<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Taman Baca Guahira &#187; Uncategorized</title>
	<atom:link href="http://tamanbaca.guahira.com/category/uncategorized/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tamanbaca.guahira.com</link>
	<description>Karena membaca adalah jendela dunia...</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jul 2010 03:39:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Yang ke Perpustakaan bukan Anak Gaul</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/yang-ke-perpustakaan-bukan-anak-gaul.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/yang-ke-perpustakaan-bukan-anak-gaul.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 18:03:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[gaul]]></category>
		<category><![CDATA[Perpustakaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Hari gini, ada apa sih di perpustakaan sekolah? Kayaknya enggak ada yang ”penting” di perpustakaan sekolah atau perpus. Tinggal klik Google, semua informasi langsung tersedia&#8230;.
Perpus? Udah bukunya jadul, lay out-nya enggak menarik, dilarang ngobrol lagi. Kalau saja enggak ada tugas yang memaksa kita masuk perpus, males banget ya&#8230;
Kayaknya hampir pasti kalo sebagian besar putabuers bakalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari gini, ada apa sih di perpustakaan sekolah? Kayaknya enggak ada yang ”penting” di perpustakaan sekolah atau perpus. Tinggal klik Google, semua informasi langsung tersedia&#8230;.</p>
<p>Perpus? Udah bukunya jadul, lay out-nya enggak menarik, dilarang ngobrol lagi. Kalau saja enggak ada tugas yang memaksa kita masuk perpus, males banget ya&#8230;</p>
<p>Kayaknya hampir pasti kalo sebagian besar putabuers bakalan menjawab dengan ”penolakan” yang sama saat ditanya komentarnya soal perpus. Lokasi yang mestinya bisa jadi tempat nongkrongnya putabuers di sekolah, dijauhi karena kondisinya yang nyaris ketinggalan zaman.</p>
<p>Perpus ibarat ”penyakit”. Sejak zaman dulu, perpus identik sebagai salah satu tempat di sekolah yang amat dihindari putabuers. Kalaupun ada yang demen masuk ke perpus, bisa dibilang orang-orangnya itu melulu. Enggak jarang pula, geng perpus itu disebut sebagai kelompok enggak gaul.<span id="more-23"></span></p>
<p>Inget kan sosok Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta? yang diperankan Nicholas Saputra? Cowok asosial yang enggak punya temen itu hobi menyendiri, demen membenamkan diri di antara buku-buku di perpus.</p>
<p>Jadi kesannya, perpus = enggak gaul.</p>
<p>Kalo dibandingin sama kantin, pastilah perpus kalah populer. Biarpun kantin pasti bikin kantong terkuras, tapi tetap aja banyak putabuers yang lebih milih nongkrong di kantin ketimbang perpus.</p>
<p>Tugas guru</p>
<p>Alfina Ambarwati, salah satu siswa XII dan Khusnul Khotimah, kelas XII IPS 3 SMAN 112 Jakarta, mengatakan, kalo enggak ada tugas dari guru, mereka enggak bakalan masuk perpus.</p>
<p>”Kalo secara sengaja ke perpus buat baca-baca sih jarang,” kata Fina, panggilan Alfina.</p>
<p>”Memang sih seenggaknya dua kali sebulanlah kita masuk perpus buat ngerjain tugas,” timpal Khusnul. Dia beralasan jarang ke perpus karena sibuk mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional.</p>
<p>Lho, bukannya kalo mau ujian nongkrongnya justru di perpus? ”Enggak sempetlah,” cetus Fina.</p>
<p>Apa yang dikatakan Fina dan Khusnul itu disetujui Arini Dwi Deswanti, kelas XII IPS 1 SMAN 28 Jakarta.</p>
<p>”Aku ke perpus kalo ada tugas. Biasanya sih dua kali sebulan, tergantung sama banyak sedikitnya tugas. Yang banyak ngasih tugas itu guru Bahasa Indonesia,” kata Arini.</p>
<p>Untungnya, masih ada alasan yang bikin putabuers mampir ke perpus, misalnya saat jam pelajaran kosong. Salah satu yang suka mampir ke perpus itu adalah Arini. Katanya, ”Kalo lagi ada jam kosong, aku suka iseng baca majalah atau buku tahunan. Kalo ke kantin takut enggak bisa berhenti jajan.”</p>
<p>Ayu Novita, kelas X PB 2, dan Dian Mega dari kelas X Ak 2 SMKN 20 Jakarta juga ke perpus untuk alasan sama. ”Kalo jam kosong mending ke perpus aja, baca-baca majalah atau novel,” kata Ayu.</p>
<p>Perkembangan terbaru, selain sebagai gudang ilmu dan informasi, belakangan ini perpus juga jadi tempat ngaso para siswa. Terutama buat putabuers yang sekolahnya mengaplikasikan program moving class.</p>
<p>”Biasanya sambil nunggu jam moving class, kita ke perpus sekalian istirahat. Moving class kan capek naik turun tangga,” kata Fina.</p>
<p>Dari puisi sampai novel</p>
<p>Lazimnya, di perpus itu ada buku-buku pelajaran kayak IPA, IPS, Sejarah, Geografi, dan sebagainya. Terus ada juga novel-novel karya pengarang Indonesia mulai dari Motinggo Busye sampai Sutan Takdir Alisjahbana. Ada juga buku-buku kumpulan puisi sampai koran dan majalah.</p>
<p>Memang sih di sebagian perpus koleksi bukunya sering kali terbatas, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Ini sering menjadi kendala yang bikin putabuers malas ke perpus.</p>
<p>Kenapa bisa begitu? Alasan umum adalah keterbatasan dana yang menjadi kendala pengadaan buku-buku berkualitas untuk perpus sekolah. Ini antara lain dikatakan Ibu Siti Laela, guru yang ngurusin perpustakaan SMKN 20 Jakarta.</p>
<p>”Dalam setahun hanya ada penambahan 20 judul baru,” katanya.</p>
<p>Jadi enggak heran kalau banyak sekolah yang mewajibkan siswanya menyumbang buku di akhir semester. Tujuannya jelas, demi menambah koleksi perpustakaan biar minat siswa mengunjungi perpus meningkat.</p>
<p>Sebenarnya sih, minimnya koleksi perpus enggak perlu bikin kita langsung bete. Soalnya mulai tahun ajaran baru 2008 lalu, banyak sekolah udah menyediakan komputer yang terkoneksi dengan jaringan internet di perpus.</p>
<p>Di SMKN 20 misalnya, ada empat komputer dan di SMAN 28 ada tiga. Adanya komputer bisa bikin acara ke perpus jadi nikmat. Tentu aja asal internetnya nggak dipakai buat buka-buka Facebook sama Friendster doang!</p>
<p>Yang lebih asyik lagi, kata Bu Laela, ruangan perpus juga dibikin nyaman dengan pendingin udara dan lantai berkarpet.</p>
<p>”Di perpus kami, siswa enggak lagi dilarang ngobrol,” kata Bu Laela.</p>
<p>Itulah jurus-jurus buat menarik putabuers ke perpus. Jurus yang diperoleh SMKN 20 Jakarta, setelah Bu Laela berkonsultasi dengan Gola Gong, pendiri ”perpustakaan” bernama Rumah Dunia di Banten.</p>
<p>”Buat kami, yang penting anak-anak mau ke perpus,” tandas Bu Laela.<br />
(DWI)</p>
<p>Source http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/27/02012053/perpustakaan.enggak.gaul</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/yang-ke-perpustakaan-bukan-anak-gaul.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bacaan Sastra Minim, Siswa Pun Kurang Berminat</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/bacaan-sastra-minim-siswa-pun-kurang-berminat.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/bacaan-sastra-minim-siswa-pun-kurang-berminat.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 19:15:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Minta Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Ketersediaan bahan bacaan sastra saat ini sangat terbatas, termasuk di sekolah-sekolah. Di sisi lain, kurikulum pengajaran lebih menekankan pada kebahasaan atau tata bahasa. Faktor-faktor inilah yang antara lain menyebabkan siswa kurang berminat terhadap sastra.
Guru Bahasa Indonesia dan Sastra di SMPN 90 Jakarta Timur, Nefita, Senin (13/10), mengatakan, rendahnya minat terhadap sastra terjadi terutama di sekolah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ketersediaan</strong> bahan bacaan sastra saat ini sangat terbatas, termasuk di sekolah-sekolah. Di sisi lain, kurikulum pengajaran lebih menekankan pada kebahasaan atau tata bahasa. Faktor-faktor inilah yang antara lain menyebabkan siswa kurang berminat terhadap sastra.</p>
<p>Guru Bahasa Indonesia dan Sastra di SMPN 90 Jakarta Timur, Nefita, Senin (13/10), mengatakan, rendahnya minat terhadap sastra terjadi terutama di sekolah minim fasilitas dan bahan bacaan sastra. ”Di sekolah unggulan, minat siswa terhadap sastra cukup tinggi. Bahkan, ada yang sangat menonjol. Sekolah-sekolah demikian tentu siap mengikuti kompetisi di bidang sastra, seperti olimpiade sastra,” ujarnya.<span id="more-18"></span></p>
<p>Akan tetapi, tidak demikian di sekolah yang serba terbatas. Dia mencontohkan, sekolah tempatnya mengajar di SMPN 90 yang terletak di kawasan industri, Jatinegara Kawung. Sebagian besar wali murid bekerja sebagai buruh pabrik. Sangat sulit mengharapkan anak membeli buku bacaan sastra.</p>
<p>”Jangankan buku sastra, membeli buku teks pelajaran saja sudah sulit,” ujarnya.</p>
<p>Di perpustakaan juga tidak tersedia cukup buku sastra. Nefita yang pernah menjadi pengurus perpustakaan di sekolah tersebut mengatakan, seharusnya minimal terdapat 50 judul buku sastra. Namun, di sekolah tersebut jumlah yang tersedia hanya sekitar 20 judul.</p>
<p><strong>Lebih ke tata bahasa</strong></p>
<p>Kurikulum pengajaran juga tidak mengacu kepada bagaimana agar siswa menggali sastra. Muatan kurikulum yang ada, sekitar 80 persen muatan kebahasaan atau tata bahasa Indonesia dan sisanya barulah tentang sastra.</p>
<p>Hal senada dikemukakan oleh Syamsudin, guru Bahasa Indonesia dan Sastra SMAN 35 Jakarta Pusat. Keberadaan guru-guru kreatif dan bahan bacaan sangat memengaruhi minat dan kemajuan pembelajaran sastra di sekolah. ”Gurunya harus mengerti sastra dan ditunjang buku bacaan di sekolah,” katanya.</p>
<p>Di SMAN 35, guru Bahasa Indonesia dan Sastra merupakan guru-guru senior di bidang tersebut. Bahan bacaan juga tersedia lengkap di sekolah yang Jurusan Bahasa dan Sastra berada di peringkat dua DKI Jakarta.</p>
<p>Hanya saja, gengsi terhadap Jurusan Bahasa dan Sastra memang masih dirasa kurang. Tak heran jika kemudian sedikit sekolah yang membuka jurusan tersebut dan memilih membuka jurusan Ilmu Pengetahuan Alam.</p>
<p>”Untuk jurusan IPA dan IPS, sekitar 70 persen kurikulum bahasa lebih ke arah tata bahasa dan sisanya baru sastra,” ujarnya.</p>
<p>Supaya anak tertarik dengan sastra, Syamsudin tidak sekadar menekankan kepada teori, melainkan juga praktik. Melalui kegiatan praktik akan terbentuk karakter dan tergali minat anak di bidang sastra. Sebagai contoh, Syamsudin memberikan tugas kepada anak untuk mewawancarai orang terkenal dan menulis laporannya. Terkadang mereka berlatih drama.</p>
<p><strong>Olimpiade sastra</strong></p>
<p>Gagasan olimpiade sastra di sisi lain mendapatkan dukungan dari para guru tersebut. Melalui olimpiade tersebut, Nefita mengatakan, apresiasi dan kecintaan siswa terhadap sastra akan meningkat. Anak termotivasi mempelajari sastra dan berusaha keras mengembangkan sastra dan menghasilkan karya yang baik.</p>
<p>” Anak yang berbakat di bidang tersebut juga bisa menggali minatnya,” katanya.</p>
<p>Guru pun akan belajar dan meningkatkan pengetahuannya seiring dengan membina anak- anak untuk ikut serta dalam ajang tersebut. <strong>(Kompas Cetak, 14/10/08)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/bacaan-sastra-minim-siswa-pun-kurang-berminat.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
