Spiritual Reading: Mengingatkan Tentang Prioritas Bacaan

Resensi No Comments | 797 views

Ragam metafor kerap dipakai orang manakala membicarakan aktivitas baca membaca. Sebagaian mengatakan, membaca adalah jendela dunia. Membaca adalah gudang ilmu. Membaca menghapus kebodohan. Membaca adalah anu. Membaca adalah bla bla. Begitu kaya perumpamaan yang telah dilahirkan para pembaca. Anda pun bisa melahirkannya. Kerena memang tak ada larangan.

Bagi saya, bacaan adalah racun yang mengobrak-abrik tatanan segi pemikiran seseorang. Baik menjungkirbalikkan yang baik menjadi buruk atau sebaliknya. Buku bisa menyakiti. Buku juga bisa menjadi penawarnya. Akibat membaca, Muslim jadi Kafir. Kafir menjelma Muslim. Laki-laki alim menjadi bocah urakan. Si urakan mendadak alim. Gadis berjilbab menjadi seksi, dan si seksi segera berjilbab. Begitulah bacaan mengaduk-aduk otak pemahaman kita. Baca selengkapnya…

Resensi buku Aceh Pungo

Resensi No Comments | 1,312 views

Oleh Baun Thoib Soaloon Siregar — Ketika saya mencari-cari buku referensi kuliah pada sebuah toko buku, tiba-tiba seseorang (entah penjual atau pembeli) nyeletuk: ”Aceh pungo, dua uroe teuk, kon le ureung Aceh nyang pungo, Batak-Batak pih kapungo.” Saya hanya menangkap potongan ungkapan tadi dan tidak tahu sama sekali pangkal ujung pembicaraan. Karena penasaran saya bertanya: “Pakon, Dek!” Ia lantas menunjuk sebuah buku pada rak bagian tengah, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Oh, ini rupanya “Aceh Pungo”. Lalu, apa kaitannya dengan Batak? Kenapa pula orang Batak harus ikut-ikutan pungo? Apakah ini terkait dengan demo maut yang terjadi di Medan baru-baru ini, atau…? Ah, daripada menduga-duga, lebih baik buku ini dibaca dulu, pikirku seketika. Baca selengkapnya…

Resensi Buku: "Santeut, Kumpulan Khotbah Jender Pelajar Aceh"

Resensi No Comments | 541 views

Oleh Djuneidi Saripurnawan — Masyarakat Aceh, hingga kini, terkenal dengan budaya lisannya, dan budaya tulis (literatur) masih didominasi kalangan elit. Bahasa Aceh secara lisan telah bertahan untuk perjuangan kemerdekaan masyarakat Aceh, menjadi semacam bahasa sandi yang tidak banyak dimengerti oleh penjajah Belanda dan ‘orang Jakarta’. Namun, sayang-disayang, semua itu kurang diimbangi dengan budaya tulis-menulis. Hingga kini, kita bisa menemukan rendahnya kemampuan baca-tulis-berhitung (Calistung) dan minat baca dari para pelajar dan mahasiswa di Aceh. Hanya ada satu-dua toko buku yang representatif, dan jarang sekali menemukan resensi buku pada surat khabar harian atau media lokal Aceh. Tentang Aceh lebih banyak ditulis oleh orang-orang luar (outsider). Baca selengkapnya…

Taman Baca Guahira masuk Koran

Buku, Kliping, Minat Baca, Pustakaloka, Resensi 3 Comments | 690 views

PADA hari Nuzulul Quran 17 Ramadhan 1428 H, secara mengejutkan Taman Baca Guahira dimuat di KORAN HARIAN ACEH. Pada rubrik Fokus koran tersebut, Harian Aceh mengangkat tema baca (iqra) bertepatan dengan hari turunnya Al Quran yang pertama lkali tentang perintah membaca, “baca dengan namamu yang menciptakan”– Al Alaq.

Berikut tulisan yang saya copy dari situs koran Harian Aceh. Dan terima kasi telah sudi memuaatnya. Baca selengkapnya…

Aceh Kembali Menulis

Resensi No Comments | 706 views
Judul : Aceh dan Romatisme Politik
Penulis : Mukhlisuddin Ilyas
Terbit : Januari 2008
Halaman : xxiii + 121
Penerbit : Bandar Publishing, Banda Aceh
Distributor : Diandra Publishing, Yogyakarta

**Oleh Baun Thoib Soaloon SGR

Geliat menulis semakin bersemi di Aceh. Ini salah satu pertanda baik setelah daerah ini mengalami kemunduran akademik dan intelektual, dampak dari konflik politik yang berkepanjangan serta tsunami. Konflik politik telah menyedot begitu banyak sumber daya Aceh sehingga pendidikan mandeg, merenggut nyawa banyak kader intelektual, membelenggu kebebasan berpikir dalam menyuarakan pendapat, serta mengunci optimisme dan semangat berpikir positif karena selalu dihantui rasa takut. Baca selengkapnya…