mereka berlatih drama.</p>
<p><strong>Olimpiade sastra</strong></p>
<p>Gagasan olimpiade sastra di sisi lain mendapatkan dukungan dari para guru tersebut. Melalui olimpiade tersebut, Nefita mengatakan, apresiasi dan kecintaan siswa terhadap sastra akan meningkat. Anak termotivasi mempelajari sastra dan berusaha keras mengembangkan sastra dan menghasilkan karya yang baik.</p>
<p>” Anak yang berbakat di bidang tersebut juga bisa menggali minatnya,” katanya.</p>
<p>Guru pun akan belajar dan meningkatkan pengetahuannya seiring dengan membina anak- anak untuk ikut serta dalam ajang tersebut. <strong>(Kompas Cetak, 14/10/08)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/bacaan-sastra-minim-siswa-pun-kurang-berminat.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taman Baca Guahira masuk Koran</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/taman-baca-guahira-masuk-koran.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/taman-baca-guahira-masuk-koran.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 11:34:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[PADA hari Nuzulul Quran 17 Ramadhan 1428 H, secara mengejutkan Taman Baca Guahira dimuat di KORAN HARIAN ACEH. Pada rubrik Fokus koran tersebut, Harian Aceh mengangkat tema baca (iqra) bertepatan dengan hari turunnya Al Quran  yang pertama lkali tentang perintah membaca, &#8220;baca dengan namamu yang menciptakan&#8221;&#8211; Al Alaq.
Berikut tulisan yang saya copy dari situs [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PADA</strong> hari Nuzulul Quran 17 Ramadhan 1428 H, secara mengejutkan Taman Baca Guahira dimuat di KORAN <a href="http://harian-aceh.com" target="_self">HARIAN ACEH</a>. Pada rubrik Fokus koran tersebut, Harian Aceh mengangkat tema baca (iqra) bertepatan dengan hari turunnya Al Quran  yang pertama lkali tentang perintah membaca, <em>&#8220;baca dengan namamu yang menciptakan&#8221;</em>&#8211; Al Alaq.</p>
<p>Berikut tulisan yang saya copy dari situs koran <a href="http://harian-aceh.com">Harian Aceh</a>. Dan terima kasi telah sudi memuaatnya. <span id="more-16"></span></p>
<h2 class="contentheading"><a class="contentpagetitle" href="http://harian-aceh.com/index.php?/Fokus/17-ramadhan-dan-kisah-di-gampong-sejarah.html"> 17 Ramadhan dan Kisah di Gampong Sejarah </a></h2>
<div class="article-tools clearfix">
<div class="article-meta"><span class="createdate"> Rabu, 17 September 2008 03:09 </span></div>
</div>
<h2 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"><strong>Oleh Thayeb Loh Angen</strong></span></h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Di malam dingin mencekam dan hening kelam tanpa suara di Gua Hira pada 17 Ramadhan yang bersejarah itu,</span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"> <span> </span><span>Nabi Muhammad ketakutan sendiri karena mendapat wahyu pertama yang <span> </span>diturunkan Tuhan. Sekujur tubuh laki-laki Makkah itu tenggelam dalam keringatnya sendiri. Begitulah beratnya menerima sepotong kata dari Tuhan. Malam itu disebut malam nuzulul Quran. </span></span></p>
<div class="img_caption left" style="float: left; width: 317px;"><img class="caption" title="Kautsar lagi memilih-milih buku untuk dibacanya." src="http://harian-aceh.com/images/stories/fokus/kautsar-lagi-melihat-lihat-.jpg" border="0" alt="" align="left" />Kautsar lagi memilih-milih buku untuk dibacanya.</p>
</div>
<p><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kita semua tahu apa isi wahyu pertama itu, wahyu yang membuat sang penerima sakit berhari-hari setelahnya. Pepatah lama kita, ‘dengan membaca, jendela dunia terbuka bagi anda,’ sepenuhnya <span> </span>benar. Hampir s</span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">eribu lima belas abad lalu, kia sudah tahu itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Malam nuzul Quran itu malam titik berangkat sebuah agama langit yang kita anut, agama yang tumbuh pertama di tanah Arab, agama yang bernama Islam. Bagi yang tak mempercayai agama, cukuplah saja mengakui, keyakinan itu sebuah budaya yang bertahan ribuan tahun Gampong kita yang besar ini, Gampong yang bernama Aceh. Bagi Ateis itu bukan mengakui agama, namun mengakui bahwa agama telah jadi fenomenal budaya vital selama ribuan tahun di aGampong kita yang besar ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Di masa silam Aceh, sebelum kemaharajaan bertamaddun tinggi kita diporak-poranda bajingan Belanda, budaya membaca Aceh sangat tinggi bila dibandingkan negeri lain masa itu. Kenyataan lampau itu telah musnah, hanya dapat ditemui sedikit dari secuil pustaka tua, <em>Tgk Chik Tanoh Abee</em>. <span> </span>Kenyataan<span> </span>ini mencerminkan Aceh telah berbudaya jiwa membaca sejak ratusan tahun lalu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ribuan bukti selain pustaka tua itu telah dibumi-apikan Belanda tak beradab di akhir abad sembilan belas Masehi. Namun, lahirnya karya sastra bernilai tinggi nan indah seperti <em>Hikayat Prang Sabi, Hikayat Prang Gompeuni, Hikayat Prang Peuringgi, Hikayat Malem Dagang, Hikayat Putroe Geumbak Meuh, dsb.</em> adalah bukti fenomenal lain, bahwa hanya bangsa yang berbudaya membaca tinggi mampu menghadirkan karya sastra bermutu tinggi nan indah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Telah diakui peneliti Barat, <em>Hikayat Prang Sabi,</em> sepanjang sejarah manusia, satu-satunya puisi panjang yang sanggup mengobarkan api semangat komunitas besar masyarakat untuk berperang sampai menang atau tewas. Mereka bilang, tulisan itu berdaya magis ampuh dari sejuta arwah penyihir yang bersatu dalam puisi sakti.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"><span> </span>Masyarakat Aceh di silam itu membaca hikayat di pedium-pedium seantero Gampong. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Setiap tahun di setiap Gampong kecil dalam Gampong kita yang besar ini, dikukuhkan pertunjukan baca hikayat sampai beberapa kali. Ketika pembacaan hikayat pedium diselenggarkan, masyarakat berbondong-bondong menyaksikan mendengar pembacaan puisi balada berirama syahdu itu dalam temaram purnama. Ya, temaram purnama, karena baca hikayat dibuat ketika bulan terang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ibu-ibu membawa tikar, ayunan bayi, makanan ringan, selimut, bekal menyaksikan pembacaaan hikayat oleh penyair di pedium berlampu panyot culot, yang biasanya sampai dini hari setiap malam dalam sepekan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Masa itu, naskah harus ditulis manual, belum lahir Guttenberg, bocah jenius berkebangsaan Jerman, penemu mesin cetak itu. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Agar dapat dinikmati public, maka, dilaksanakan pembacaan puisi balada itu di podium dengan persiapan matang. Berbeda dengan penikmat karya tulis zaman ini yang bisa mendapatkan buku sebanyak yang diinginkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Sudah tiba masanya kita panggil kembali roh suka membaca rakyat Aceh yang sudah hilang lebih seratus tahun bersama perang licik. Dalam hal ini pemerintah Aceh sekarang seyogyanya membuat iklan-iklan penyeru membudayakan membaca masyarakat Aceh. Buatlah baliho-baliho, spanduk-spanduk seantero Aceh, iklankan di media elektronik, dan selipkan seruan tak lansung dalam klip-klip film dan lagu Aceh sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"><span> </span>Fasilitasilah media baca, seperti bulletin-buletin berisi pesan moral, dsb. Jika hal ini dilakukan, perlahan-lahan Aceh akan maju dalam berfikir, tidak lagi preh dahoh dan peusalah gop. Selain pemerintah, ulama-ulama pun harus menganjurkan gemar membaca pada masyarakat kita. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ulama dan tokoh Aceh seyogyanya mensensor buku-buku yang tersebar di toko buku komersial seAceh. Artinya sederhana, tokoh agama dan tokoh masyarakat harus lebih dahulu membaca buku-buku itu agar tahu mana buku yang sesuai dengan islam dan mana buku sekuler materialis. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Hal ini ironi, mengingat ulama kini mencibir buku-buku yang<span> </span>berserakan di toko, tetapi, para pelajar, mahasiswa, masyarakat pencinta buku, membacanya. Sehingga pemikiran-pemikiran yang tergelincir dari tauhid diserap mayarakat. Pemikiran rakyat Aceh terbelah karenanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"><span> </span>Sedangkan Teungku-Tengku sibuk dengan kebijaksanaan beragama secara konvesional, tanpa menyadari, hati umat Islam Aceh telah dicuri orang dari jauh. Jauh sekali, sehingga takkan mungkin dipanggil pulang bertahun-tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ibarat mau mengalahkan pencuri professional, orang harus belajar trik pencuri agar dapat mengantisipasi kejahatannya. Begitu pun tokoh agama dan tokoh masyarakat Aceh harus membaca buku-buku itu, sebagai perbandingan agar dapat menyelamatkan ummat yang tauhidnya kurang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Pemerintah dan ulama sudah saatnya membudayakan membaca rakyat Aceh, memfasilitasi mendapatkan buku-buku bermutu yang sesuai ajaran nabi Muhammmad Saw. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Begitulah, jika mau Aceh bermartabat, kita harus kembali kepada ayat alquran yang pertama diturunkan seperti endatu-endatu kita. Semoga Allah Swt. merahmati mereka di alam baqa sana. Semoga kita cucu-cucunya dapat membaca tanda-tanda zaman ini. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Amin!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Begitulah, kalau kita mau Gampong kita yang besar ini maju. Kalau kita tak melakukannya, boleh saja, tapi orang di Pulau Jawa itu sudah melakukannya. Tentulah kita tak mau tertinggal seperti kemarin.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">****</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Zaman ini, kita terkesan kurang membaca Al Quran, meski bulan Ramadhan. Umat sibuk di depan televisi menyimak hiburan tidak Islami, hiburan komersial milik kartel India di pulau seberang. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Syukur, bila kita dilahirkan dengan hobi membaca, dapat kawan juga hobi membaca. Dan lebih senang lagi kalau tetangga juga hobi membaca. Apalagi yang hobi membaca puasa memiliki banyak koleksi buku bacaan. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ada juga yang hobi membaca, tapi tak ada koleksi buku untuk membaca. Nah, yang model peminjam buku begini banyak, termasuk penulis ini. Ada juga orang yang merelakan beberapa koleksi buku yang Ia miliki untuk dibaca orang lain.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Perintah membaca dari Tuhan kita mencakup dua dimensi, yakni, tersurat dan tersurat.<span> </span>Ada yang pintar membaca keduanya. Secara tersurat terbaca di naskah Quran, dan membaca keadaan sekitar disebut tersirat. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kisah di Sebuah Gampong </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kendati kesejahteraan Gampong itu pada tingkat menengah, pengaruh yang tidak sehat terhadap siswa, pelajar, remaja dan pemuda desa pastilah ada. Penyakit sosial masyarakat telah berkeliaran di sana, menancapkan pengaruh, yaitu narkoba, pergaulan tidak sehat dan kurangnya sarana untuk menyalurkan kegiatan yang positif.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Rasa kegelisahan tersebut sangat menghantui orang tua terhadap perkembangan anak-anaknya. <span> </span>Fahmi, seorang pemuda gampong Muenasah Timu pun merasakan keresahan itu. Ia menginginkan remaja dan pemuda di Gampong itu mengisi hari-hari luangnya dengan kegiatan yang positif.</span></p>
<div class="img_caption left" style="float: left; width: 300px;"><img class="caption" title="Taman Baca Masyarakat Guahira yang dikelola oleh Yayasan Guahira Community di desa Kelurahan matangglumpangdua, Meunasah Timu, Peusangan-Bireuen." src="http://harian-aceh.com/images/stories/fokus/taman-baca-guahira.jpg" border="0" alt="" width="300" height="366" align="left" />Taman Baca Masyarakat Guahira yang dikelola oleh Yayasan Guahira Community di desa Kelurahan matangglumpangdua, Meunasah Timu, Peusangan-Bireuen.</p>
</div>
<p><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Untuk mewujudkannya, Fahmi mengajak remaja dan pemuda <span> </span>sekitar rumahnya untuk mengisi waktu luang dengan belajar. Syukur, keinginan tersebut disambut baik oleh adek-adek <span> </span>sekitar rumahnya. Ia juga merelakan beberapa koleksi buku yang Ia miliki untuk dibaca orang lain. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kebetulan, di depan rumah Fahmi, ada sebuah kios kosong yang tidak di pakai lagi. Kios yang dibangun tahun 1990 berdinding papan sudah nampak renggang. Kios itu kalau dilihat dari depan sudah miring ke kanan dan atapnya bocor.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kios itu pun dibersihkan oleh para muda penyuka baca. Atapnya yang bocor ditempel kembali. Untuk plafon mereka pakek bungkusan zak semen, senagai alternatif karena tak sanggup beli triplek. Lalu, agar sedikit artistik mereka dekor model stalakmit dalam sebuah gua. Setelah selesai, akhirnya kios yang memang dasarnya jelek itu jadilah sulapan sebuah lorong dalam gua dan gelap.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Karena tempat ini akan jadi tempat berteduh untuk membaca dan belajar, penyuka baca di sana pun memberi nama Guahira. Nama itu mereka adopsi dari nama Gua Hira’, tempat pertama kali turunnya ayat ayat Al Quran di waktu Nabi Muhammad Saw ber-khalwat di gua angker tersebut. Ayat itu menerangkan, “Allah menciptakan manusia dari benda yang hina. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kemudian memuliakan manusia dengan mengajar membaca, menulis dan memberinya pengetahuan. Tetapi <span> </span>konon, manusia tidak ingat lagi akan asalnya, karena itu ada manusia yang tidak mensyukuri nikmat Allah, bahkan ada yang <span> </span>bertindak melampaui batas karena melihat dirinya telah merasa serba cukup.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Setelah satu bulan menepati tampat baca baru, para penyuka baca di Gampong kecil itu ngumpul bersama dan mengajak kawan lain untuk belajar bersama di komunitas itu. Masyarakat di sekitar pun amat <span> </span>mendukung kegiatannya. Seiring penambahan anggota baru, koleksi buku pustaka itu pun bertambah. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Penyuka baca Gampong termaksud <span> </span>membentuk komunitas di rumah hadiah guna itu. Rumah baca pun jadilah tempat kajian keislaman dan umum, juga jadi tempat belajar komputer . Bersama berjalannya waktu,<span> </span>mereka sepakat membentuk taman bacaan gampong.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Taman bacaan itu terealisasi berkat penyuka baca yang bersatu dan bersemangat tinggi. Mereka mencari alamat baru untuk Guahira, yaitu <a href="http://www.guahira.or.id/">http://www.guahira.or.id</a>. Perintah bacalah <span> </span>mereka praktikkan, dan akhirnya mereka pintar membaca, lalu lahirlah situs itu. Itu hanya satu contoh dekat gebrakan membaca di Gampong kita yang besar ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Pada satu kesempatan, penyuka baca Gampong itu mendapat tambahan buku, yang terbanyak disumbangkan oleh keluarga (Alm) Zulkifli, pengelola toko buku ‘Pustaka Almuslim’. Berkat sumbanganya, pustaka mini itu dapat mengeloksi ratusan buku. Tentulah para penyuka baca di sana girang dan melompat bagai anak ayam kedapatan sebuah kamtung jagung.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Setelah melihat komunitas baca itu berkembangan pesat dan masyarakat Gampong itu mendukung, para pengurus belajar dan menbaca itu didaftarkan menjadi sebuah lembaga kuat dan berbadan hukum. Tepat pada 20 Desember 2003 kelompok belajar Guahira resmi menjadi Yayasan berdasarkan akte Notaris Abdullah Ismail, SH. Akte dengan NOMOR:15.HT.20.12-TH.2003.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Gampong kecil itu bernama Meunasah Timu, sebuah Gampong<span> </span>secara administrasi masuk dalam Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Meunasah Timu memiliki luas wilayah 47,3 ha dengan 19 ha adalah sawah. Gampong<span> </span>kecil itu punya tiga lingkungan, yakni, lingkungan T. Assalam, lingkungan T. Cut Ali dan lingkungan Affan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Bila mahu ke Gampong kecil itu, mudah saja, kita naik kenderaan darat <span> </span>selama kira-kira 15 menit,<span> </span>kita tempuh jalan sejauh 10 km dari pusat kota kabupaten Bireuen. Dan tibalah di Gampong kecil itu. Lokasinya di tepi utara pusat kota Matangglumpangdua, ibu kota Kecamatan Peusangan yang terkenal dengan Sate Matang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Masyarakat Menasah Timu mempunyai karakteristik urban tingkat kesejahteraan berada pada tingkat menengah. Jumlah penduduk mencapai 1756 orang dengan jumlah kepala keluarga (KK) sebanyak 370. Mayoritas penduduknya berprofesi PNS. <span> </span>Bila kita rinci, 50 persen PNS, wiraswasta 35 persen, petani sebanyak 10 persen, dan lain-lain 5 persen.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Suatu ketika, pengelola uang takziah Aceh-Nias membuat program pendirian Taman Bacaan Masyarakat (TBM) <span> </span>di Gampong itu melalui Satket terkait propinsi Aceh. Maka Yayasan Guahira Community Meunasah Timu, Kelurahan Matang Glumpangdua, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, dipercayakan untuk mengelola TBM tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Begitulah kisah para penyuka baca di Gampong kecil itu. Dan pada Rabu, 11 Juli 2007, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen, meresmikan <em>Taman Bacaan Masyarakat Guahira Community</em> di Gampong itu. Taman Baca Guahira pun jadi TBM pertama dan sampai kini satu-satunya di Kabupaten Bireuen. Taman Bacaan Guahira dikelola oleh Yayasan Guahira. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kisah tadi hanya satu di antara sekian banyak kisah di Gampong kecil seantero Aceh. Kita bisa melihat sendiri, apa yang berguna dan apa yang sia-sia dilakukan. Terserah saja. Di Gampong kita yang besar ini tidak ada peraturan tentang menempuh cara hidup. Gampong kita ini adalah Gampong tak bertuan. Masing masing tokoh kita hanya pikirkan diri dan keluarganya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Gampong kita ini sedang menghadapi pancaroba identitas dirinya yang hilang ditelan musim tak bernama, di ujung sebuah keputusan tak terbukti. Gampong kita yang besar ini sedang mencari kesempurnaan yang telah puluhan tahun ditinggalkan orang, karena itu dianggap kuno.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Tidak ada yang pasti di Gampong kita ini. Nuzulul Quran tak pernah diperingati lagi. Kalu pun ada hanya seremoni, bukan menghayati pesan Tuhan dalam ayat itu. Mungkin pula kita menganggap <span> </span>peringatan malam turun wahyu pertama untuk Nabi Muhammad itu memang tak perlu sama sekali. <span> </span>Lihatlah sendiri di Gampong kita yang besar ini. Kesejatian Quran telah hilang semisal hilangnya kelam karena pagi datang. Kesejatian Quran hanya waktu MTQ dan di meunasah tuha yang lampunya sering mati akhir-akhir ini. Lampu wahyu bercahaya pedoman hidup manusia sebagian memang telah padam.[]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/taman-baca-guahira-masuk-koran.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>‘Mahkota Rajadiraja Aceh’ dan Masa Depan Sastra</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/%e2%80%98mahkota-rajadiraja-aceh%e2%80%99-dan-masa-depan-sastra.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/%e2%80%98mahkota-rajadiraja-aceh%e2%80%99-dan-masa-depan-sastra.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 05:35:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[“Sastra Aceh, tradisional ataupun modern dan kontemporer,
 sangat mungkin berkembang pesat ke depan, 
hadirkan ruang ekspresi yang luas bagi sastrawan, 
tumbuhkan apresiasi, yang penting, 
 penghargaan/penerimaan dari berbagai pihak terhadap sekecil 
apapun karya yang dihasilkan oleh anak bangsa ini.” 
Mukhlis A Hamid 
 ‘Kita harus mampu menciptakan 
kejayaan Aceh di masa depan melebihi 
kegemilangan masa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<address class="MsoNoSpacing">“Sastra Aceh, tradisional ataupun modern dan kontemporer,</address>
<address class="MsoNoSpacing"> sangat mungkin berkembang pesat ke depan, </address>
<address class="MsoNoSpacing">hadirkan ruang ekspresi yang luas bagi sastrawan, </address>
<address class="MsoNoSpacing">tumbuhkan apresiasi, yang penting, </address>
<address class="MsoNoSpacing"> penghargaan/penerimaan dari berbagai pihak terhadap sekecil </address>
<address class="MsoNoSpacing">apapun karya yang dihasilkan oleh anak bangsa ini.” </address>
<address class="MsoNoSpacing"><strong>Mukhlis A Hamid</strong> <span id="more-12"></span></address>
<address class="MsoNoSpacing"> ‘Kita harus mampu menciptakan </address>
<address class="MsoNoSpacing">kejayaan Aceh di masa depan melebihi </address>
<address class="MsoNoSpacing">kegemilangan masa Iskandar Muda,</address>
<address class="MsoNoSpacing"> tetapi tetap berakar Aceh yang Islami, </address>
<address class="MsoNoSpacing">ke depan, sastra Aceh akan maju pesat, </address>
<address class="MsoNoSpacing">sekarang pun, kemampuan penulis sastra Aceh</address>
<address class="MsoNoSpacing">sederajat dengan penulis sastra di Jakarta. </address>
<address class="MsoNoSpacing">Yang saya pelajari setelah amuk gelombang 2004,</address>
<address class="MsoNoSpacing">orang Aceh bukanlah bangsa peminta,</address>
<address class="MsoNoSpacing"> mereka tetap tegar menghadapi apapun </address>
<address class="MsoNoSpacing">karena Aceh tak berpengalaman hidup terjajah’ </address>
<address class="MsoNoSpacing"><strong>Zoelfikar Sawang </strong></address>
<p class="MsoNoSpacing">
<address class="MsoNoSpacing">‘Paska amuk lantak laut, kekuatan terbesar di Aceh</address>
<address class="MsoNoSpacing">adalah semangat, itu harus dipertahankan. </address>
<address class="MsoNoSpacing">Semaraknya sastra Aceh ke depan </address>
<address class="MsoNoSpacing">tergantung pada semangat itu,’</address>
<address class="MsoNoSpacing"><strong>Sulaiman Tripa</strong> </address>
<p class="MsoNoSpacing">
<address class="MsoNoSpacing" style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://harian-aceh.com/images/stories/focus/spektrum-banda-aceh.jpg" alt="" width="414" height="450" /></address>
<address class="MsoNoSpacing">Judul : Spektrum Banda Aceh</address>
<address class="MsoNoSpacing">Katagori : Ilmiah sejarah</address>
<address class="MsoNoSpacing">Editor : Ampuh Devayan, Mukhlis A. Hamid, Sulaiman Tripa </address>
<address class="MsoNoSpacing">Penerbit : Dewan Kesenian Banda Aceh</address>
<address class="MsoNoSpacing">Tebal : xiv + 170 Halaman </address>
<address class="MsoNoSpacing">Cetakan : 1, Desember, 2007 </address>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">‘Penulis dan Peneliti sejarah adalah pahlawan, sementara sastrawan adalah saksi abadinya, dan kita tahu, seindah apapun sebuah tulisan, ia tak bermakna tanpa seorang pembaca’</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Dalam buku “Spektrum Banda Aceh” ini dimaktubkan, bahwa 1 Ramadhan 601 H bertepatan dengan 22 April 1205 M, Banda Aceh diproklamirkan oleh Sulthan Alaidin Johan Syah. Sejak itu dan ratusan tahun sesudahnya, Banda Aceh merupakan ibukota negara berdaulat penuh yang memimpin seantero Pulau Sumatera dan Semenanjung Melayu, sebagi salah satu Negara besar dan maju dunia.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Abad-abad berganti terjadi sebagaimana hukum alam, bahwa kejayaan dan kehancuran datang bertukar mengisi waktu. Buku sejarah ini mencatat, bahwa 662 tahun setelah Banda Aceh berdiri dan berjaya dalam segala bidangnya, malapetaka bagi bangsa kita datang tak diundang.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Itu bermula ketika bajak laut Belanda menghancurkan istana sulthan Aceh, dalam waktu 1873-1874, mahkota mutiara raja diraja Aceh Darul Al Salam terjatuh bersimbah darah demi mempertahankan kedaulatan dan iman bangsa. Banda Aceh tua pun diganti namanya menjadi Kutaraja oleh Van Sweaten.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Sejak 90 tahun setelahnya, 1963, nama Kutaraja dihapus oleh menteri Jakarta, dan nama Banda Aceh tua dipakai lagi sampai sekarang. Dan kita boleh saja menyebut, bahwa kini Banda Aceh hanya tinggal nama. Apa yang telah terjadi antara kurun waktu tujuh ratus tahun itu, tidaklah cukup kita bicarakan di halaman fokus ini. Lagi pula, untuk apa kita tulis di sini kalau dalam buku tersebut sudah lengkap dan tersusun rapi.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Buku ‘Spektrum Banda Aceh’ ini adalah hasil kumpulan tiga sastrawan Aceh, Ampuh Devayan, Mukhlis A Hamid, dan Sulaiman Tripa, yang difasilitasi oleh sastrawan Aceh, Zoelfikar Sawang, selaku pejabat ketua Dewan Kesenian Banda Aceh sekarang. Buku tersebut dirintis selama satu tahun, bahannya dikumpulkan dari tiga belas buku sejarah tentang Aceh, yang kebanyakan hasil penulis luar negeri.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Dari sekian banyak referensi, pengumpul data sejarah kita yang tekun dan teliti tersebut mengambil hal yang penting untuk kita ketahui, sebagai generasi Aceh masa kini. Perlu kita tegaskan, bahwa pengumpul data sejarah adalah pahlawan. Jadi dalam melahirkan buku ini kita punya empat pahlawan, yang foto mereka terpatri di halaman ini.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Namun, tentulah mereka dibantu oleh beberapa yang lain, sebagaimana yang telah kita bicarakan kemarin, bahwa dalam sebuah tim, satu orang tak berguna tanpa ada yang lain. Selaku penyuka sejarah, kita berterimakasih atas ketekunan dan ketelitian para sastrawan kita dalam mempersatukan sejarah yang terpisah tentang Banda Aceh menjadi satu kesatuan yang dapat dikatakan ‘utuh’.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Untuk mengetahui isi buku tersebut, tak ada yang lebih baik selain membacanya sendiri. Dan di sini kita bicara perkara beberapa pendapat Zoelfikar Sawang tentang sejarah Aceh dan sastra Aceh, yang dikatakannya di kantor budaya tersebut.</p>
<p class="MsoNoSpacing">Buku “Spektrum Banda Aceh” ini rencananya akan dijadikan referensi dan rujukan pelajaran di sekolah-sekolah seluruh wilayah dalam provinsi Aceh. Rencana ini, menurut pengumpul data sejarah itu, akan meluruskan sejarah Aceh yang selama ini sengaja dihapus dari daftar mata pelajaran sekolah.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Kita bersyukur, kalau buku penting ini dijadikan mata pelajaran di sekolah seluruh Aceh, karena dengan membaca sejarah yang telah teruji mendekati kebenaran ini, mayarakat Aceh akan dapat mengembalikan rasa percaya dirinya yang selama ini hilang.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Saat ditemui Harian Aceh di kantornya, Sabtu, (16/8), Zoelfikar Sawang, menyebut tentang sejarah Aceh dan perkembangan sastranya serta prediksi penyair itu tentang masa depan Aceh yang kita puja dan kadang kita caci ini. Ia menyebutkan, bahwa sejarah Aceh harus dipelajari agar kita tahu apa yang telah terjadi untuk mampu mengukur diri dan menyusun ancang-ancang untuk hari esok yang gemilang.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Kata orang, tidak ada yang lebih membahayakan bagi sebuah bangsa selain memiliki kaum mudanya yang pesimis. Zoelfikar sepenuhnya yakin akan hal itu. Dan penyair itu bilang, ‘Kita harus mampu menciptakan kejayaan Aceh di masa depan mulai kini melebihi kejayaan Aceh masa silam, tetapi tetap berakar Aceh yang Islami.’</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Zoelfikar sangat optimis akan masa depan sastra Aceh. Kata dia, ke depan, sastra Aceh akan maju pesat, sekarang pun, lanjutnya, kemampuan penulis sastra Aceh memiliki kemampuan yang sederajat dengan penulis sastra yang tinggal di Jakarta. Kalau demikian adanya, lalu mengapa penulis Jakarta tampaknya lebih dikenal dan hebat? Kita pasti hantam tanya begitu.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Ia menjawab bahwa, terlihat seakan-akan karya orang Jakarta lebih hebat karena mereka tinggal di pusat sebuah negara, dan di Jakarta fasilitas dan semacam pendukung lain terpenuhi. Selain itu, terutama hal mutu karya, menurut Zoelfikar, yang ditonjolkan di Jakarta pun bisa dihadirkan oleh sastrawan di Aceh. Semua sudut bumi bisa menghadirkan orang jenius, bukan perkara tempat, namun kegigihan usaha dan terus memperbaiki karyalah yang menentukan.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Menyangkut hal tersebut, Mukhlis A Hamid, punya pandangan, bahwa ke depan, sastra Aceh (tradisional ataupun modern dan kontemporer) punya kemungkinan untuk berkembang. “Sangat besar kemungkinan tersebut, sejauh adanya ruang ekspresi yang luas bagi sastrawan, seperti adanya apresiasi dari masyarakat dan pemerintah; dan adanya usaha pendidikan, pelestarian, dan pengembangan dari berbagai pihak,” ujarnya.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Menurutnya, penyediaan ruang sastra dan budaya di surat kabar lokal merupakan salah satu usaha yang patut diacungi jempo,l karena tanpa ruang ekspresi, karya sastra hanya ada dalam ingatan pemilik aktif ataupun catatan lepas para penciptanya.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Mukhlis berharap, agar masyarakat memberi apresiasi terhadap karya yang dihasilkan anak bangsa ini. Sekecil apapun apresiasi tersebut, katanya, akan mendorong anak bangsa untuk terus berkarya. “Jangan mencemooh, apalagi mematikan, usaha dari siapapun untuk menghasilkan, mendokumentasikan, ataupun menciptakan hal-hal baru berdasar karya yang sudah ada,” harapnya.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Mukhlis A. Hamid adalah laki-laki yang lahir di Peukan Bada, Aceh Besar, 2 Desember 1962. Sejak 1988 menjadi dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, FKIP, Univ. Syiah Kuala, Banda Aceh. Ia kini S2 bidang Ilmu Sastra (Filologi) pada Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, 1993.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Mukhlis  telah mengikuti beberapa training/pelatihan khusus di dalam dan di luar negeri, antara lain Pelatihan Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya, PPISB Syiah Kuala University, Darussalam, Banda Aceh, Juli 1994 – Maret 1995; Workshop Penulis Buku Ajar Perguruan Tinggi, Bogor, Jawa Barat, Juli 1996; Training of Trainer in Human Right and Refugees Right for Police, facilitated by UNHCR, Bogor, 2001;</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Ia juga mengikuti Metode Pembelajaran untuk Orang Dewasa dan Universitas Terbuka, Padang, Sumatera Barat, Agustus 2001; TOT Metode Pembelajaran Kontekstual, Surabaya, September 2003; In Country Training for Mediator and Peace Keeper, facilitated by Norwegian Embassy, Bogor, Jawa Barat, Oktober 2004; Conflict Transformation and Human Rights Training, Lillehammer and Oslo, Norway, Juni 2005</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Di samping menjadi penulis opini dan hasil telaah kesastraan di koran dan jurnal lokal, penulis juga menjadi editor dan tim penyusun beberapa buku yang diterbitkan di Banda Aceh, antara lain  editor buku Takdir-Takdir Fanshuri, Buku Kumpulan Esai Sastra dan Budaya (DKB, 2002); editor buku Celoteh Budaya Politik Aceh, Buku kumpulan Esei M.A.Glanggang (DKB, 2003); tim penyusun buku Cerita Rakyat Nanggroe Aceh Darussalam (Dinas Kebudayaan, 2004/2005).</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Bukunya dengan judul Sastra dan Problematika Pembelajarannya di Aceh diterbitkan oleh Aliansi Sastrawan Aceh (ASA), Banda Aceh, 2007; Di samping itu, penulis juga terlibat sebagai anggota tim penulis buku “Ensiklopedi Aceh” (Forum Lsm Aceh-BRR NAD-Nias, 2007); “Spektrum Banda Aceh” (DKB, 2008); tim penulis buku “Leksikon Sastra Aceh” (DKB, 2008);</p>
<p class="MsoNoSpacing">Salah satu tulisannya “Refleksi Sikap Hidup Kemelayuan dalam Hadih Maja Aceh” diterbitkan dalam buku Bahasa dan Pemikiran Melayu/Indonesia Menyongsong 2025” (Irwandy, Editor, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 2007).</p>
<p class="MsoNoSpacing">Laki-laki ini pun mengaku sering menjadi dewan juri dalam berbagai lomba penulisan dalam beragam even, antara lain:</p>
<p class="MsoNoSpacing">Fasilitator pelatihan menulis bagi guru SD, SMP, SMA dalam Provinsi NAD (2002, 2003, 2004, 2006, 2007; Fasilitator pelatihan menulis bagi ulama dan santri dayah, RTA/HUDA NAD, 2007; Dewan juri lomba karya ilmiah remaja (KIR) SMP/SMA, Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh, 2003, 2005, 2006; Dewan Juri lomba penulisan karya ilmiah bagi guru LPMP NAD, 2005, 2006;</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Dewan Juri lomba penulisan esai, cerpen, novel perdamaian, Komunitas Tikar Pandan, 2006; Dewan Juri lomba penulisan resensi buku, Aceh Institute, 2007. Dewan Juri Anugrah Sastra, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NAD, 2008, yang memengangkan lima sastrawan Aceh, yakni, Arafat Nur, Musmarwan Abdullah, Saiful Bahri, Sulaiman Tripa, dan Rosni Idham.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Tentu saja, banyak lagi sastrawan kita yang tak sempat kita perkenalkan kali ini, dan di kesempatan lain kita perkenalkan satu persatu. Sebab, ruang ini tak cukup memuat semua penulis sejarah, sastrawan, karena jumlahnya yang mencapai ratusan lebih.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Tentang buku ‘Spektrum Banda Aceh’, seperti disebut tadi, kita memang tak mengulas isinya, karena isinya harus dibaca secara utuh oleh setiap orang Aceh, tepatnya bacaan wajib. Menyangkut gaya dan aliran tulisnya, kita tak perlu menyebutkan, karena buku ini buku sejarah, bukan karya sastra.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Mengenai masa depan sastra yang dicetuskan sastrawan kita tadi, memang begitulah adanya. Masa depan sastra di Aceh sedang membuka diri setelah sekian tahun terkucil prahara politik. Kita bisa membandingkan Aceh dengan Negara luar, setiap Negara maju pastilah sastranya maju. Karena sastra adalah cermin dari budaya suatu bangsa.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Dan perlu kita tegaskan, bahwa, sastra maju karena ada hubungan timbal balik, yakni, ada penulis, ada pembaca dan ada media penyampai karya. Kita sudah lihat sendiri, di kampong kita yang besar ini, hal itu sudah tampak berkembang dengan bunganya yang harum.</p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">Sebelum kita akhiri bincang-bincang kali ini, tersebutlah sebuah kalimat, bahwa, seindah apapun sebuah tulisan, ia tak bermakna tanpa ada pembaca.<strong>(HA/21/08/08/Thayeb Loh Angen)</strong></p>
<p class="MsoNoSpacing">
<p class="MsoNoSpacing">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/%e2%80%98mahkota-rajadiraja-aceh%e2%80%99-dan-masa-depan-sastra.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

