<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Taman Baca Guahira &#187; Resensi</title>
	<atom:link href="http://tamanbaca.guahira.com/category/resensi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tamanbaca.guahira.com</link>
	<description>Karena membaca adalah jendela dunia...</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jul 2010 03:39:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Spiritual Reading: Mengingatkan Tentang Prioritas Bacaan</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/spiritual-reading-mengingatkan-tentang-prioritas-bacaan.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/spiritual-reading-mengingatkan-tentang-prioritas-bacaan.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 09:23:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Ragam metafor kerap dipakai orang manakala membicarakan aktivitas baca membaca. Sebagaian mengatakan, membaca adalah jendela dunia. Membaca adalah gudang ilmu. Membaca menghapus kebodohan. Membaca adalah anu. Membaca adalah bla bla. Begitu kaya perumpamaan yang telah dilahirkan para pembaca. Anda pun bisa melahirkannya. Kerena memang tak ada larangan.
Bagi saya, bacaan adalah racun yang mengobrak-abrik tatanan segi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ragam</strong> metafor kerap dipakai orang manakala membicarakan aktivitas baca membaca. Sebagaian mengatakan, membaca adalah jendela dunia. Membaca adalah gudang ilmu. Membaca menghapus kebodohan. Membaca adalah anu. Membaca adalah bla bla. Begitu kaya perumpamaan yang telah dilahirkan para pembaca. Anda pun bisa melahirkannya. Kerena memang tak ada larangan.</p>
<p>Bagi saya, bacaan adalah racun yang mengobrak-abrik tatanan segi pemikiran seseorang. Baik menjungkirbalikkan yang baik menjadi buruk atau sebaliknya. Buku bisa menyakiti. Buku juga bisa menjadi penawarnya. Akibat membaca, Muslim jadi Kafir. Kafir menjelma Muslim. Laki-laki alim menjadi bocah urakan. Si urakan mendadak alim. Gadis berjilbab menjadi seksi, dan si seksi segera berjilbab. Begitulah bacaan mengaduk-aduk otak pemahaman kita.<span id="more-28"></span></p>
<p><img class="alignleft" src="http://www.rumahdunia.net/nimages/1451.jpg" alt="" width="133" height="200" />Judul		: Spiritual Reading; Hidup Lebih Bermakna dengan Membaca<br />
Penulis	: Dr. Raghib As-Sirjani &amp; Amir Al-Madari<br />
Penerbit	: Aqwam<br />
Tahun Terbit	: 2007<br />
Tebal		: 208</p>
<p>Secara khusus tulisan ini saya persembahkan kepada umat Islam. Sejarah telah mencatat bagaimana bacaan menjadi pegangan ideologi yang bermula dari gagasan individu merambat menjadi kepercayaan berjamaah. Kita mengenal bangsa Yahudi dengan Negara Israelnya. Barangkali Israel tidak akan pernah ada di muka bumi ini jika seandainya Benyamin Se’eb alias Theodore Herzl tidak menulis buku tipis bertajuk Der Judenstaat (The Jewish State). Bersama karya fiksinya yang berjudul Altneuland (Old New Land), buku ini telah menginspirasi jutaan orang Yahudi untuk bergerak mendirikan negara Israel dengan merampas hak-hak warga Pelestina. (Mohammad Fauzil Adhim, 2005)</p>
<p>Bacaan yang bergenit-genit. Genit isinya. Genit penulisnya. Genit ideologinya. Hal itu tentu saja membuat pembacanya menjadi genit nan centil pula. Saya sarankan, segera “lempar” dulu bacaan itu sekarang juga. Tapi sayangnya tidak sedikit orang yang mengaku ingin mengusung dan mendongkrak wawasan diri malah asyik menikmati bacaan itu. Lalu diceritakanlah kegilaan di buku itu. Blar.. dan seketika virus gendeng sudah menular cepat dengan indikasi retorika menggebu dan penampilan berdebu. Tak ada kesedihan yang besar menimpa bumi selain orang gila yang cerdas menyebarkan penyakit gila secepat merebaknya kentut. Jadi membaca jangan asal baca. Lantas, buku seperti apa yang harus dibaca jika demikian? Bukankah dengan buku kita seolah mengarungi laut lepas?</p>
<p>Jawabannya, semua buku harus dibaca. Betul jika membaca adalah mengarungi laut lepas demi mencapai pantai indah kecerdasan. Hanya saja persiapkan diri Anda sesiap-siapnya untuk membaca. Selayaknya orang hendak mengarungi lautan, meski tidak memiliki wawasan navigasi dan ketahanan hidup di laut, paling tidak ia mempunyai kemampuan berenang yang mumpuni. Bahasa anak muda sekarang, silahkan gaul asal jangan lebur.</p>
<p>Berangkat dari sana saya ingin menawarkan pijakan utama dalam membaca yang dipaparkan Dr. Raghib As-Sirjani dan Amir Al-Madari yang tercatat dalam buku berjudul Spiritual Reading: Hidup Lebih Bermakna dengan Membaca. Buku yang diproduksi Penerbit Aqwam ini sejatinya layak dijadikan pegangan para muslim mempersiapkan diri melawan bacaan-bacaan nyeleneh. Jika melihat kondisi banyaknya bacaan ngawur dan menyesatkan, kita sering kali dibuat bingung sendiri, dari manakah awal kita membaca? Atau buku apa sih yang seharusnya pertama kali dibaca?</p>
<p>Buku ini merupakan terjemah dari buku aslinya berjudul Iqro’ La Budda an Taqra’ &amp; Al-Qira’atu Minhajul Hayati ini mengembalikan ingatan kita akan kesalahan besar para pembaca, terlebih umat Islam. Terutama sekali mengenai prioritas bacaan yang kadang saling sengkarut antara prioritas bacaan utama dengan bacaan sampingan. Sehingga yang terjadi, kita banyak membaca tapi tak banyak melakukan perubahan apa-apa. Lewat buku ini kedua penulis ingin menghadirkan kembali spirit umat Islam yang pernah memimpin peradaban dunia lebih dari 300 tahun, yakni sebagai umat yang memimpin arus informasi dunia melalui budaya baca.</p>
<p>Muslim adalah orang yang seimbang. Sehingga selayaknya membaca banyak buku guna menyeimbangkan hidupnya. Namun di sini Dr. Raghib As-Sirjani hanya membatasi pada sepuluh prioritas yang bisa kita baca.</p>
<p>Prioritas pertama, bacalah terlebih dahulu buku ini, karena di dalamnya memuat segala ilmu apa saja yang mengatur sepak terjang manusia. Hanya saja telah terjadi salah kaprah di kalangan umat Islam saat memperdebatkan suatu masalah keagamaan tanpa sama sekali berpijak pada pemahaman yang terkandung dalam buku ini: Al-Qur’an. Prioritas kedua tak lain adalah bacaan berupa Al-Hadits As-Syarif. Hal ini karena, selain Hadits mendapatkan posisi kedua setelah Al-Qur’an, Hadits juga menjelaskan maksud-maksud tertentu yang terkandung dalam Al-Qur’an. Prioritas ketiga, membaca Ilmu-ilmu Syar’i, yang di dalamnya termasuk kitab-kitab tafsir, fiqih, tauhid, dan sejenisnya. Prioritas keempat, membaca buku-buku spesialisasi keilmuan tertentu. Dokter harus banyak membaca tentang kedokteran, tentara harus banyak membaca buku-buku militer, pengusaha harus banyak membaca buku-buku perbisnisan, dan semisalnya. Prioritas kelima, membaca buku sejarah, mengingat sejarah cukup penting dalam rangka menangkap pelajaran atau ibroh positif. Prioritas keenam, membaca ilmu politik, dalam artian politik segala bidang dan negara keseluruhan. Prioritas ketujuh, buku tentang pendapat-pendapat orang lain. Ini berguna untuk mendapatkan pelajaran dari alur gerakan pemikiran-pemikiran orang lain, baik yang pro atau kontroversi. Prioritas kedelapan, membaca tentang syubhat seputar Islam guna membendung kesalahpahaman penggugat Islam memahami konsep Islam, dengan menyuguhkan dalil-dalil. Prioritas kesembilan, bacaan tentang pendidikan anak. Hal ini mengingat dalam mendidik anak menjadi shalih dan shalihah ada seni tersendiri dan telah diatur secara khusus. Dan prioritas kesepuluh, membaca buku-buku hiburan. Ini mengingat manusia cenderung merasa jenuh, maka dipersilahkan sesekali membaca berita-berita olahraga, syair-syair santun, gambar-gambar karikatur sopan, dan sejenisnya.</p>
<p>Buku ini juga menawarkan buku-buku yang dianjurkan pada setiap prioritas dari kesepuluh prioritas di awal. Tak ada salahnya kita membaca buku ini sebelum memutuskan membaca buku lainnya. Paling tidak kita kembali diingatkan bahwa ternyata ada skala prioritas yang harus pahami dan dilaksanakan dalam aktivitas membaca. Dan membaca bukanlah racun. Salam.</p>
<p>(Sumber: http://<a href="http://www.rumahdunia.net" target="_self">www.rumahdunia.net</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/spiritual-reading-mengingatkan-tentang-prioritas-bacaan.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resensi buku Aceh Pungo</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/resensi-buku-aceh-pungo.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/resensi-buku-aceh-pungo.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 07:59:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Baun Thoib Soaloon Siregar &#8212; Ketika saya mencari-cari buku referensi kuliah pada sebuah toko buku, tiba-tiba seseorang (entah penjual atau pembeli) nyeletuk: ”Aceh pungo, dua uroe teuk, kon le ureung Aceh nyang pungo, Batak-Batak pih kapungo.” Saya hanya menangkap potongan ungkapan tadi dan tidak tahu sama sekali pangkal ujung pembicaraan. Karena penasaran saya bertanya: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Baun Thoib Soaloon Siregar</strong> &#8212; Ketika saya mencari-cari buku referensi kuliah pada sebuah toko buku, tiba-tiba seseorang (entah penjual atau pembeli) nyeletuk: ”Aceh pungo, dua uroe teuk, kon le ureung Aceh nyang pungo, Batak-Batak pih kapungo.” Saya hanya menangkap potongan ungkapan tadi dan tidak tahu sama sekali pangkal ujung pembicaraan. Karena penasaran saya bertanya: “Pakon, Dek!” Ia lantas menunjuk sebuah buku pada rak bagian tengah, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Oh, ini rupanya “Aceh Pungo”. Lalu, apa kaitannya dengan Batak? Kenapa pula orang Batak harus ikut-ikutan pungo? Apakah ini terkait dengan demo maut yang terjadi di Medan baru-baru ini, atau&#8230;? Ah, daripada menduga-duga, lebih baik buku ini dibaca dulu, pikirku seketika.<span id="more-25"></span></p>
<p>Bersampul hitam pekat, buku terbaru terbitan Bandar Publishing (BP) Banda Aceh ini diberi judul “Aceh Pungo” (AP) dengan tulisan warna putih mencolok, tapi berkesan lusuh dan tampak retak-retak. Entah apa yang ingin divisualisasi melalui gambar sampul tersebut. Apakah ini potret Aceh yang tenggelam dalam kelam, Aceh yang tak terduga, Aceh yang malang dan berkabung, atau Aceh yang diselimuti kegelapan, kebodohan, keterbelakangan, dan kejahatan, di mana yang muncul dan tampak jelas di permukaan hanyalah sederet kegilaan? Atau ini sebuah simbol jubah hitam kebesaran dan kebanggaan mengusung identitas dan budaya kegilaan? Semua atau sebagiannya mungkin benar, tapi mungkin juga salah. Penulis tampaknya membiarkan kita menerka-nerka tafsir yang serba mungkin dalam rasa penasaran, kebingungan, dan keingintahuan. Sebab, biarpun warna hitam sering kali identik dengan sifat-sifat negatif dan jahat, tetapi dalam banyak hal, hitam juga menjadi penyelaras, pembeda, bahkan pemanis konfigurasi tampilan warna. Hitam juga dianggap warna netral yang bisa cocok dan berpadu dengan warna-warna lain dalam membangun citra estetika dan eksotis.</p>
<p><strong><img style="margin-left: 8px; margin-right: 8px;" src="http://i254.photobucket.com/albums/hh92/ozan-ghira/pungo-cover.gif" alt="" width="169" height="186" /></strong></p>
<p>Judul  : Aceh Pungo<br />
Penulis         : Taufik Al Mubarak<br />
Penerbit : Bandar Publishing Banda Aceh<br />
Tebal Buku : 282+xxii Halaman<br />
Cetakan         : 1, Februari 2009<br />
Harga  :  Rp.49. 000</p>
<p>Menurut saya, buku ini dapat dikatakan sebagai cerita tentang fenomena keanehan dan kegilaan masyarakat modern dalam skop yang luas dalam bahasa “Aceh”. Artinya, meskipun mungkin terdapat penekanan pada lokalitas masyarakat Aceh dengan mengambil setting dan simbol-simbol ke-Acehan yang khas, namun substansi lika-liku keanehan/kegilaan sosial politik yang diangkat dalam buku ini sebenarnya jauh menembus batas-batas demografi Aceh Darussalam. Apakah ini terkait dengan konsep think globally act locally, saya tidak tahu pasti. Yang jelas, fenomena seperti korupsi, jilat-menjilat, praktik hedonisme, demokrasi paradoks, kontradiksi antara idealisme dan realisme, premanisme dan kekerasan, dan kejujuran dan kesederhanaan merupakan isu-isu global yang juga melanda masyarakat di bagian dunia yang lain atau setidaknya daerah lain di Nusantara. Uniknya, dan inilah salah satu yang membuat buku ini menarik dan layak dibaca oleh semua orang. Semua itu disampaikan dan dibungkus dengan apik dalam bahasa Aceh pungo dalam pengertian yang luas (bahasa kegilaan dan keunikan orang Aceh).</p>
<p>Buku setebal 282 plus xxii halaman ini ditulis oleh Taufik Al Mubarak, jurnalis muda yang bekerja di koran Harian Aceh. Buku ini merupakan kompilasi tulisannya pada Pojok Gampong yang diasuhnya di koran tempatnya menempa diri, ditambah beberapa tulisannya pada media lain. Buku dengan kata pengantar dari Muhammad Nazar (Wakil Gubernur Aceh) ini terdiri dari tiga bagian: (1) Politek Ureung Gampong (Politik Orang Kampung); (2) Politek Pungo (Politik Gila); dan (3) Politek Hana Titiek (Politik tanpa Titik). Sekilas, melihat ketiga judul bagian tersebut, pembaca akan mengira bahwa buku ini adalah buku politik. Sebenarnya tidak. Walaupun banyak tulisan yang beraroma politik, namun secara substansial, buku tidak sepenuhnya berbicara tentang politik. Ada aura lain di dalamnya seperti komunikasi, teknologi, agama, bahasa, filosofi, ekonomi, dan pendidikan. Saya tidak bisa memastikan alasan apa dibalik pencantuman judul tersebut. Mungkinkah penulis berniat mengetengahkan semua itu dalam perspektif politik? Tidak juga. Memang ada satu judul tulisan pada bagian ketiga yang menjadi judul bagian tersebut, tapi hal ini tidak berlaku pada bagian pertama dan kedua. Apa karena unsur psikologi pemasaran agar tampak sensasional dan menarik konsumen atau barangkali ini terkait dengan demam politik yang semakin merambah semua sudut kehidupan akhir-akhir ini sehingga semua hal selalu dikait-kaitkan dengan politik? Terserah pembaca.</p>
<p>Di antara kelebihan buku ini adalah kelihaian penulis dalam mengendus problematika sosial politik yang berkembang dalam masyarakat—yang kebanyakan tampaknya hanyalah persoalan-persoalan biasa dan nyaris tak menjadi perhatian publik, lalu mengemasnya dalam tulisan-tulisan bernada kritik yang simpel tapi tajam. Bahkan, dalam banyak tulisan justru sangat inspiratif (menggugah emosi dan kesadaran terhadap hal-hal yang sebelumnya terlewatkan begitu saja). Lebih lanjut, dengan plus minusnya, beberapa tulisan malah berbau propaganda dan cenderung provokatif, sebagaimana pengakuan penulisnya. Hal ini tentunya sangat bergantung pada posisi dan perspektif orang yang membaca. Bagi saya, dengan tetap mengedepankan etika, bentuk dan pola komunikasi haruslah mencerminkan tujuan dan mempertimbangkan kondisi mental dan psikologi sasaran. Jadi, berkomunikasi dengan orang bebal, tungang atawa klo prip tentu saja sangat berbeda dengan orang dengan kualitas indra dengar, pikir, dan renung yang masih jernih.</p>
<p>Dari segi penyampaian, buku ini memperkenalkan sebuah gaya yang khas dengan beberapa ciri umum seperti topik acuan yang merakyat dan diberi label yang memikat tapi sebisa mungkin cukup familiar di telinga pembaca, menggunakan gaya bercerita, sering kali dibungkus dalam dialog singkat yang didesain sedemikian rupa sehingga tampak ril dan hidup, dan konsisten dengan bahasa “pasar” yang lugas dan acap kali kocak sehingga enak dibaca sekaligus mudah dipahami. Meskipun pada beberapa tempat, penulis menggunakan simbolisme, tapi ia tidak membiarkan pembaca mencari tahu sendiri makna yang ingin disampaikannya, melainkan menuntut mereka secara tautologis tahap-demi tahap menuju medan makna. Terus terang dan terbuka tanpa terjebak dalam hiperbolisme, bahkan membuka selebar-lebarnya hal-hal yang tertutup dan terbungkus kepada khalayak, itulah gambaran lain dari karakter buku ini. Dengan demikian, secara sadar penulis telah beranjak jauh meninggalkan gaya-gaya penulisan yang eufimistis dan simbolis menuju disfimisme dan realisme. Maklum, zaman sudah berubah, tak ada yang mesti ditutupi. Jurnalisme harus konsisten sebagai media pencerahan dan pencerdasan masyarakat.</p>
<p>Dengan kelebihan dan kekurangannya, hal ini sangat berbeda dengan “Celoteh Budaya Politik Aceh” (CBPA) terbit tahun 2003 yang berisi kumpulan tulisan mantan bupati Bireun Mustafa A. Glanggang pada rubrik “Tingkap” di Harian Serambi Indonesia. Meskipun CBPA juga berupa kritik sosial, tapi buku ini mengandalkan ragam gaya bahasa simbolisme, eufimisme, dan personifikasi yang sering kali dibalut cerita fiktif dalam menggambarkan fenomena sosial budaya dan politik pada masanya. Gaya penulisan AP juga memiliki perbedaan dengan “Dari Panteu Menuju Insan Kamil” (DPMIK), kumpulan tulisan Ampuh Devayan dalam kolom ”Panteu” harian Serambi Indonesia yang terbit dalam bentuk buku baru-baru ini. DPMIK mengusung gaya penulisan yang lebih formal, bernuansa sastra dan lebih ilmiah.</p>
<p>Meskipun di satu sisi, gaya penyampaian yang demikian sangat positif dalam konteks pendidikan politik dan pembangunan iklim demokrasi dewasa ini, namun dalam tingkatan tertentu, penulis tampaknya tidak bisa melepaskan begitu saja unsur subjektivitas dan emosionalitasnya sebagaimana tercermin dari beberapa tulisannya. Oleh karena itu, bisa saja di kemudian hari ada pihak yang beranggapan bahwa penulis cenderung tendensius, bahkan cenderung terjerumus dalam sinisme, atau bahkan satire.</p>
<p>Desain dan tampilan buku ini cukup elegan dan menarik. Cuma saja di dalamnya tidak didapati lembaran yang memuat informasi tentang KDT (Katalog dalam Terbitan) serta informasi penting tentang cuplikan UU tentang Hak Cipta sebagaimana pada buku-buku terbitan lain. Selain itu, pemaksaan pencantuman judul baru pada lembaran baru membuat banyak sekali halaman yang kosong yang tidak terpakai sama sekali.</p>
<p>Menyangkut ejaan dan tata bahasa sebenarnya sudah cukup baik, namun penulisan kata “pungo” baik di halaman kulit maupun di dalam teks seharusnya dimiringkan karena kata tersebut termasuk kata asing yang belum terserap sepenuhnya ke dalam bahasa Indonesia. Terakhir, foto penulisnya sedang merokok pada halaman profil, kurang tepat. Sebab kondisi tersebut dapat memunculkan image yang negatif bagi sebagian pembaca. Sejatinya foto yang ditampilkan adalah foto netral tanpa rokok, agar penulisnya dapat diterima oleh semua kalangan pembaca.</p>
<p>Bagaimanapun, buku ini sudah cukup baik dan relatif mampu mewujudkan misinya sebagai kritik sosial yang berusaha memotret fenomena “kegilaan” dan keunikan masyarakat Aceh kontemporer dalam berbagai aspek. Meskipun sekian banyak topik tulisan dalam buku ini memang belum mampu menampung totalitas realita ke-pungo-an masyarakat Aceh dalam berbagai hal yang dengan susah payah dikorek penulisnya. Namun demikian, kerja keras ini pantas diapresiasi. Kita tentu tidak berharap ke-pungo-an ini berlanjut atau malah semakin menjadi-jadi apalagi sampai merembes ke masyarakat tetangga sebelah (Batak) sebagaimana celotehan pemuda di toko buku kemarin. Selamat kepada Taufik Al Mubarak, dan bagi pembaca, selamat membaca.</p>
<p style="text-align: center;">*<em> Penulis adalah Staff Balai Bahasa Lampineung Banda Aceh dan Pemenang Resensi Buku Pemikiran Ulama Dayah Aceh  pada tahun 2007.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em> </em></p>
<p><strong>BUKU INI BISA DIDAPATKAN DI TOKO BUKU GRAMEDIA DI JAKARTA, BANDUNG, YOGYAKARTA, SURABAYA</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/resensi-buku-aceh-pungo.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resensi Buku: &quot;Santeut, Kumpulan Khotbah Jender Pelajar Aceh&quot;</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/resensi-buku-santeut-kumpulan-khotbah-jender-pelajar-aceh.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/resensi-buku-santeut-kumpulan-khotbah-jender-pelajar-aceh.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 10:53:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Djuneidi Saripurnawan &#8212; Masyarakat Aceh, hingga kini, terkenal dengan budaya lisannya, dan budaya tulis (literatur) masih didominasi kalangan elit. Bahasa Aceh secara lisan telah bertahan untuk perjuangan kemerdekaan masyarakat Aceh, menjadi semacam bahasa sandi yang tidak banyak dimengerti oleh penjajah Belanda dan ‘orang Jakarta&#8217;. Namun, sayang-disayang, semua itu kurang diimbangi dengan budaya tulis-menulis. Hingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Djuneidi Saripurnawan</strong> &#8212; Masyarakat Aceh, hingga kini, terkenal dengan budaya lisannya, dan budaya tulis (literatur) masih didominasi kalangan elit. Bahasa Aceh secara lisan telah bertahan untuk perjuangan kemerdekaan masyarakat Aceh, menjadi semacam bahasa sandi yang tidak banyak dimengerti oleh penjajah Belanda dan ‘orang Jakarta&#8217;. Namun, sayang-disayang, semua itu kurang diimbangi dengan budaya tulis-menulis. Hingga kini, kita bisa menemukan rendahnya kemampuan baca-tulis-berhitung (Calistung) dan minat baca dari para pelajar dan mahasiswa di Aceh. Hanya ada satu-dua toko buku yang representatif, dan jarang sekali menemukan resensi buku pada surat khabar harian atau media lokal Aceh. Tentang Aceh lebih banyak ditulis oleh orang-orang luar (outsider).<span id="more-38"></span></p>
<p>Fenomena ini sedang digoncang oleh Episentrum dari Komunitas Tikar Pandan di Ulee Kareng, Banda Aceh. Setelah menggelar program ‘Sekolah Menulis Dokarim&#8217; dan menghasilkan buah karya buku-buku sastra pasca tsunami dan konflik, kini komunitas ini terus menggembleng anak-anak muda yang tertarik terhadap dunia tulis-menulis dengan ketajaman analisis sosial-budaya dan kreativitas, serta keberanian mengekspresikannya. Karya terbaru adalah buku &#8220;SANTEUT, Kumpulan Khotbah Jender Pelajar Aceh&#8221;. Hasil dari pembelajaran tentang gender yang diikuti oleh 16 pelajar SLTA di Banda Aceh.</p>
<p><img class="alignleft" src="http://www.kabarindonesia.com/gbrberita/20071022123834.jpg" alt="" width="230" height="307" /></p>
<address>Judul Buku : SANTEUT, Kumpulan Khotbah Jender Pelajar Aceh </address>
<address>Editor : Azhari dan Reza Idria</address>
<address>Penulis : Mifta Sugesty,dkk<br />
</address>
<address>Penerbit : Aneuk Mulieng<br />
</address>
<address>Publishing Tahun  : September 2007<br />
</address>
<address>Tebal dan ukuran  : 140 hlm, 15 x 21 cm</address>
<p>Membaca buku ini, Anda akan menemukan kegelisahan anak muda menghadapi fenomena sosial-budaya yang sedang berkembang seiring masuknya ide-ide baru yang dibawa oleh INGO/NGO (non-government organization), ketajaman analisis dan kritik sosial, meskipun masih terasa adanya kontradiksi di sana-sini (cerminan awal pemahaman baru dalam kegelisahan),dan keberanian mengungkapkannya dalam wujud tulisan.Kreativitas anak muda dalam buku ini nampak dari kemasan tulisan yang beragam: artikel opini, cerpen, puisi, model pamflet, dan ilustrasi kartun.</p>
<p>Mengkritisi keadaan yang sehari-hari ditemui para penulis di bumi Naggroe Aceh Darussalam ini dalam perspektif gender adalah upaya yang baru, apalagi oleh anak-anak muda yang gelisah menghadapinya. Mereka mempertanyakan ketimpangan dan ketidak-adilan yang tengah terjadi antara relasi kaum perempuan dan laki-laki.<br />
T.Oryza Keumala mempertanyakan ‘Pemisahan Kelas&#8217; untuk lelaki dan perempuan di sekolahnya, karena pemberlakuan Syariat Islam.  Ia tidak bisa menerima pemikiran dan kebijakan pejabat pendidikan yang akan menerapkan Syariat Islam secara kaffah (sempurna, menyeluruh) di Aceh dengan hanya mengurusi pemisahan kelas berdasarkan jenis kelamin, sementara ruang guru, kantin, laboratorium, dan perpustakaan tidak dipisahkan. Ini tidak konsisten, sementara masih banyak anak-anak di daerah yang membutuhkan sarana dan prasarana sekolah.&#8221;Jangan setengah-setengah!&#8221; tulis Oryza. &#8220;Dengan alasan yang sama&#8230;perkantoran, labi-labi (angkot), pasar dan pantai harus disekat-sekat untuk mencegah berbaurnya perempuan dan laki-laki. Aku juga meminta kepada bapak Walikota Banda Aceh kita yang terhormat Mawardi Nurdin, untuk menggunakan hijab jika harus mengadakan rapat berduaan dengan wakil Walikota Nyonya Illiza dalam satu ruangan&#8230; Begitu juga kepada anggota dewan perwakilan rakyat yang terhormat.&#8221; Dengan semangat membara, &#8220;Wahai para pemimpin, kami butuh teladan bukan perintah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya heran, kenapa penerapan syariat Islam di Aceh hanya fokus pada hal-hal yang bersifat simbolis. Segala sesuatu yang tidak mengena dengan nilai-nilai dasar Islam yang sesungguhnya, yaitu sebagai agama yang membebaskan.&#8221; Tulis Oryza,&#8221;Kita sering terlenakan dengan hal-hal yang kecil dan tidak terlalu esensial(hlm.90-91).&#8221;</p>
<p>Raisa Kamila menyatakan bahwa &#8220;&#8230;Sifat, tabiat, isi hati, pengetahuan dan kapasitas otak, tidak bisa diwakilkan hanya dengan berjilbab atau tidaknya seseorang. Justru masyarakat yang senang mengeneralisasilah yang harus dihilangkan.&#8221; Dan Ia menyebut kecenderungan generalisasi itu sebagai penjahat kelamin, yaitu &#8220;S&#8221; alias ‘Stereotype&#8217; yang menyebabkan ketidakadilan terhadap kaum perempuan. Dan disadarinya pula bahwa penjahat kelamin itu ternyata berasal dan diproduksi oleh kita sendiri sehari-hari(!)</p>
<p>Novia Mardhatillah lebih jauh melihat tradisi meugang-laki-laki membeli daging untuk keluarga/istri-anak menjelang bulan puasa, Idul Fitri dan Idul Adha-telah membebani kaum laki-laki dari keluarga miskin. Habiskah derajat mereka bila tanpa meugang?<br />
&#8220;&#8230;kita yang berpikiran bahwa adalah KODRAT bagi laki-laki menjadi kepala rumah tangga dan untuk memberi makan anak istrinya perlu ditinjau ulang. Sejatinya, keluarga(baca:rumah tangga) adalah wahana toleransi dan saling berbagi,&#8221; tulis Novia.   Sementara itu, Arryo menulis tentang laki-laki yang di-&#8221;takdir&#8221;-kan dalam Al-Qur&#8217;an sebagai pemimpin dalam rumah tangga, meskipun ia akhirnya berpendapat bahwa hal itu adalah kesepakatan relasi antara lelaki dan perempuan. Nadya Meivira sepakat dengan laki-laki sebagai pemimpin rumah tangga, tetapi emansipasi perempuan harus diupayakan supaya tidak hanya melulu pada urusan &#8220;4-SUR&#8221; (sumur-dapur-pupur-kasur).</p>
<p>Muhammad Haekal menulis tentang waria sebagai manusia yang tersisih dari sosialnya, dipadang sebagai ‘sampah&#8217; masyarakat. Lalu dimana rasa kemanusiaan dan keadilan itu? Inikah manusia yang semakin beradab?<br />
Bias gender ternyata ditemukan pula oleh Mifta Sugesty dalam film-film horor produksi Indonesia. Perempuan sebagai korban kekerasan, begitu tak berdaya,sehingga pembalasan oleh perempuan (korban) harus melalui kematian dahulu dan menjelma menjadi hantu berupa kuntilanak, sundel bolong, ataupun suster ngesot.<br />
Putri Arimbi mencoba mendobrak bahwa warna ‘pink tak lagi cantik&#8217;, bukan lagi milik perempuan semata-mata. Dan ‘pacaran di Aceh&#8217;, bagi Fachri, tidak lagi dimotori oleh kaum lelaki saja, tetapi juga oleh kaum perempuan secara aktif. Anak perempuan tidak perlu dibedakan untuk pemberlakuan jam malam lagi, menurut T.M.Syahrizal. ‘Pagar Sang Hawa&#8217; harus didobrak dengan kesadaran baru, kata Yuli Khairani. Perempuan juga mempunyai kesempatan yang sama untuk berkarya di ruang publik, kata Suci Senjana. Buktinya, tulis Dini Ratilan Angya, ada banyak guree beut (guru ngaji) atau Teungku Inong yang berperan penting di desa-desa.  Akhirnya, semua bermuara pada satu perjuangan tentang ‘sama bermakna setara&#8217;, tulis Nindy Silvie, yang dalam bahasa Aceh: SANTEUT antara kaum perempuan dan laki-laki.  Dalam acara peluncuran buku ini pada Minggu malam, 21 Oktober 2007, kekhawatiran generasi orang tua juga nampak dari ungkapan seorang guru, tetapi dukungan untuk kebebasan berekspresi datang dari para tokoh LSM dan media lokal. Keberhasilan semua ini tidak terlepas dari dukungan banyak pihak, terutama Lies Marcoes Natsir, dan aktivis Tikar Pandan: Azhari, Fozan Santa, Reza, dan lain-lainnya.</p>
<p>Sebagai kumpulan ekspresi berpikir anak-anak muda Aceh, mungkin ini yang pertama sejak pasca tsunami. Saya tidak ingin berkomentar banyak, tapi empat jempol saya acungkan buat mereka, dan sebuah kata &#8220;keren&#8221;. Maka bacalah! Baik untuk menambah pengetahuan, dan bagi kaum dewasa, dengarkanlah..! Sebentar lagi dunia  ini milik mereka.</p>
<p><em><strong>Djuneidi Saripurnawan, Research and Development Coordinator Plan International Aceh</strong></em></p>
<p>Sumber: http://<a href="http://www.kabarindonesia.com" target="_self">www.kabarindonesia.com</a></p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 1116px; width: 1px; height: 1px;">http://www.kabarindonesia.com</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/resensi-buku-santeut-kumpulan-khotbah-jender-pelajar-aceh.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taman Baca Guahira masuk Koran</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/taman-baca-guahira-masuk-koran.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/taman-baca-guahira-masuk-koran.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 11:34:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[PADA hari Nuzulul Quran 17 Ramadhan 1428 H, secara mengejutkan Taman Baca Guahira dimuat di KORAN HARIAN ACEH. Pada rubrik Fokus koran tersebut, Harian Aceh mengangkat tema baca (iqra) bertepatan dengan hari turunnya Al Quran  yang pertama lkali tentang perintah membaca, &#8220;baca dengan namamu yang menciptakan&#8221;&#8211; Al Alaq.
Berikut tulisan yang saya copy dari situs [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PADA</strong> hari Nuzulul Quran 17 Ramadhan 1428 H, secara mengejutkan Taman Baca Guahira dimuat di KORAN <a href="http://harian-aceh.com" target="_self">HARIAN ACEH</a>. Pada rubrik Fokus koran tersebut, Harian Aceh mengangkat tema baca (iqra) bertepatan dengan hari turunnya Al Quran  yang pertama lkali tentang perintah membaca, <em>&#8220;baca dengan namamu yang menciptakan&#8221;</em>&#8211; Al Alaq.</p>
<p>Berikut tulisan yang saya copy dari situs koran <a href="http://harian-aceh.com">Harian Aceh</a>. Dan terima kasi telah sudi memuaatnya. <span id="more-16"></span></p>
<h2 class="contentheading"><a class="contentpagetitle" href="http://harian-aceh.com/index.php?/Fokus/17-ramadhan-dan-kisah-di-gampong-sejarah.html"> 17 Ramadhan dan Kisah di Gampong Sejarah </a></h2>
<div class="article-tools clearfix">
<div class="article-meta"><span class="createdate"> Rabu, 17 September 2008 03:09 </span></div>
</div>
<h2 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"><strong>Oleh Thayeb Loh Angen</strong></span></h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Di malam dingin mencekam dan hening kelam tanpa suara di Gua Hira pada 17 Ramadhan yang bersejarah itu,</span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"> <span> </span><span>Nabi Muhammad ketakutan sendiri karena mendapat wahyu pertama yang <span> </span>diturunkan Tuhan. Sekujur tubuh laki-laki Makkah itu tenggelam dalam keringatnya sendiri. Begitulah beratnya menerima sepotong kata dari Tuhan. Malam itu disebut malam nuzulul Quran. </span></span></p>
<div class="img_caption left" style="float: left; width: 317px;"><img class="caption" title="Kautsar lagi memilih-milih buku untuk dibacanya." src="http://harian-aceh.com/images/stories/fokus/kautsar-lagi-melihat-lihat-.jpg" border="0" alt="" align="left" />Kautsar lagi memilih-milih buku untuk dibacanya.</p>
</div>
<p><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kita semua tahu apa isi wahyu pertama itu, wahyu yang membuat sang penerima sakit berhari-hari setelahnya. Pepatah lama kita, ‘dengan membaca, jendela dunia terbuka bagi anda,’ sepenuhnya <span> </span>benar. Hampir s</span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">eribu lima belas abad lalu, kia sudah tahu itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Malam nuzul Quran itu malam titik berangkat sebuah agama langit yang kita anut, agama yang tumbuh pertama di tanah Arab, agama yang bernama Islam. Bagi yang tak mempercayai agama, cukuplah saja mengakui, keyakinan itu sebuah budaya yang bertahan ribuan tahun Gampong kita yang besar ini, Gampong yang bernama Aceh. Bagi Ateis itu bukan mengakui agama, namun mengakui bahwa agama telah jadi fenomenal budaya vital selama ribuan tahun di aGampong kita yang besar ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Di masa silam Aceh, sebelum kemaharajaan bertamaddun tinggi kita diporak-poranda bajingan Belanda, budaya membaca Aceh sangat tinggi bila dibandingkan negeri lain masa itu. Kenyataan lampau itu telah musnah, hanya dapat ditemui sedikit dari secuil pustaka tua, <em>Tgk Chik Tanoh Abee</em>. <span> </span>Kenyataan<span> </span>ini mencerminkan Aceh telah berbudaya jiwa membaca sejak ratusan tahun lalu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ribuan bukti selain pustaka tua itu telah dibumi-apikan Belanda tak beradab di akhir abad sembilan belas Masehi. Namun, lahirnya karya sastra bernilai tinggi nan indah seperti <em>Hikayat Prang Sabi, Hikayat Prang Gompeuni, Hikayat Prang Peuringgi, Hikayat Malem Dagang, Hikayat Putroe Geumbak Meuh, dsb.</em> adalah bukti fenomenal lain, bahwa hanya bangsa yang berbudaya membaca tinggi mampu menghadirkan karya sastra bermutu tinggi nan indah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Telah diakui peneliti Barat, <em>Hikayat Prang Sabi,</em> sepanjang sejarah manusia, satu-satunya puisi panjang yang sanggup mengobarkan api semangat komunitas besar masyarakat untuk berperang sampai menang atau tewas. Mereka bilang, tulisan itu berdaya magis ampuh dari sejuta arwah penyihir yang bersatu dalam puisi sakti.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"><span> </span>Masyarakat Aceh di silam itu membaca hikayat di pedium-pedium seantero Gampong. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Setiap tahun di setiap Gampong kecil dalam Gampong kita yang besar ini, dikukuhkan pertunjukan baca hikayat sampai beberapa kali. Ketika pembacaan hikayat pedium diselenggarkan, masyarakat berbondong-bondong menyaksikan mendengar pembacaan puisi balada berirama syahdu itu dalam temaram purnama. Ya, temaram purnama, karena baca hikayat dibuat ketika bulan terang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ibu-ibu membawa tikar, ayunan bayi, makanan ringan, selimut, bekal menyaksikan pembacaaan hikayat oleh penyair di pedium berlampu panyot culot, yang biasanya sampai dini hari setiap malam dalam sepekan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Masa itu, naskah harus ditulis manual, belum lahir Guttenberg, bocah jenius berkebangsaan Jerman, penemu mesin cetak itu. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Agar dapat dinikmati public, maka, dilaksanakan pembacaan puisi balada itu di podium dengan persiapan matang. Berbeda dengan penikmat karya tulis zaman ini yang bisa mendapatkan buku sebanyak yang diinginkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Sudah tiba masanya kita panggil kembali roh suka membaca rakyat Aceh yang sudah hilang lebih seratus tahun bersama perang licik. Dalam hal ini pemerintah Aceh sekarang seyogyanya membuat iklan-iklan penyeru membudayakan membaca masyarakat Aceh. Buatlah baliho-baliho, spanduk-spanduk seantero Aceh, iklankan di media elektronik, dan selipkan seruan tak lansung dalam klip-klip film dan lagu Aceh sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"><span> </span>Fasilitasilah media baca, seperti bulletin-buletin berisi pesan moral, dsb. Jika hal ini dilakukan, perlahan-lahan Aceh akan maju dalam berfikir, tidak lagi preh dahoh dan peusalah gop. Selain pemerintah, ulama-ulama pun harus menganjurkan gemar membaca pada masyarakat kita. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ulama dan tokoh Aceh seyogyanya mensensor buku-buku yang tersebar di toko buku komersial seAceh. Artinya sederhana, tokoh agama dan tokoh masyarakat harus lebih dahulu membaca buku-buku itu agar tahu mana buku yang sesuai dengan islam dan mana buku sekuler materialis. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Hal ini ironi, mengingat ulama kini mencibir buku-buku yang<span> </span>berserakan di toko, tetapi, para pelajar, mahasiswa, masyarakat pencinta buku, membacanya. Sehingga pemikiran-pemikiran yang tergelincir dari tauhid diserap mayarakat. Pemikiran rakyat Aceh terbelah karenanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"><span> </span>Sedangkan Teungku-Tengku sibuk dengan kebijaksanaan beragama secara konvesional, tanpa menyadari, hati umat Islam Aceh telah dicuri orang dari jauh. Jauh sekali, sehingga takkan mungkin dipanggil pulang bertahun-tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ibarat mau mengalahkan pencuri professional, orang harus belajar trik pencuri agar dapat mengantisipasi kejahatannya. Begitu pun tokoh agama dan tokoh masyarakat Aceh harus membaca buku-buku itu, sebagai perbandingan agar dapat menyelamatkan ummat yang tauhidnya kurang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Pemerintah dan ulama sudah saatnya membudayakan membaca rakyat Aceh, memfasilitasi mendapatkan buku-buku bermutu yang sesuai ajaran nabi Muhammmad Saw. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Begitulah, jika mau Aceh bermartabat, kita harus kembali kepada ayat alquran yang pertama diturunkan seperti endatu-endatu kita. Semoga Allah Swt. merahmati mereka di alam baqa sana. Semoga kita cucu-cucunya dapat membaca tanda-tanda zaman ini. </span><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Amin!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Begitulah, kalau kita mau Gampong kita yang besar ini maju. Kalau kita tak melakukannya, boleh saja, tapi orang di Pulau Jawa itu sudah melakukannya. Tentulah kita tak mau tertinggal seperti kemarin.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">****</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Zaman ini, kita terkesan kurang membaca Al Quran, meski bulan Ramadhan. Umat sibuk di depan televisi menyimak hiburan tidak Islami, hiburan komersial milik kartel India di pulau seberang. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Syukur, bila kita dilahirkan dengan hobi membaca, dapat kawan juga hobi membaca. Dan lebih senang lagi kalau tetangga juga hobi membaca. Apalagi yang hobi membaca puasa memiliki banyak koleksi buku bacaan. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Ada juga yang hobi membaca, tapi tak ada koleksi buku untuk membaca. Nah, yang model peminjam buku begini banyak, termasuk penulis ini. Ada juga orang yang merelakan beberapa koleksi buku yang Ia miliki untuk dibaca orang lain.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Perintah membaca dari Tuhan kita mencakup dua dimensi, yakni, tersurat dan tersurat.<span> </span>Ada yang pintar membaca keduanya. Secara tersurat terbaca di naskah Quran, dan membaca keadaan sekitar disebut tersirat. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kisah di Sebuah Gampong </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kendati kesejahteraan Gampong itu pada tingkat menengah, pengaruh yang tidak sehat terhadap siswa, pelajar, remaja dan pemuda desa pastilah ada. Penyakit sosial masyarakat telah berkeliaran di sana, menancapkan pengaruh, yaitu narkoba, pergaulan tidak sehat dan kurangnya sarana untuk menyalurkan kegiatan yang positif.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Rasa kegelisahan tersebut sangat menghantui orang tua terhadap perkembangan anak-anaknya. <span> </span>Fahmi, seorang pemuda gampong Muenasah Timu pun merasakan keresahan itu. Ia menginginkan remaja dan pemuda di Gampong itu mengisi hari-hari luangnya dengan kegiatan yang positif.</span></p>
<div class="img_caption left" style="float: left; width: 300px;"><img class="caption" title="Taman Baca Masyarakat Guahira yang dikelola oleh Yayasan Guahira Community di desa Kelurahan matangglumpangdua, Meunasah Timu, Peusangan-Bireuen." src="http://harian-aceh.com/images/stories/fokus/taman-baca-guahira.jpg" border="0" alt="" width="300" height="366" align="left" />Taman Baca Masyarakat Guahira yang dikelola oleh Yayasan Guahira Community di desa Kelurahan matangglumpangdua, Meunasah Timu, Peusangan-Bireuen.</p>
</div>
<p><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Untuk mewujudkannya, Fahmi mengajak remaja dan pemuda <span> </span>sekitar rumahnya untuk mengisi waktu luang dengan belajar. Syukur, keinginan tersebut disambut baik oleh adek-adek <span> </span>sekitar rumahnya. Ia juga merelakan beberapa koleksi buku yang Ia miliki untuk dibaca orang lain. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kebetulan, di depan rumah Fahmi, ada sebuah kios kosong yang tidak di pakai lagi. Kios yang dibangun tahun 1990 berdinding papan sudah nampak renggang. Kios itu kalau dilihat dari depan sudah miring ke kanan dan atapnya bocor.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kios itu pun dibersihkan oleh para muda penyuka baca. Atapnya yang bocor ditempel kembali. Untuk plafon mereka pakek bungkusan zak semen, senagai alternatif karena tak sanggup beli triplek. Lalu, agar sedikit artistik mereka dekor model stalakmit dalam sebuah gua. Setelah selesai, akhirnya kios yang memang dasarnya jelek itu jadilah sulapan sebuah lorong dalam gua dan gelap.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Karena tempat ini akan jadi tempat berteduh untuk membaca dan belajar, penyuka baca di sana pun memberi nama Guahira. Nama itu mereka adopsi dari nama Gua Hira’, tempat pertama kali turunnya ayat ayat Al Quran di waktu Nabi Muhammad Saw ber-khalwat di gua angker tersebut. Ayat itu menerangkan, “Allah menciptakan manusia dari benda yang hina. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kemudian memuliakan manusia dengan mengajar membaca, menulis dan memberinya pengetahuan. Tetapi <span> </span>konon, manusia tidak ingat lagi akan asalnya, karena itu ada manusia yang tidak mensyukuri nikmat Allah, bahkan ada yang <span> </span>bertindak melampaui batas karena melihat dirinya telah merasa serba cukup.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Setelah satu bulan menepati tampat baca baru, para penyuka baca di Gampong kecil itu ngumpul bersama dan mengajak kawan lain untuk belajar bersama di komunitas itu. Masyarakat di sekitar pun amat <span> </span>mendukung kegiatannya. Seiring penambahan anggota baru, koleksi buku pustaka itu pun bertambah. </span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Penyuka baca Gampong termaksud <span> </span>membentuk komunitas di rumah hadiah guna itu. Rumah baca pun jadilah tempat kajian keislaman dan umum, juga jadi tempat belajar komputer . Bersama berjalannya waktu,<span> </span>mereka sepakat membentuk taman bacaan gampong.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Taman bacaan itu terealisasi berkat penyuka baca yang bersatu dan bersemangat tinggi. Mereka mencari alamat baru untuk Guahira, yaitu <a href="http://www.guahira.or.id/">http://www.guahira.or.id</a>. Perintah bacalah <span> </span>mereka praktikkan, dan akhirnya mereka pintar membaca, lalu lahirlah situs itu. Itu hanya satu contoh dekat gebrakan membaca di Gampong kita yang besar ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Pada satu kesempatan, penyuka baca Gampong itu mendapat tambahan buku, yang terbanyak disumbangkan oleh keluarga (Alm) Zulkifli, pengelola toko buku ‘Pustaka Almuslim’. Berkat sumbanganya, pustaka mini itu dapat mengeloksi ratusan buku. Tentulah para penyuka baca di sana girang dan melompat bagai anak ayam kedapatan sebuah kamtung jagung.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Setelah melihat komunitas baca itu berkembangan pesat dan masyarakat Gampong itu mendukung, para pengurus belajar dan menbaca itu didaftarkan menjadi sebuah lembaga kuat dan berbadan hukum. Tepat pada 20 Desember 2003 kelompok belajar Guahira resmi menjadi Yayasan berdasarkan akte Notaris Abdullah Ismail, SH. Akte dengan NOMOR:15.HT.20.12-TH.2003.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Gampong kecil itu bernama Meunasah Timu, sebuah Gampong<span> </span>secara administrasi masuk dalam Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Meunasah Timu memiliki luas wilayah 47,3 ha dengan 19 ha adalah sawah. Gampong<span> </span>kecil itu punya tiga lingkungan, yakni, lingkungan T. Assalam, lingkungan T. Cut Ali dan lingkungan Affan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Bila mahu ke Gampong kecil itu, mudah saja, kita naik kenderaan darat <span> </span>selama kira-kira 15 menit,<span> </span>kita tempuh jalan sejauh 10 km dari pusat kota kabupaten Bireuen. Dan tibalah di Gampong kecil itu. Lokasinya di tepi utara pusat kota Matangglumpangdua, ibu kota Kecamatan Peusangan yang terkenal dengan Sate Matang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Masyarakat Menasah Timu mempunyai karakteristik urban tingkat kesejahteraan berada pada tingkat menengah. Jumlah penduduk mencapai 1756 orang dengan jumlah kepala keluarga (KK) sebanyak 370. Mayoritas penduduknya berprofesi PNS. <span> </span>Bila kita rinci, 50 persen PNS, wiraswasta 35 persen, petani sebanyak 10 persen, dan lain-lain 5 persen.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Suatu ketika, pengelola uang takziah Aceh-Nias membuat program pendirian Taman Bacaan Masyarakat (TBM) <span> </span>di Gampong itu melalui Satket terkait propinsi Aceh. Maka Yayasan Guahira Community Meunasah Timu, Kelurahan Matang Glumpangdua, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, dipercayakan untuk mengelola TBM tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Begitulah kisah para penyuka baca di Gampong kecil itu. Dan pada Rabu, 11 Juli 2007, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Bireuen, meresmikan <em>Taman Bacaan Masyarakat Guahira Community</em> di Gampong itu. Taman Baca Guahira pun jadi TBM pertama dan sampai kini satu-satunya di Kabupaten Bireuen. Taman Bacaan Guahira dikelola oleh Yayasan Guahira. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Kisah tadi hanya satu di antara sekian banyak kisah di Gampong kecil seantero Aceh. Kita bisa melihat sendiri, apa yang berguna dan apa yang sia-sia dilakukan. Terserah saja. Di Gampong kita yang besar ini tidak ada peraturan tentang menempuh cara hidup. Gampong kita ini adalah Gampong tak bertuan. Masing masing tokoh kita hanya pikirkan diri dan keluarganya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Gampong kita ini sedang menghadapi pancaroba identitas dirinya yang hilang ditelan musim tak bernama, di ujung sebuah keputusan tak terbukti. Gampong kita yang besar ini sedang mencari kesempurnaan yang telah puluhan tahun ditinggalkan orang, karena itu dianggap kuno.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 9pt; font-family: 'Arial','sans-serif';">Tidak ada yang pasti di Gampong kita ini. Nuzulul Quran tak pernah diperingati lagi. Kalu pun ada hanya seremoni, bukan menghayati pesan Tuhan dalam ayat itu. Mungkin pula kita menganggap <span> </span>peringatan malam turun wahyu pertama untuk Nabi Muhammad itu memang tak perlu sama sekali. <span> </span>Lihatlah sendiri di Gampong kita yang besar ini. Kesejatian Quran telah hilang semisal hilangnya kelam karena pagi datang. Kesejatian Quran hanya waktu MTQ dan di meunasah tuha yang lampunya sering mati akhir-akhir ini. Lampu wahyu bercahaya pedoman hidup manusia sebagian memang telah padam.[]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/taman-baca-guahira-masuk-koran.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aceh Kembali Menulis</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/aceh-kembali-menulis.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/aceh-kembali-menulis.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Apr 2008 23:41:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Judul : Aceh dan Romatisme Politik
Penulis : Mukhlisuddin Ilyas
Terbit : Januari 2008 
Halaman : xxiii + 121 
Penerbit : Bandar Publishing, Banda Aceh
Distributor : Diandra Publishing, Yogyakarta
**Oleh  Baun Thoib Soaloon SGR
Geliat menulis semakin bersemi di Aceh. Ini salah satu pertanda baik setelah daerah ini mengalami kemunduran akademik dan intelektual, dampak dari konflik politik yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<address>Judul : Aceh dan Romatisme Politik</address>
<address>Penulis : Mukhlisuddin Ilyas</address>
<address>Terbit : Januari 2008 </address>
<address>Halaman : xxiii + 121 </address>
<address>Penerbit : Bandar Publishing, Banda Aceh</address>
<address>Distributor : Diandra Publishing, Yogyakarta</address>
<p class="MsoNormal"><strong>**Oleh  Baun Thoib Soaloon SGR</strong></p>
<p>Geliat menulis semakin bersemi di Aceh. Ini salah satu pertanda baik setelah daerah ini mengalami kemunduran akademik dan intelektual, dampak dari konflik politik yang berkepanjangan serta tsunami. Konflik politik telah menyedot begitu banyak sumber daya Aceh sehingga pendidikan mandeg, merenggut nyawa banyak kader intelektual, membelenggu kebebasan berpikir dalam menyuarakan pendapat, serta mengunci optimisme dan semangat berpikir positif karena selalu dihantui rasa takut.<span id="more-8"></span></p>
<p>Tsunami meluluh-lantakkan infrastruktur fisik pendidikan, menelan korban tokoh-tokoh pemikir dan para pendidik, dan menimbulkan dampak negatif yang luar biasa terhadap keberlangsungan kehidupan ilmiah. Belum genap empat tahun, mungkin sudah ratusan buku karya para penulis Aceh terbit, baik dari kalangan institusi pendidikan, ulama, pers, seniman, pekerja kemanusiaan, maupun masyarakat umum. Buku Aceh dan Romantisme Politik (ADRP) ini ditulis oleh Mukhlisuddin Ilyas, seorang penulis muda yang sehari-hari bekerja pada sebuah LSM dan sedang menyelesaikan studi pascasarjananya di program magister manajemen pendidikan Unsyiah.</p>
<p>Buku setebal 121 + xxiii halaman ini diterbitkan oleh sebuah penerbit baru, Bandar Publishing Banda Aceh dan isinya merupakan sortiran dari esai-esai penulis tentang beragam topik di beberapa media massa lokal dalam kurun waktu yang cukup lama (sepuluh) tahun, sejak 1997—2007. Esai-esai terpilih dikelompokkan berdasarkan kategorinya ke dalam tiga bab buku ini. Bab I Aceh dalam perspektif politik; Bab II Aceh dalam perspektif pendidikan; dan Bab III Aceh dalam perspektif sosial budaya dan keagamaan.</p>
<p>Sepengetahuan penulis, di Aceh, penerbitan buku kompilasi tulisan yang pernah dimuat di media massa masih amat sedikit. Pada tahun 2003 Dewan Kesenian Banda Aceh menerbitkan buku Celoteh Budaya Politik Aceh (CBPA) yang berisi kumpulan tulisan mantan bupati Bireun Mustafa A. Glanggang pada rubrik Tingkap di Harian Serambi Indonesia. Baik CBPA maupun ADRP sama-sama menjadikan Aceh sebagai konteks sekaligus objek pengamatan.</p>
<p>Namun demikian, keduanya menggunakan dua model penyampaian yang berbeda. CBPA mengandalkan ragam gaya bahasa simbolisme, eufimisme, dan personifikasi yang seringkali dibalut cerita fiktif dalam menggambarkan fenomena sosial budaya dan politik pada masanya, sedangkan ADRP mengutamakan penggunaan gaya bahasa yang lugas, objektif, dan ilmiah. Perbedaan ini secara historis tidaklah aneh karena keduanya lahir dalam konteks politik yang berlainan.</p>
<p>Tidak seperti CBPA yang hanya mengumpulkan kembali tulisan-tulisan penulis menjadi berbentuk bunga rampai, penulis buku yang dieditori Mohammad Solikhin ini sepertinya berupaya mengetengahkan potret Aceh dalam tiga perspektif di atas. Limitasi ini barangkali tidak dimaksudkan untuk mempersempit ruang pandang pembaca terhadap dinamika objek yang diamatinya (Aceh), tetapi mungkin lebih berkaitan dengan kapasitas dan minat penulis atau mungkin juga dilatarbelakangi trend isu yang mencuat di Aceh selama periode penulisan esai-esainya.  Menulis tentang Aceh secara komprehensif tentu sangat mustahil bagi siapapun.</p>
<p>Dengan demikian, menilik latar belakang penulis dan isi esai-esai yang dimuat dalam buku ini, faktor personal dan trend isu tampaknya lebih beralasan. Bagaimana dengan tulisan-tulisannya tentang isu-isu politik? Ya, itu mungkin bagian dari minat dan hak kebebasan intelektualnya menyuguhkan sesuatu tentang masyarakat dan daerahnya kepada khalayak. Lagi pula, akhir-akhir ini pembahasan politik sudah menjadi konsumsi umum. Siapapun boleh mengomentari dan banyak hal sering dikait-kaitkan dengan politik.</p>
<p>Esai-esai pada tiga bagian (bab) buku ini jumlahnya relatif berimbang: Bab I, tujuh esai, Bab II sembilan esai, dan Bab III delapan esai. Hal ini mungkin bertujuan agar Aceh tidak dilihat secara sempit memakai satu perspektif dominan, tetapi harus dilihat dari berbagai sudut pandang secara proporsional. Kumpulan tulisan dalam buku ini cukup bervariasi. Secara kontekstual, topik-topik pilihan umumnya masih menjadi isu-isu kontemporer di Aceh yang tetap hangat dibicarakan. Isu politik tentang Partai GAM, kepeminpinan Irwandi-Nazar, perjanjian damai Helsinki dan masa depan perdamaian di Aceh, misalnya, sampai hari ini tidak pernah lenyap dari perbincangan banyak kalangan.</p>
<p>Demikian pula isu pendidikan tentang problematika guru, sistem kurikulum dan pola pengelolaan pendidikan, dan dinamika kehidupan kampus di dua perguruan tinggi terbesar di Aceh senantiasa menjadi sorotan. Di sisi lain, isu mengenai kehidupan sosial budaya seperti diskusi tentang adat dan budaya, kondisi dan masa depan anak-anak korban konflik dan tsunami, serta pengembangan dan pemberdayaan dayah di Aceh juga tidak pernah lengang dari perhatian pemerintah dan masyarakat luas.</p>
<p>Salah satu daya tarik buku ini adalah model pembahasannya yang mengacu pada masalah-masalah riil dan berlangsung secara nyata di tengah masyarakat. Jadi, ini bukan buku teks tentang politik, pendidikan, sosial budaya dan keagamaan Aceh yang dipenuhi teori dengan sistematika yang kaku. Opini dan persepsi penulis terhadap berbagai realita praktis di tengah masyarakat membuat buku ini terasa hidup dan mampu membangun imaji konkrit pembaca tentang seluk-beluk ke-Acehan dengan segala problematikanya. Sisi positif lain, gaya bahasa yang digunakan penulis tergolong sangat lugas, terkadang tajam monohok, dan sesekali meledak-ledak dengan temperatur emosi yang cukup tinggi. Indikasi demikian setidaknya menyiratkan kejujuran, keseriusan, kedekatan dengan objek yang ditulis, dan semangat untuk mengungkapkan kebenaran secara apa adanya.</p>
<p>Sebagai karya pertama bagi penulis dan penerbit, wajar apabila buku ini masih memiliki banyak kekurangan. Tulisan tentang sejarah mengandung kontradiksi karena di satu sisi pembaca dengan mudah menilai bahwa penulis adalah pengagum sejarah (Aceh), tetapi di sisi lain ia mengherankan orang yang mengagungkan sejarah. Kontradiksi ini dapat memicu anggapan bahwa penulis kurang konsisten. Pemilihan judul buku ini (Aceh dan Romantisme Politik) terkesan terburu-buru dan dipaksakan. Penggunaan kata “romantisme” juga sangat bertolak belakang dengan cerita huru-hara, konflik, intrik politik, pelanggaran HAM, dan berbagai kisah yang jauh dari sifat romantis.</p>
<p>Selain masalah judul, pada banyak tempat terdapat beberapa bagian tulisan yang mudah dikenali sebagai kutipan tapi sumbernya tidak dimuat secara eksplisit. Hal ini mengurangi kredibilitas ilmiah sebuah buku. Selain itu juga menyulitkan pembaca yang berkeinginan melacak sumber aslinya.</p>
<p>Kekurangan lain buku ini adalah banyaknya penggunaan ungkapan dan terminologi asing yang belum begitu akrab bagi pembaca umum ataupun sudah memiliki padanan yang sudah lazim dalam bahasa Indonesia. Ungkapan atau terminologi yang tergolong asing sebaiknya diiringi terjemahannya dalam bahasa Indonesia, sedangkan yang sudah memiliki padanan yang lazim digunakan dalam bahasa Indonesia sebaiknya digunakan versi Indonesia-nya sehingga memudahkan pemahaman pembaca. Kualitas sebuah tulisan tidak ditentukan oleh seberapa banyak istilah asing yang digunakannya, melainkan seberapa banyak dan dalam pesan yang ingin disampaikannya dapat ditangkap oleh pembaca.</p>
<p>Menurut saya, acapkali penulis terlalu larut dalam emosi sehingga banyak pilihan kata yang memberi kesan berlebihan, mendramatisir keadaan, dan cenderung bombastis. Tata bahasa dalam penulisan buku ini juga masih perlu dibenahi. Hampir pada setiap halaman terdapat kesalahan tata kalimat, tanda baca, dan ejaan sehingga sangat merepotkan dan mengganggu konsentrasi orang yang membacanya. Kesalahan teknis editorial seperti ini dapat mengurangi mutu buku secara keseluruhan karena bisa saja menimbulkan asumsi kecerobohan dan dianggap prematur (kurang matang).</p>
<p>Dari segi desain dan kemasan, kualitas buku ini sudah lumayan baik. Pilihan warna dominan sampul (biru dan putih) sebenarnya sangat inspiratif dan menggugah optimisme. Namun demikian, kolaborasi beberapa potong gambar pada sampul muka justru tidak mendukung komposisi warna di atas. Illustrasi tersebut menurut saya tidak memberi motivasi pencerahan dan derap langkah ke depan mencapai kemajuan, melainkan justru simbolisme masa lalu yang penuh tragedi dan serba runyam. Di samping itu, ukuran huruf yang terlalu kecil berpotensi mengganggu kenyamanan pembaca karena membuat mata cepat lelah.</p>
<p>Bagi pembaca yang beranggapan bahwa tulisan penulis lokal tentang masyarakat dan daerahnya lebih objektif, murni, dan jujur, buku ini tentu sangat cocok dan sesuai selera Anda. Bagi masyarakat non-Aceh, buku ini pun sangat berguna dibaca sebagai penyeimbang dan penggugah empati jika selama ini informasi yang diperoleh tentang Aceh relatif  berat sebelah dan bersifat mono-perspektif. Selanjutnya, bagi masyarakat Aceh sendiri, meskipun buku ini berangkat dari kejadian-kejadian faktual dan isu-isu yang telah lewat masanya di mana sebagian pembaca mungkin sudah mengetahui atau bahkan mengalaminya, buku ini tidak lantas dianggap sebagai kaset lama yang dendangnya sudah usang dan membosankan. Selamat membaca![]</p>
<p align="right"><em>** Peresensi adalah Staf Balai Bahasa Aceh</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/aceh-kembali-menulis.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
