<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Blog Taman Baca Guahira</title>
	<atom:link href="http://tamanbaca.guahira.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tamanbaca.guahira.com</link>
	<description>Karena membaca adalah jendela dunia...</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jul 2010 03:39:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pemkab Bireuen Didesak Bangun Perpustakaan</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/pemkab-bireuen-didesak-bangun-perpustakaan.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/pemkab-bireuen-didesak-bangun-perpustakaan.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 03:39:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamanbaca.guahira.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Bireuen &#124; Harian Aceh &#8211; Pemerintah Kabupaten Bireuen didesak segera membangun perpustakaan. Mengingat sulitnya memperoleh bahan bacaan di tengah makin besarnya minat baca masyarakat. “Bupati Bireuen pernah merencanakan membangun perpustakaan daerah di lokasi gedung SMP Negeri 7 Bireuen. Sementara sekolah itu dipindahkan ke kawasan sekolah terpadu Desa Lhok Awe-Awe, Jeumpa. Namun apa yang dicanangkan itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bireuen | Harian Aceh &#8211; Pemerintah Kabupaten Bireuen didesak segera membangun perpustakaan. Mengingat sulitnya memperoleh bahan bacaan di tengah makin besarnya minat baca masyarakat. “Bupati Bireuen pernah merencanakan membangun perpustakaan daerah di lokasi gedung SMP Negeri 7 Bireuen. Sementara sekolah itu dipindahkan ke kawasan sekolah terpadu Desa Lhok Awe-Awe, Jeumpa. Namun apa yang dicanangkan itu belum menjadi kenyataan,” kata Muhajir, seorang mahasiswa asal Juli, Sabtu (24/7/2010).</p>
<p>Atas kondisi itu, Muhajir menilai pernyataan Bupati Nurdin Abdul Rahman beberapa bulan lalu itu hanya sebuah retorika. Nyatanya, langkah menuju ke arah tersebut belum juga dilakukan. Sementara masyarakat Bireuen amat membutuhkan adanya sebuah perpustakaan daerah yang representatif.</p>
<p>“Masyarakat Bireuen tergolong gemar membaca dan haus ilmu. Dengan adanya perpustakaan masyarakat bisa meminjam buku-buku mengenai sejarah dan  ilmu pengetahuan lainnya. Atau bisa membaca di ruang yang disediakan di perpustakaan,” ujarnya.</p>
<p>Sejumlah kalangan masyarakat Bireuen lainnya menyatakan mendukung pembangunan perpustakaan itu. M Harun, warga Bireuen lainnya menyebutkan, lokasi SMP Negeri 7 Bireuen di kawasan Cot Gapu sangat strategis untuk lokasi pembangunan perpustakaan daerah. “Terlebih jika dilakukan penataan dan dibuat taman kota yang membuat masyarakat nyaman dan tenang dalam membaca,” imbuhnya.(harian-aceh.com)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/pemkab-bireuen-didesak-bangun-perpustakaan.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minat Baca Masyarakat Terus Diupayakan Peningkatan</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/minat-baca-masyarakat-terus-diupayakan-peningkatan.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/minat-baca-masyarakat-terus-diupayakan-peningkatan.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 08:38:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tamanbaca.guahira.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Sigli, Seputar Aceh – saat ini Pemerintah Aceh terus mengupayakan peningkatan minat baca masyarakat. Untuk itu, Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh, membangun 600 lebih perpustakaan yang disebar di gampong-gampong seluruh Aceh. Program tersebut sudah dimulai Januari  2007 lalu.
“Pembangunan 600 lebih perpustakaan sebagai program menumbuhkan minat baca masyarakat, sehingga mereka tidak buta huruf,” kata Kepala Badan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sigli, Seputar Aceh</strong> – saat ini Pemerintah Aceh terus mengupayakan peningkatan minat baca masyarakat. Untuk itu, Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh, membangun 600 lebih perpustakaan yang disebar di gampong-gampong seluruh Aceh. Program tersebut sudah dimulai Januari  2007 lalu.</p>
<p>“Pembangunan 600 lebih perpustakaan sebagai program menumbuhkan minat baca masyarakat, sehingga mereka tidak buta huruf,” kata Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Propinsi Aceh, Kamaruddin Husen Kamis (19/11).</p>
<p>Kata Kamaruddin, selain membangun perpusatakaan, yang paling yang harus dilakukan tentunya memberikan fasilitas buku-buku bacaan. Selain itu ia juga mengatakann, upaya untuk menumbuh kembangkan minat baca itu tentunya tidak dapat dilakukan tanpa adanya dukungan dari masyarakat.</p>
<p>“Kita bisa melakukan apa saja jika ada dukungan dari masyarakat,”.</p>
<p>Untuk itu Kamaruddin meminta kepada seluruh masyarakat Aceh agar tetap mendukung upaya pemerintah dalam menumbuh kembangkan minat baca. Sehingga hasil yang dicapai nantinya terasa dan berguna. “Saya optimis minat baca di Aceh setiap tahun akan meningkat,” kata dia. <strong>[sa-amr]</strong></p>
<p><strong>Sumber: <a href="http://seputaraceh.com" target="_self">seputaraceh.com</a><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/minat-baca-masyarakat-terus-diupayakan-peningkatan.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LAPAN Resmikan Perpustakaan Online dan Komunitas Antariksa</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/lapan-resmikan-perpustakaan-online-dan-komunitas-antariksa.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/lapan-resmikan-perpustakaan-online-dan-komunitas-antariksa.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 15:07:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) meresmikan layanan perpustakaan online dan komunitas pencinta antariksa Indonesia.
Sekretaris Utama LAPAN, Bambang Koesoemanto meresmikan layanan online perpustakaan LAPAN tersebut dalam acara &#8220;Diseminasi Perkembangan Roket dan Satelit di Indonesia&#8221; di kantor LAPAN, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu.
Perpustakaan online LAPAN, kata Bambang, bertujuan untuk meningkatkan minat dan pengetahuan masyarakat luas terhadap antariksa, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Lembaga</strong> Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) meresmikan layanan perpustakaan online dan komunitas pencinta antariksa Indonesia.</p>
<p>Sekretaris Utama LAPAN, Bambang Koesoemanto meresmikan layanan online perpustakaan LAPAN tersebut dalam acara &#8220;Diseminasi Perkembangan Roket dan Satelit di Indonesia&#8221; di kantor LAPAN, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu.</p>
<p>Perpustakaan online LAPAN, kata Bambang, bertujuan untuk meningkatkan minat dan pengetahuan masyarakat luas terhadap antariksa, roket dan satelit yang selama ini dirasa masih kurang.</p>
<p>Dengan layanan online ini, masyarakat akan mudah dan setiap saat untuk mengakses database koleksi textbook, jurnal dan hasil penelitian dari perpustakaan LAPAN.<span id="more-85"></span><br />
Bambang mengatakan saat ini ada sekitar 5.000 textbook yang telah bisa diakses online dari sebanyak 8.000 koleksi perpustakaan LAPAN.</p>
<p>&#8220;Tetapi karena masalah `copyright` buku, maka masyarakat hanya bisa mengakses judul, pengarang dan daftar isi dari teksbook,&#8221; katanya.</p>
<p>Di masa mendatang, perpustakaan LAPAN bisa memberikan layanan pengiriman buku yang telah disewa dan dipesan secara online kepada masyarakat.</p>
<p>Sedangkan untuk jurnal dan hasil penelitian peneliti-peneliti LAPAN yang bersifat tidak rahasia bisa langsung diunduh (download) oleh masyarakat.</p>
<p>Selain itu, perpustakaan LAPAN juga memiliki koleksi materi audiovisual sebanyak 2.000 judul yang bisa dilihat langsung di perpustakaan LAPAN.</p>
<p>komunitas antariksa</p>
<p>Pada kesempatan tersebut, LAPAN juga meresmikan dan memperkenalkan komunitas pencinta antariksa melalui `mailing list` (milis) komunitas-antariksa@yahoogroups.com.</p>
<p>Bambang mengatakan dengan komunitas pencinta antariksa ini akan dapat meningkatkan pengetahuan dan jaringan kerja dari masyarakat yang gandrung pada berbagai hal terkait antariksa.</p>
<p>Keinginan jangka panjang dari layanan online perpustakaan LAPAN dan komunitas pencinta antariksa, tambah Bambang, adalah untuk merintis kemandirian peroketan dan antariksa Indonesia dimasa mendatang.(<a href="http://www.antaranews.com/berita/1248852788/lapan-resmikan-perpustakaan-online-dan-komunitas-antariksa" target="_self">antaranews.com</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/lapan-resmikan-perpustakaan-online-dan-komunitas-antariksa.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TBM Guahira Ikut Lomba Jambore 1000 PTK-PNF 2009</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/tbm-guahira-ikut-lomba-jambore-1000-ptk-pnf-2009.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/tbm-guahira-ikut-lomba-jambore-1000-ptk-pnf-2009.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 05:06:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Taman baca Guahira mengikuti lomba karya nyata Jambore 1000 PTK-PNF 2009 tingkat provinsi Aceh yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal (PTK-PNF) pada 28-29 Juli 2009 di Asrama Haji Banda Aceh.
Perlombaan yang diikuti oleh TBM Guahira Community pada lomba Jambore 1000 PTK-PNF ada dua bagian perlommbaan karya nyata,  TBM dan bagian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Taman </strong>baca Guahira mengikuti lomba karya nyata Jambore 1000 PTK-PNF 2009 tingkat provinsi Aceh yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal (PTK-PNF) pada 28-29 Juli 2009 di Asrama Haji Banda Aceh.</p>
<p>Perlombaan yang diikuti oleh TBM Guahira Community pada lomba Jambore 1000 PTK-PNF ada dua bagian perlommbaan karya nyata,  TBM dan bagian IT. Pada bagian TMB menyangkut dengan &#8220;manajemen Taman Baca Masyarakat dan di bagian IT, &#8220;pengenbangan website lembaga&#8221;.</p>
<p>Pada bagian lomba IT, blog http://tbm.guahira.or.id kami ikut sertakan pada lomba karya nyata Jambore 1000 PTK-PNF.</p>
<p>Semoga lomba karya nyata Janmbore 1000 PTK-PNF tingkat provinsi Aceh mendapatkan web lembaga yang akan mengikutidi tingkat nasional, di Yogyakarta.[]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/tbm-guahira-ikut-lomba-jambore-1000-ptk-pnf-2009.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Spiritual Reading: Mengingatkan Tentang Prioritas Bacaan</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/spiritual-reading-mengingatkan-tentang-prioritas-bacaan.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/spiritual-reading-mengingatkan-tentang-prioritas-bacaan.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jul 2009 09:23:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Ragam metafor kerap dipakai orang manakala membicarakan aktivitas baca membaca. Sebagaian mengatakan, membaca adalah jendela dunia. Membaca adalah gudang ilmu. Membaca menghapus kebodohan. Membaca adalah anu. Membaca adalah bla bla. Begitu kaya perumpamaan yang telah dilahirkan para pembaca. Anda pun bisa melahirkannya. Kerena memang tak ada larangan.
Bagi saya, bacaan adalah racun yang mengobrak-abrik tatanan segi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ragam</strong> metafor kerap dipakai orang manakala membicarakan aktivitas baca membaca. Sebagaian mengatakan, membaca adalah jendela dunia. Membaca adalah gudang ilmu. Membaca menghapus kebodohan. Membaca adalah anu. Membaca adalah bla bla. Begitu kaya perumpamaan yang telah dilahirkan para pembaca. Anda pun bisa melahirkannya. Kerena memang tak ada larangan.</p>
<p>Bagi saya, bacaan adalah racun yang mengobrak-abrik tatanan segi pemikiran seseorang. Baik menjungkirbalikkan yang baik menjadi buruk atau sebaliknya. Buku bisa menyakiti. Buku juga bisa menjadi penawarnya. Akibat membaca, Muslim jadi Kafir. Kafir menjelma Muslim. Laki-laki alim menjadi bocah urakan. Si urakan mendadak alim. Gadis berjilbab menjadi seksi, dan si seksi segera berjilbab. Begitulah bacaan mengaduk-aduk otak pemahaman kita.<span id="more-28"></span></p>
<p><img class="alignleft" src="http://www.rumahdunia.net/nimages/1451.jpg" alt="" width="133" height="200" />Judul		: Spiritual Reading; Hidup Lebih Bermakna dengan Membaca<br />
Penulis	: Dr. Raghib As-Sirjani &amp; Amir Al-Madari<br />
Penerbit	: Aqwam<br />
Tahun Terbit	: 2007<br />
Tebal		: 208</p>
<p>Secara khusus tulisan ini saya persembahkan kepada umat Islam. Sejarah telah mencatat bagaimana bacaan menjadi pegangan ideologi yang bermula dari gagasan individu merambat menjadi kepercayaan berjamaah. Kita mengenal bangsa Yahudi dengan Negara Israelnya. Barangkali Israel tidak akan pernah ada di muka bumi ini jika seandainya Benyamin Se’eb alias Theodore Herzl tidak menulis buku tipis bertajuk Der Judenstaat (The Jewish State). Bersama karya fiksinya yang berjudul Altneuland (Old New Land), buku ini telah menginspirasi jutaan orang Yahudi untuk bergerak mendirikan negara Israel dengan merampas hak-hak warga Pelestina. (Mohammad Fauzil Adhim, 2005)</p>
<p>Bacaan yang bergenit-genit. Genit isinya. Genit penulisnya. Genit ideologinya. Hal itu tentu saja membuat pembacanya menjadi genit nan centil pula. Saya sarankan, segera “lempar” dulu bacaan itu sekarang juga. Tapi sayangnya tidak sedikit orang yang mengaku ingin mengusung dan mendongkrak wawasan diri malah asyik menikmati bacaan itu. Lalu diceritakanlah kegilaan di buku itu. Blar.. dan seketika virus gendeng sudah menular cepat dengan indikasi retorika menggebu dan penampilan berdebu. Tak ada kesedihan yang besar menimpa bumi selain orang gila yang cerdas menyebarkan penyakit gila secepat merebaknya kentut. Jadi membaca jangan asal baca. Lantas, buku seperti apa yang harus dibaca jika demikian? Bukankah dengan buku kita seolah mengarungi laut lepas?</p>
<p>Jawabannya, semua buku harus dibaca. Betul jika membaca adalah mengarungi laut lepas demi mencapai pantai indah kecerdasan. Hanya saja persiapkan diri Anda sesiap-siapnya untuk membaca. Selayaknya orang hendak mengarungi lautan, meski tidak memiliki wawasan navigasi dan ketahanan hidup di laut, paling tidak ia mempunyai kemampuan berenang yang mumpuni. Bahasa anak muda sekarang, silahkan gaul asal jangan lebur.</p>
<p>Berangkat dari sana saya ingin menawarkan pijakan utama dalam membaca yang dipaparkan Dr. Raghib As-Sirjani dan Amir Al-Madari yang tercatat dalam buku berjudul Spiritual Reading: Hidup Lebih Bermakna dengan Membaca. Buku yang diproduksi Penerbit Aqwam ini sejatinya layak dijadikan pegangan para muslim mempersiapkan diri melawan bacaan-bacaan nyeleneh. Jika melihat kondisi banyaknya bacaan ngawur dan menyesatkan, kita sering kali dibuat bingung sendiri, dari manakah awal kita membaca? Atau buku apa sih yang seharusnya pertama kali dibaca?</p>
<p>Buku ini merupakan terjemah dari buku aslinya berjudul Iqro’ La Budda an Taqra’ &amp; Al-Qira’atu Minhajul Hayati ini mengembalikan ingatan kita akan kesalahan besar para pembaca, terlebih umat Islam. Terutama sekali mengenai prioritas bacaan yang kadang saling sengkarut antara prioritas bacaan utama dengan bacaan sampingan. Sehingga yang terjadi, kita banyak membaca tapi tak banyak melakukan perubahan apa-apa. Lewat buku ini kedua penulis ingin menghadirkan kembali spirit umat Islam yang pernah memimpin peradaban dunia lebih dari 300 tahun, yakni sebagai umat yang memimpin arus informasi dunia melalui budaya baca.</p>
<p>Muslim adalah orang yang seimbang. Sehingga selayaknya membaca banyak buku guna menyeimbangkan hidupnya. Namun di sini Dr. Raghib As-Sirjani hanya membatasi pada sepuluh prioritas yang bisa kita baca.</p>
<p>Prioritas pertama, bacalah terlebih dahulu buku ini, karena di dalamnya memuat segala ilmu apa saja yang mengatur sepak terjang manusia. Hanya saja telah terjadi salah kaprah di kalangan umat Islam saat memperdebatkan suatu masalah keagamaan tanpa sama sekali berpijak pada pemahaman yang terkandung dalam buku ini: Al-Qur’an. Prioritas kedua tak lain adalah bacaan berupa Al-Hadits As-Syarif. Hal ini karena, selain Hadits mendapatkan posisi kedua setelah Al-Qur’an, Hadits juga menjelaskan maksud-maksud tertentu yang terkandung dalam Al-Qur’an. Prioritas ketiga, membaca Ilmu-ilmu Syar’i, yang di dalamnya termasuk kitab-kitab tafsir, fiqih, tauhid, dan sejenisnya. Prioritas keempat, membaca buku-buku spesialisasi keilmuan tertentu. Dokter harus banyak membaca tentang kedokteran, tentara harus banyak membaca buku-buku militer, pengusaha harus banyak membaca buku-buku perbisnisan, dan semisalnya. Prioritas kelima, membaca buku sejarah, mengingat sejarah cukup penting dalam rangka menangkap pelajaran atau ibroh positif. Prioritas keenam, membaca ilmu politik, dalam artian politik segala bidang dan negara keseluruhan. Prioritas ketujuh, buku tentang pendapat-pendapat orang lain. Ini berguna untuk mendapatkan pelajaran dari alur gerakan pemikiran-pemikiran orang lain, baik yang pro atau kontroversi. Prioritas kedelapan, membaca tentang syubhat seputar Islam guna membendung kesalahpahaman penggugat Islam memahami konsep Islam, dengan menyuguhkan dalil-dalil. Prioritas kesembilan, bacaan tentang pendidikan anak. Hal ini mengingat dalam mendidik anak menjadi shalih dan shalihah ada seni tersendiri dan telah diatur secara khusus. Dan prioritas kesepuluh, membaca buku-buku hiburan. Ini mengingat manusia cenderung merasa jenuh, maka dipersilahkan sesekali membaca berita-berita olahraga, syair-syair santun, gambar-gambar karikatur sopan, dan sejenisnya.</p>
<p>Buku ini juga menawarkan buku-buku yang dianjurkan pada setiap prioritas dari kesepuluh prioritas di awal. Tak ada salahnya kita membaca buku ini sebelum memutuskan membaca buku lainnya. Paling tidak kita kembali diingatkan bahwa ternyata ada skala prioritas yang harus pahami dan dilaksanakan dalam aktivitas membaca. Dan membaca bukanlah racun. Salam.</p>
<p>(Sumber: http://<a href="http://www.rumahdunia.net" target="_self">www.rumahdunia.net</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/spiritual-reading-mengingatkan-tentang-prioritas-bacaan.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resensi buku Aceh Pungo</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/resensi-buku-aceh-pungo.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/resensi-buku-aceh-pungo.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 07:59:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Baun Thoib Soaloon Siregar &#8212; Ketika saya mencari-cari buku referensi kuliah pada sebuah toko buku, tiba-tiba seseorang (entah penjual atau pembeli) nyeletuk: ”Aceh pungo, dua uroe teuk, kon le ureung Aceh nyang pungo, Batak-Batak pih kapungo.” Saya hanya menangkap potongan ungkapan tadi dan tidak tahu sama sekali pangkal ujung pembicaraan. Karena penasaran saya bertanya: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Baun Thoib Soaloon Siregar</strong> &#8212; Ketika saya mencari-cari buku referensi kuliah pada sebuah toko buku, tiba-tiba seseorang (entah penjual atau pembeli) nyeletuk: ”Aceh pungo, dua uroe teuk, kon le ureung Aceh nyang pungo, Batak-Batak pih kapungo.” Saya hanya menangkap potongan ungkapan tadi dan tidak tahu sama sekali pangkal ujung pembicaraan. Karena penasaran saya bertanya: “Pakon, Dek!” Ia lantas menunjuk sebuah buku pada rak bagian tengah, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Oh, ini rupanya “Aceh Pungo”. Lalu, apa kaitannya dengan Batak? Kenapa pula orang Batak harus ikut-ikutan pungo? Apakah ini terkait dengan demo maut yang terjadi di Medan baru-baru ini, atau&#8230;? Ah, daripada menduga-duga, lebih baik buku ini dibaca dulu, pikirku seketika.<span id="more-25"></span></p>
<p>Bersampul hitam pekat, buku terbaru terbitan Bandar Publishing (BP) Banda Aceh ini diberi judul “Aceh Pungo” (AP) dengan tulisan warna putih mencolok, tapi berkesan lusuh dan tampak retak-retak. Entah apa yang ingin divisualisasi melalui gambar sampul tersebut. Apakah ini potret Aceh yang tenggelam dalam kelam, Aceh yang tak terduga, Aceh yang malang dan berkabung, atau Aceh yang diselimuti kegelapan, kebodohan, keterbelakangan, dan kejahatan, di mana yang muncul dan tampak jelas di permukaan hanyalah sederet kegilaan? Atau ini sebuah simbol jubah hitam kebesaran dan kebanggaan mengusung identitas dan budaya kegilaan? Semua atau sebagiannya mungkin benar, tapi mungkin juga salah. Penulis tampaknya membiarkan kita menerka-nerka tafsir yang serba mungkin dalam rasa penasaran, kebingungan, dan keingintahuan. Sebab, biarpun warna hitam sering kali identik dengan sifat-sifat negatif dan jahat, tetapi dalam banyak hal, hitam juga menjadi penyelaras, pembeda, bahkan pemanis konfigurasi tampilan warna. Hitam juga dianggap warna netral yang bisa cocok dan berpadu dengan warna-warna lain dalam membangun citra estetika dan eksotis.</p>
<p><strong><img style="margin-left: 8px; margin-right: 8px;" src="http://i254.photobucket.com/albums/hh92/ozan-ghira/pungo-cover.gif" alt="" width="169" height="186" /></strong></p>
<p>Judul  : Aceh Pungo<br />
Penulis         : Taufik Al Mubarak<br />
Penerbit : Bandar Publishing Banda Aceh<br />
Tebal Buku : 282+xxii Halaman<br />
Cetakan         : 1, Februari 2009<br />
Harga  :  Rp.49. 000</p>
<p>Menurut saya, buku ini dapat dikatakan sebagai cerita tentang fenomena keanehan dan kegilaan masyarakat modern dalam skop yang luas dalam bahasa “Aceh”. Artinya, meskipun mungkin terdapat penekanan pada lokalitas masyarakat Aceh dengan mengambil setting dan simbol-simbol ke-Acehan yang khas, namun substansi lika-liku keanehan/kegilaan sosial politik yang diangkat dalam buku ini sebenarnya jauh menembus batas-batas demografi Aceh Darussalam. Apakah ini terkait dengan konsep think globally act locally, saya tidak tahu pasti. Yang jelas, fenomena seperti korupsi, jilat-menjilat, praktik hedonisme, demokrasi paradoks, kontradiksi antara idealisme dan realisme, premanisme dan kekerasan, dan kejujuran dan kesederhanaan merupakan isu-isu global yang juga melanda masyarakat di bagian dunia yang lain atau setidaknya daerah lain di Nusantara. Uniknya, dan inilah salah satu yang membuat buku ini menarik dan layak dibaca oleh semua orang. Semua itu disampaikan dan dibungkus dengan apik dalam bahasa Aceh pungo dalam pengertian yang luas (bahasa kegilaan dan keunikan orang Aceh).</p>
<p>Buku setebal 282 plus xxii halaman ini ditulis oleh Taufik Al Mubarak, jurnalis muda yang bekerja di koran Harian Aceh. Buku ini merupakan kompilasi tulisannya pada Pojok Gampong yang diasuhnya di koran tempatnya menempa diri, ditambah beberapa tulisannya pada media lain. Buku dengan kata pengantar dari Muhammad Nazar (Wakil Gubernur Aceh) ini terdiri dari tiga bagian: (1) Politek Ureung Gampong (Politik Orang Kampung); (2) Politek Pungo (Politik Gila); dan (3) Politek Hana Titiek (Politik tanpa Titik). Sekilas, melihat ketiga judul bagian tersebut, pembaca akan mengira bahwa buku ini adalah buku politik. Sebenarnya tidak. Walaupun banyak tulisan yang beraroma politik, namun secara substansial, buku tidak sepenuhnya berbicara tentang politik. Ada aura lain di dalamnya seperti komunikasi, teknologi, agama, bahasa, filosofi, ekonomi, dan pendidikan. Saya tidak bisa memastikan alasan apa dibalik pencantuman judul tersebut. Mungkinkah penulis berniat mengetengahkan semua itu dalam perspektif politik? Tidak juga. Memang ada satu judul tulisan pada bagian ketiga yang menjadi judul bagian tersebut, tapi hal ini tidak berlaku pada bagian pertama dan kedua. Apa karena unsur psikologi pemasaran agar tampak sensasional dan menarik konsumen atau barangkali ini terkait dengan demam politik yang semakin merambah semua sudut kehidupan akhir-akhir ini sehingga semua hal selalu dikait-kaitkan dengan politik? Terserah pembaca.</p>
<p>Di antara kelebihan buku ini adalah kelihaian penulis dalam mengendus problematika sosial politik yang berkembang dalam masyarakat—yang kebanyakan tampaknya hanyalah persoalan-persoalan biasa dan nyaris tak menjadi perhatian publik, lalu mengemasnya dalam tulisan-tulisan bernada kritik yang simpel tapi tajam. Bahkan, dalam banyak tulisan justru sangat inspiratif (menggugah emosi dan kesadaran terhadap hal-hal yang sebelumnya terlewatkan begitu saja). Lebih lanjut, dengan plus minusnya, beberapa tulisan malah berbau propaganda dan cenderung provokatif, sebagaimana pengakuan penulisnya. Hal ini tentunya sangat bergantung pada posisi dan perspektif orang yang membaca. Bagi saya, dengan tetap mengedepankan etika, bentuk dan pola komunikasi haruslah mencerminkan tujuan dan mempertimbangkan kondisi mental dan psikologi sasaran. Jadi, berkomunikasi dengan orang bebal, tungang atawa klo prip tentu saja sangat berbeda dengan orang dengan kualitas indra dengar, pikir, dan renung yang masih jernih.</p>
<p>Dari segi penyampaian, buku ini memperkenalkan sebuah gaya yang khas dengan beberapa ciri umum seperti topik acuan yang merakyat dan diberi label yang memikat tapi sebisa mungkin cukup familiar di telinga pembaca, menggunakan gaya bercerita, sering kali dibungkus dalam dialog singkat yang didesain sedemikian rupa sehingga tampak ril dan hidup, dan konsisten dengan bahasa “pasar” yang lugas dan acap kali kocak sehingga enak dibaca sekaligus mudah dipahami. Meskipun pada beberapa tempat, penulis menggunakan simbolisme, tapi ia tidak membiarkan pembaca mencari tahu sendiri makna yang ingin disampaikannya, melainkan menuntut mereka secara tautologis tahap-demi tahap menuju medan makna. Terus terang dan terbuka tanpa terjebak dalam hiperbolisme, bahkan membuka selebar-lebarnya hal-hal yang tertutup dan terbungkus kepada khalayak, itulah gambaran lain dari karakter buku ini. Dengan demikian, secara sadar penulis telah beranjak jauh meninggalkan gaya-gaya penulisan yang eufimistis dan simbolis menuju disfimisme dan realisme. Maklum, zaman sudah berubah, tak ada yang mesti ditutupi. Jurnalisme harus konsisten sebagai media pencerahan dan pencerdasan masyarakat.</p>
<p>Dengan kelebihan dan kekurangannya, hal ini sangat berbeda dengan “Celoteh Budaya Politik Aceh” (CBPA) terbit tahun 2003 yang berisi kumpulan tulisan mantan bupati Bireun Mustafa A. Glanggang pada rubrik “Tingkap” di Harian Serambi Indonesia. Meskipun CBPA juga berupa kritik sosial, tapi buku ini mengandalkan ragam gaya bahasa simbolisme, eufimisme, dan personifikasi yang sering kali dibalut cerita fiktif dalam menggambarkan fenomena sosial budaya dan politik pada masanya. Gaya penulisan AP juga memiliki perbedaan dengan “Dari Panteu Menuju Insan Kamil” (DPMIK), kumpulan tulisan Ampuh Devayan dalam kolom ”Panteu” harian Serambi Indonesia yang terbit dalam bentuk buku baru-baru ini. DPMIK mengusung gaya penulisan yang lebih formal, bernuansa sastra dan lebih ilmiah.</p>
<p>Meskipun di satu sisi, gaya penyampaian yang demikian sangat positif dalam konteks pendidikan politik dan pembangunan iklim demokrasi dewasa ini, namun dalam tingkatan tertentu, penulis tampaknya tidak bisa melepaskan begitu saja unsur subjektivitas dan emosionalitasnya sebagaimana tercermin dari beberapa tulisannya. Oleh karena itu, bisa saja di kemudian hari ada pihak yang beranggapan bahwa penulis cenderung tendensius, bahkan cenderung terjerumus dalam sinisme, atau bahkan satire.</p>
<p>Desain dan tampilan buku ini cukup elegan dan menarik. Cuma saja di dalamnya tidak didapati lembaran yang memuat informasi tentang KDT (Katalog dalam Terbitan) serta informasi penting tentang cuplikan UU tentang Hak Cipta sebagaimana pada buku-buku terbitan lain. Selain itu, pemaksaan pencantuman judul baru pada lembaran baru membuat banyak sekali halaman yang kosong yang tidak terpakai sama sekali.</p>
<p>Menyangkut ejaan dan tata bahasa sebenarnya sudah cukup baik, namun penulisan kata “pungo” baik di halaman kulit maupun di dalam teks seharusnya dimiringkan karena kata tersebut termasuk kata asing yang belum terserap sepenuhnya ke dalam bahasa Indonesia. Terakhir, foto penulisnya sedang merokok pada halaman profil, kurang tepat. Sebab kondisi tersebut dapat memunculkan image yang negatif bagi sebagian pembaca. Sejatinya foto yang ditampilkan adalah foto netral tanpa rokok, agar penulisnya dapat diterima oleh semua kalangan pembaca.</p>
<p>Bagaimanapun, buku ini sudah cukup baik dan relatif mampu mewujudkan misinya sebagai kritik sosial yang berusaha memotret fenomena “kegilaan” dan keunikan masyarakat Aceh kontemporer dalam berbagai aspek. Meskipun sekian banyak topik tulisan dalam buku ini memang belum mampu menampung totalitas realita ke-pungo-an masyarakat Aceh dalam berbagai hal yang dengan susah payah dikorek penulisnya. Namun demikian, kerja keras ini pantas diapresiasi. Kita tentu tidak berharap ke-pungo-an ini berlanjut atau malah semakin menjadi-jadi apalagi sampai merembes ke masyarakat tetangga sebelah (Batak) sebagaimana celotehan pemuda di toko buku kemarin. Selamat kepada Taufik Al Mubarak, dan bagi pembaca, selamat membaca.</p>
<p style="text-align: center;">*<em> Penulis adalah Staff Balai Bahasa Lampineung Banda Aceh dan Pemenang Resensi Buku Pemikiran Ulama Dayah Aceh  pada tahun 2007.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em> </em></p>
<p><strong>BUKU INI BISA DIDAPATKAN DI TOKO BUKU GRAMEDIA DI JAKARTA, BANDUNG, YOGYAKARTA, SURABAYA</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/resensi-buku-aceh-pungo.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resensi Buku: &quot;Santeut, Kumpulan Khotbah Jender Pelajar Aceh&quot;</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/resensi-buku-santeut-kumpulan-khotbah-jender-pelajar-aceh.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/resensi-buku-santeut-kumpulan-khotbah-jender-pelajar-aceh.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 10:53:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Djuneidi Saripurnawan &#8212; Masyarakat Aceh, hingga kini, terkenal dengan budaya lisannya, dan budaya tulis (literatur) masih didominasi kalangan elit. Bahasa Aceh secara lisan telah bertahan untuk perjuangan kemerdekaan masyarakat Aceh, menjadi semacam bahasa sandi yang tidak banyak dimengerti oleh penjajah Belanda dan ‘orang Jakarta&#8217;. Namun, sayang-disayang, semua itu kurang diimbangi dengan budaya tulis-menulis. Hingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh Djuneidi Saripurnawan</strong> &#8212; Masyarakat Aceh, hingga kini, terkenal dengan budaya lisannya, dan budaya tulis (literatur) masih didominasi kalangan elit. Bahasa Aceh secara lisan telah bertahan untuk perjuangan kemerdekaan masyarakat Aceh, menjadi semacam bahasa sandi yang tidak banyak dimengerti oleh penjajah Belanda dan ‘orang Jakarta&#8217;. Namun, sayang-disayang, semua itu kurang diimbangi dengan budaya tulis-menulis. Hingga kini, kita bisa menemukan rendahnya kemampuan baca-tulis-berhitung (Calistung) dan minat baca dari para pelajar dan mahasiswa di Aceh. Hanya ada satu-dua toko buku yang representatif, dan jarang sekali menemukan resensi buku pada surat khabar harian atau media lokal Aceh. Tentang Aceh lebih banyak ditulis oleh orang-orang luar (outsider).<span id="more-38"></span></p>
<p>Fenomena ini sedang digoncang oleh Episentrum dari Komunitas Tikar Pandan di Ulee Kareng, Banda Aceh. Setelah menggelar program ‘Sekolah Menulis Dokarim&#8217; dan menghasilkan buah karya buku-buku sastra pasca tsunami dan konflik, kini komunitas ini terus menggembleng anak-anak muda yang tertarik terhadap dunia tulis-menulis dengan ketajaman analisis sosial-budaya dan kreativitas, serta keberanian mengekspresikannya. Karya terbaru adalah buku &#8220;SANTEUT, Kumpulan Khotbah Jender Pelajar Aceh&#8221;. Hasil dari pembelajaran tentang gender yang diikuti oleh 16 pelajar SLTA di Banda Aceh.</p>
<p><img class="alignleft" src="http://www.kabarindonesia.com/gbrberita/20071022123834.jpg" alt="" width="230" height="307" /></p>
<address>Judul Buku : SANTEUT, Kumpulan Khotbah Jender Pelajar Aceh </address>
<address>Editor : Azhari dan Reza Idria</address>
<address>Penulis : Mifta Sugesty,dkk<br />
</address>
<address>Penerbit : Aneuk Mulieng<br />
</address>
<address>Publishing Tahun  : September 2007<br />
</address>
<address>Tebal dan ukuran  : 140 hlm, 15 x 21 cm</address>
<p>Membaca buku ini, Anda akan menemukan kegelisahan anak muda menghadapi fenomena sosial-budaya yang sedang berkembang seiring masuknya ide-ide baru yang dibawa oleh INGO/NGO (non-government organization), ketajaman analisis dan kritik sosial, meskipun masih terasa adanya kontradiksi di sana-sini (cerminan awal pemahaman baru dalam kegelisahan),dan keberanian mengungkapkannya dalam wujud tulisan.Kreativitas anak muda dalam buku ini nampak dari kemasan tulisan yang beragam: artikel opini, cerpen, puisi, model pamflet, dan ilustrasi kartun.</p>
<p>Mengkritisi keadaan yang sehari-hari ditemui para penulis di bumi Naggroe Aceh Darussalam ini dalam perspektif gender adalah upaya yang baru, apalagi oleh anak-anak muda yang gelisah menghadapinya. Mereka mempertanyakan ketimpangan dan ketidak-adilan yang tengah terjadi antara relasi kaum perempuan dan laki-laki.<br />
T.Oryza Keumala mempertanyakan ‘Pemisahan Kelas&#8217; untuk lelaki dan perempuan di sekolahnya, karena pemberlakuan Syariat Islam.  Ia tidak bisa menerima pemikiran dan kebijakan pejabat pendidikan yang akan menerapkan Syariat Islam secara kaffah (sempurna, menyeluruh) di Aceh dengan hanya mengurusi pemisahan kelas berdasarkan jenis kelamin, sementara ruang guru, kantin, laboratorium, dan perpustakaan tidak dipisahkan. Ini tidak konsisten, sementara masih banyak anak-anak di daerah yang membutuhkan sarana dan prasarana sekolah.&#8221;Jangan setengah-setengah!&#8221; tulis Oryza. &#8220;Dengan alasan yang sama&#8230;perkantoran, labi-labi (angkot), pasar dan pantai harus disekat-sekat untuk mencegah berbaurnya perempuan dan laki-laki. Aku juga meminta kepada bapak Walikota Banda Aceh kita yang terhormat Mawardi Nurdin, untuk menggunakan hijab jika harus mengadakan rapat berduaan dengan wakil Walikota Nyonya Illiza dalam satu ruangan&#8230; Begitu juga kepada anggota dewan perwakilan rakyat yang terhormat.&#8221; Dengan semangat membara, &#8220;Wahai para pemimpin, kami butuh teladan bukan perintah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya heran, kenapa penerapan syariat Islam di Aceh hanya fokus pada hal-hal yang bersifat simbolis. Segala sesuatu yang tidak mengena dengan nilai-nilai dasar Islam yang sesungguhnya, yaitu sebagai agama yang membebaskan.&#8221; Tulis Oryza,&#8221;Kita sering terlenakan dengan hal-hal yang kecil dan tidak terlalu esensial(hlm.90-91).&#8221;</p>
<p>Raisa Kamila menyatakan bahwa &#8220;&#8230;Sifat, tabiat, isi hati, pengetahuan dan kapasitas otak, tidak bisa diwakilkan hanya dengan berjilbab atau tidaknya seseorang. Justru masyarakat yang senang mengeneralisasilah yang harus dihilangkan.&#8221; Dan Ia menyebut kecenderungan generalisasi itu sebagai penjahat kelamin, yaitu &#8220;S&#8221; alias ‘Stereotype&#8217; yang menyebabkan ketidakadilan terhadap kaum perempuan. Dan disadarinya pula bahwa penjahat kelamin itu ternyata berasal dan diproduksi oleh kita sendiri sehari-hari(!)</p>
<p>Novia Mardhatillah lebih jauh melihat tradisi meugang-laki-laki membeli daging untuk keluarga/istri-anak menjelang bulan puasa, Idul Fitri dan Idul Adha-telah membebani kaum laki-laki dari keluarga miskin. Habiskah derajat mereka bila tanpa meugang?<br />
&#8220;&#8230;kita yang berpikiran bahwa adalah KODRAT bagi laki-laki menjadi kepala rumah tangga dan untuk memberi makan anak istrinya perlu ditinjau ulang. Sejatinya, keluarga(baca:rumah tangga) adalah wahana toleransi dan saling berbagi,&#8221; tulis Novia.   Sementara itu, Arryo menulis tentang laki-laki yang di-&#8221;takdir&#8221;-kan dalam Al-Qur&#8217;an sebagai pemimpin dalam rumah tangga, meskipun ia akhirnya berpendapat bahwa hal itu adalah kesepakatan relasi antara lelaki dan perempuan. Nadya Meivira sepakat dengan laki-laki sebagai pemimpin rumah tangga, tetapi emansipasi perempuan harus diupayakan supaya tidak hanya melulu pada urusan &#8220;4-SUR&#8221; (sumur-dapur-pupur-kasur).</p>
<p>Muhammad Haekal menulis tentang waria sebagai manusia yang tersisih dari sosialnya, dipadang sebagai ‘sampah&#8217; masyarakat. Lalu dimana rasa kemanusiaan dan keadilan itu? Inikah manusia yang semakin beradab?<br />
Bias gender ternyata ditemukan pula oleh Mifta Sugesty dalam film-film horor produksi Indonesia. Perempuan sebagai korban kekerasan, begitu tak berdaya,sehingga pembalasan oleh perempuan (korban) harus melalui kematian dahulu dan menjelma menjadi hantu berupa kuntilanak, sundel bolong, ataupun suster ngesot.<br />
Putri Arimbi mencoba mendobrak bahwa warna ‘pink tak lagi cantik&#8217;, bukan lagi milik perempuan semata-mata. Dan ‘pacaran di Aceh&#8217;, bagi Fachri, tidak lagi dimotori oleh kaum lelaki saja, tetapi juga oleh kaum perempuan secara aktif. Anak perempuan tidak perlu dibedakan untuk pemberlakuan jam malam lagi, menurut T.M.Syahrizal. ‘Pagar Sang Hawa&#8217; harus didobrak dengan kesadaran baru, kata Yuli Khairani. Perempuan juga mempunyai kesempatan yang sama untuk berkarya di ruang publik, kata Suci Senjana. Buktinya, tulis Dini Ratilan Angya, ada banyak guree beut (guru ngaji) atau Teungku Inong yang berperan penting di desa-desa.  Akhirnya, semua bermuara pada satu perjuangan tentang ‘sama bermakna setara&#8217;, tulis Nindy Silvie, yang dalam bahasa Aceh: SANTEUT antara kaum perempuan dan laki-laki.  Dalam acara peluncuran buku ini pada Minggu malam, 21 Oktober 2007, kekhawatiran generasi orang tua juga nampak dari ungkapan seorang guru, tetapi dukungan untuk kebebasan berekspresi datang dari para tokoh LSM dan media lokal. Keberhasilan semua ini tidak terlepas dari dukungan banyak pihak, terutama Lies Marcoes Natsir, dan aktivis Tikar Pandan: Azhari, Fozan Santa, Reza, dan lain-lainnya.</p>
<p>Sebagai kumpulan ekspresi berpikir anak-anak muda Aceh, mungkin ini yang pertama sejak pasca tsunami. Saya tidak ingin berkomentar banyak, tapi empat jempol saya acungkan buat mereka, dan sebuah kata &#8220;keren&#8221;. Maka bacalah! Baik untuk menambah pengetahuan, dan bagi kaum dewasa, dengarkanlah..! Sebentar lagi dunia  ini milik mereka.</p>
<p><em><strong>Djuneidi Saripurnawan, Research and Development Coordinator Plan International Aceh</strong></em></p>
<p>Sumber: http://<a href="http://www.kabarindonesia.com" target="_self">www.kabarindonesia.com</a></p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 1116px; width: 1px; height: 1px;">http://www.kabarindonesia.com</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/resensi-buku-santeut-kumpulan-khotbah-jender-pelajar-aceh.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>M Harith Duta Baca dari Aceh</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/m-harith-duta-baca-dari-aceh.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/m-harith-duta-baca-dari-aceh.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 19:53:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Duta Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Muhammad Harith, murid SD Negeri 56, Ulee Kareng, Banda Aceh, terpilih menjadi finalis Duta Baca Anak dan Remaja Indonesia 2009 yang diadakan oleh Klub Perpustakaan Indonesia di Jakarta. Harith akan bersaing dengan para finalis duta baca utusan provinsi lainnya dari seluruh Indonesia pada Rabu (25/3) besok.
Acara penobatan Duta Baca Anak dan Remaja Indonesia ini juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Muhammad Harith</strong>, murid SD Negeri 56, Ulee Kareng, Banda Aceh, terpilih menjadi finalis Duta Baca Anak dan Remaja Indonesia 2009 yang diadakan oleh Klub Perpustakaan Indonesia di Jakarta. Harith akan bersaing dengan para finalis duta baca utusan provinsi lainnya dari seluruh Indonesia pada Rabu (25/3) besok.</p>
<p>Acara penobatan Duta Baca Anak dan Remaja Indonesia ini juga akan disiarkan oleh TVRI pukul 19.00 WIB-21.00 WIB pada hari tersebut. “Besok (hari ini) Harith dan seluruh finalis lainnya dijadwalkan bertemu dengan Duta Baca Indonesia, Tantowi Yahya, dan Menteri Negara BUMN, Sofyan A Djalil,” kata Drs Adlias, guru pembimbing Harith di SD Negeri 56.</p>
<p>Kepala SD Negeri 56 Ulee Kareng, Hj Salmiah SPd serta orang tua Harith, Hasanuddin dan Anita mengharapkan dukungan masyarakat Aceh dalam pemilihan Duta Baca Anak dan Remaja Indonesia yang akan berlangsung besok.<strong>(serambinews.com) </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/m-harith-duta-baca-dari-aceh.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang ke Perpustakaan bukan Anak Gaul</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/yang-ke-perpustakaan-bukan-anak-gaul.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/yang-ke-perpustakaan-bukan-anak-gaul.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 18:03:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[gaul]]></category>
		<category><![CDATA[Perpustakaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Hari gini, ada apa sih di perpustakaan sekolah? Kayaknya enggak ada yang ”penting” di perpustakaan sekolah atau perpus. Tinggal klik Google, semua informasi langsung tersedia&#8230;.
Perpus? Udah bukunya jadul, lay out-nya enggak menarik, dilarang ngobrol lagi. Kalau saja enggak ada tugas yang memaksa kita masuk perpus, males banget ya&#8230;
Kayaknya hampir pasti kalo sebagian besar putabuers bakalan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari gini, ada apa sih di perpustakaan sekolah? Kayaknya enggak ada yang ”penting” di perpustakaan sekolah atau perpus. Tinggal klik Google, semua informasi langsung tersedia&#8230;.</p>
<p>Perpus? Udah bukunya jadul, lay out-nya enggak menarik, dilarang ngobrol lagi. Kalau saja enggak ada tugas yang memaksa kita masuk perpus, males banget ya&#8230;</p>
<p>Kayaknya hampir pasti kalo sebagian besar putabuers bakalan menjawab dengan ”penolakan” yang sama saat ditanya komentarnya soal perpus. Lokasi yang mestinya bisa jadi tempat nongkrongnya putabuers di sekolah, dijauhi karena kondisinya yang nyaris ketinggalan zaman.</p>
<p>Perpus ibarat ”penyakit”. Sejak zaman dulu, perpus identik sebagai salah satu tempat di sekolah yang amat dihindari putabuers. Kalaupun ada yang demen masuk ke perpus, bisa dibilang orang-orangnya itu melulu. Enggak jarang pula, geng perpus itu disebut sebagai kelompok enggak gaul.<span id="more-23"></span></p>
<p>Inget kan sosok Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta? yang diperankan Nicholas Saputra? Cowok asosial yang enggak punya temen itu hobi menyendiri, demen membenamkan diri di antara buku-buku di perpus.</p>
<p>Jadi kesannya, perpus = enggak gaul.</p>
<p>Kalo dibandingin sama kantin, pastilah perpus kalah populer. Biarpun kantin pasti bikin kantong terkuras, tapi tetap aja banyak putabuers yang lebih milih nongkrong di kantin ketimbang perpus.</p>
<p>Tugas guru</p>
<p>Alfina Ambarwati, salah satu siswa XII dan Khusnul Khotimah, kelas XII IPS 3 SMAN 112 Jakarta, mengatakan, kalo enggak ada tugas dari guru, mereka enggak bakalan masuk perpus.</p>
<p>”Kalo secara sengaja ke perpus buat baca-baca sih jarang,” kata Fina, panggilan Alfina.</p>
<p>”Memang sih seenggaknya dua kali sebulanlah kita masuk perpus buat ngerjain tugas,” timpal Khusnul. Dia beralasan jarang ke perpus karena sibuk mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional.</p>
<p>Lho, bukannya kalo mau ujian nongkrongnya justru di perpus? ”Enggak sempetlah,” cetus Fina.</p>
<p>Apa yang dikatakan Fina dan Khusnul itu disetujui Arini Dwi Deswanti, kelas XII IPS 1 SMAN 28 Jakarta.</p>
<p>”Aku ke perpus kalo ada tugas. Biasanya sih dua kali sebulan, tergantung sama banyak sedikitnya tugas. Yang banyak ngasih tugas itu guru Bahasa Indonesia,” kata Arini.</p>
<p>Untungnya, masih ada alasan yang bikin putabuers mampir ke perpus, misalnya saat jam pelajaran kosong. Salah satu yang suka mampir ke perpus itu adalah Arini. Katanya, ”Kalo lagi ada jam kosong, aku suka iseng baca majalah atau buku tahunan. Kalo ke kantin takut enggak bisa berhenti jajan.”</p>
<p>Ayu Novita, kelas X PB 2, dan Dian Mega dari kelas X Ak 2 SMKN 20 Jakarta juga ke perpus untuk alasan sama. ”Kalo jam kosong mending ke perpus aja, baca-baca majalah atau novel,” kata Ayu.</p>
<p>Perkembangan terbaru, selain sebagai gudang ilmu dan informasi, belakangan ini perpus juga jadi tempat ngaso para siswa. Terutama buat putabuers yang sekolahnya mengaplikasikan program moving class.</p>
<p>”Biasanya sambil nunggu jam moving class, kita ke perpus sekalian istirahat. Moving class kan capek naik turun tangga,” kata Fina.</p>
<p>Dari puisi sampai novel</p>
<p>Lazimnya, di perpus itu ada buku-buku pelajaran kayak IPA, IPS, Sejarah, Geografi, dan sebagainya. Terus ada juga novel-novel karya pengarang Indonesia mulai dari Motinggo Busye sampai Sutan Takdir Alisjahbana. Ada juga buku-buku kumpulan puisi sampai koran dan majalah.</p>
<p>Memang sih di sebagian perpus koleksi bukunya sering kali terbatas, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Ini sering menjadi kendala yang bikin putabuers malas ke perpus.</p>
<p>Kenapa bisa begitu? Alasan umum adalah keterbatasan dana yang menjadi kendala pengadaan buku-buku berkualitas untuk perpus sekolah. Ini antara lain dikatakan Ibu Siti Laela, guru yang ngurusin perpustakaan SMKN 20 Jakarta.</p>
<p>”Dalam setahun hanya ada penambahan 20 judul baru,” katanya.</p>
<p>Jadi enggak heran kalau banyak sekolah yang mewajibkan siswanya menyumbang buku di akhir semester. Tujuannya jelas, demi menambah koleksi perpustakaan biar minat siswa mengunjungi perpus meningkat.</p>
<p>Sebenarnya sih, minimnya koleksi perpus enggak perlu bikin kita langsung bete. Soalnya mulai tahun ajaran baru 2008 lalu, banyak sekolah udah menyediakan komputer yang terkoneksi dengan jaringan internet di perpus.</p>
<p>Di SMKN 20 misalnya, ada empat komputer dan di SMAN 28 ada tiga. Adanya komputer bisa bikin acara ke perpus jadi nikmat. Tentu aja asal internetnya nggak dipakai buat buka-buka Facebook sama Friendster doang!</p>
<p>Yang lebih asyik lagi, kata Bu Laela, ruangan perpus juga dibikin nyaman dengan pendingin udara dan lantai berkarpet.</p>
<p>”Di perpus kami, siswa enggak lagi dilarang ngobrol,” kata Bu Laela.</p>
<p>Itulah jurus-jurus buat menarik putabuers ke perpus. Jurus yang diperoleh SMKN 20 Jakarta, setelah Bu Laela berkonsultasi dengan Gola Gong, pendiri ”perpustakaan” bernama Rumah Dunia di Banten.</p>
<p>”Buat kami, yang penting anak-anak mau ke perpus,” tandas Bu Laela.<br />
(DWI)</p>
<p>Source http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/27/02012053/perpustakaan.enggak.gaul</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/yang-ke-perpustakaan-bukan-anak-gaul.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumanto, Pustakawan Terbaik</title>
		<link>http://tamanbaca.guahira.com/sumanto-pustakawan-terbaik.jsp</link>
		<comments>http://tamanbaca.guahira.com/sumanto-pustakawan-terbaik.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 15:19:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minat Baca]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakaloka]]></category>
		<category><![CDATA[Pustakawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tbm.guahira.or.id/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Berkeliling dengan sepeda onthel untuk menyewakan buku secara cuma-cuma adalah aktivitas sehari-hari Sumanto, selama empat tahun sebelum gempa melanda Bantul pada 2006. Setelah gempa, aktivitas keliling itu tetap dilakukannya. Namun, dia tak lagi menggunakan sepeda onthel, tetapi dengan sepeda motor beroda tiga, sumbangan dari orang yang bersimpati kepadanya.
Kegiatan menyewakan buku-buku itu mulai digeluti Sumanto sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Berkeliling</strong> dengan sepeda onthel untuk menyewakan buku secara cuma-cuma adalah aktivitas sehari-hari Sumanto, selama empat tahun sebelum gempa melanda Bantul pada 2006. Setelah gempa, aktivitas keliling itu tetap dilakukannya. Namun, dia tak lagi menggunakan sepeda onthel, tetapi dengan sepeda motor beroda tiga, sumbangan dari orang yang bersimpati kepadanya.</p>
<p>Kegiatan menyewakan buku-buku itu mulai digeluti Sumanto sejak tahun 2003. Pengalamannya menjadi tenaga survei dalam proyek pengentasan kemiskinan telah membuka matanya akan arti pentingnya membaca bagi masyarakat di lapisan apa pun.<span id="more-21"></span></p>
<p>”Dalam kegiatan survei itu, saya melihat banyak kemiskinan di sekitar desa saya. Salah satu penyebabnya karena minimnya tradisi membaca. Ini pun berkaitan dengan kesulitan mereka untuk membeli buku,” katanya.</p>
<p>Dengan koleksi sekitar 500 buku, Sumanto lalu mendirikan perpustakaan swadaya di rumahnya. Perpustakaan itu diberinya nama Mitra Tema. Memanfaatkan ruangan berukuran 2 x 6 meter, ia menata koleksi buku-bukunya.</p>
<p>Namun, Sumanto tak hanya berharap pada pengunjung yang mau datang ke rumahnya. Dia juga menjajakan buku-bukunya berkeliling ke berbagai tempat dengan sepeda onthel-nya.</p>
<p>”Saya harus berkeliling untuk ’menjemput bola’. Tidak mungkin saya hanya mengandalkan pembaca yang mau datang ke rumah. Kan, saya yang ingin mengajak masyarakat agar banyak membaca,” ceritanya.</p>
<p>Semua itu dikerjakan Sumanto nyaris tanpa pamrih apa pun. Ia tidak dibayar oleh siapa pun, dan ia juga meminjamkan koleksi buku-bukunya secara gratis. Untuk mencukupi kebutuhannya, ia membudidayakan pisang dan singkong.</p>
<p>”Saya tetap harus menghidupi istri dan anak-anak saya. Selain bertani, saya juga harus bekerja di bidang bangunan,” kata Sumanto.</p>
<p>Ketika koleksi bukunya masih sedikit, Sumanto menyiasatinya dengan kreatif. Ia bekerja sama dengan perpustakaan keliling milik Pemerintah Kabupaten Bantul. Sistem kerja samanya, Sumanto bersedia mencarikan anggota baru bagi perpustakaan keliling asal ia bisa meminjam buku untuk kemudian dipinjamkannya lagi.</p>
<p>”Waktu itu belum banyak yang mau menyumbangkan buku. Kalau hanya mengandalkan koleksi saya sendiri, masyarakat pasti jenuh juga. Makanya, saya bekerja sama dengan perpustakaan keliling, yang waktu kunjungannya tidak terlalu sering,” katanya.</p>
<p>Lambat laun usaha Sumanto mulai mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Sumbangan buku kemudian terus mengalir. Kini, koleksinya sekitar 20.000 judul buku. Kondisi itu membuat dia makin bersemangat untuk mengajak masyarakat gemar membaca.</p>
<p>Saat gempa menimpa Bantul pada 27 Mei 2006, sebagian rumah Sumanto hancur, termasuk bangunan perpustakaan. Sekitar 3.000 buku rusak. Keterpurukannya itu mengundang simpati seorang distributor buku.</p>
<p>”Orang itulah yang membantu membangun kembali ruang perpustakaan,” katanya.</p>
<p><strong>Sepeda motor</strong></p>
<p>Pasca-gempa ia juga mendapatkan bantuan sepeda motor beroda tiga. Dengan fasilitas lebih baik, Sumanto bisa membawa sekitar 400 buku setiap kali berkeliling. Dulu, sewaktu menggunakan sepeda onthel, ia hanya mampu membawa 60 buku.</p>
<p>Wilayah kunjungannya juga makin luas. Kalau dulu ia hanya mampu menjangkau 52 titik di empat kecamatan (Imogiri, Pleret, Jetis, dan Bantul), belakangan bertambah menjadi 89 titik. Ada tiga kecamatan baru yang dirambahnya, yakni Sewon, Pundong, dan Bambanglipuro.</p>
<p>Titik-titik kunjungan perpustakaan kelilingnya berupa masjid, panti asuhan, toko-toko, dan kantor-kantor pemerintahan. Untuk lokasi yang pembacanya anak-anak, Sumanto memilih berkeliling seusai jam sekolah. Adapun untuk pembaca umum, biasanya ia datangi pada pagi atau sore hari.</p>
<p>Kegigihan Sumanto itu membuat jumlah peminjam terus bertambah. Selama tahun 2007, jumlah peminjam buku di perpustakaannya mencapai 7.156 orang, sedangkan pengunjung perpustakaan sampai 20.320 orang.</p>
<p>Meski tak memiliki latar belakang bidang perpustakaan, Sumanto tergolong piawai dalam mengelola perpustakaan. Buku-buku koleksinya dibagi menjadi kategori SD, SMP, SMA, agama, dan umum.</p>
<p>”Sistem pengelolaan itu saya pelajari dari perpustakaan milik Provinsi DIY di Jalan Malioboro. Kebetulan sewaktu SMA, saya sering nongkrong di tempat itu,” katanya.</p>
<p>Untuk membantu pengelolaan perpustakaan sewaktu ia berkeliling, Sumanto mempekerjakan seorang pegawai di perpustakaannya dengan upah Rp 300.000 per bulan.</p>
<p>Agar ia bisa membayar pegawainya itu, sang istri membuka tempat penitipan anak dengan tarif seikhlasnya. Beberapa keluarga yang menitipkan anak mereka pun memberinya sekitar Rp 50.000 per minggu. Selain itu, Sumanto juga menyewakan empat unit komputer dengan tarif Rp 500 per jam.</p>
<p>Jerih payah dan semangat Sumanto untuk menarik masyarakat agar gemar membaca, membuahkan hasil. Usahanya mengembangkan perpustakaan swadaya mendapat penghargaan dari Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta. Ia antara lain menerima piagam Rekso Pustoko Bakti Tomo.</p>
<p>Ia berkisah, menjadi pustakawan bukan impiannya. Meski dilahirkan di Bantul, tetapi sejak 1982 Sumanto merantau ke Jakarta. Selama sekitar 13 tahun, dia bekerja di PT Astra International. Namun, ritme kerja yang cepat rupanya tak cocok baginya. Sumanto merasa teralineasi secara sosial. Ia lalu mengundurkan diri saat menempati posisi sebagai kepala stok mobil.</p>
<p>Setelah itu, ia berusaha mencari pekerjaan baru yang relatif tak terlalu mengikat dari segi waktu. Pilihannya jatuh di bidang asuransi.</p>
<p>Akan tetapi, mengingat kondisi orangtuanya di Bantul, Sumanto kemudian memutuskan kembali ke Bantul dengan segala risiko, terutama dari sisi finansial. Tujuannya satu, ingin mendampingi orangtua sebagai bentuk pengabdian seorang anak.</p>
<p>Sesampai di desa, ia sempat bingung tak punya pekerjaan tetap. Semua tawaran kerja dilakoninya, termasuk menjadi anggota tim survei Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP). Di sinilah ia banyak bergelut dengan dunia kemiskinan. Ia melihat kemiskinan itu berkaitan dengan minat baca masyarakat. Di sinilah inspirasi mendirikan perpustakaan itu muncul.</p>
<p>”Memang sudah ada beberapa perpustakaan di Bantul, tetapi sayangnya, sebagian besar malah mati. Penyebab utamanya, ya, sumber daya manusia. Makanya, saya yakin bisa mengelola perpustakaan asal ada kemauan kuat dari diri sendiri,” katanya. (<a href="http://cetak.kompas.com">Kompas Cetak</a>)</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;"><br />
DATA DIRI</span></strong></p>
<p><strong>Nama:</strong> Sumanto</p>
<p><strong>Lahir:</strong> Bantul, DI Yogyakarta, 12 Mei 1961</p>
<p><strong>Alamat:</strong> Dusun Jati, Desa Sriharjo, Imogiri, Bantul</p>
<p><strong>Istri:</strong> Siti Mardila (48)</p>
<p><strong>Anak:</strong></p>
<p>- Alfi Miranti Hanifah (almarhumah)</p>
<p>- Merviana Aulia (19)</p>
<p>- Baihaqi Handono (16)</p>
<p>- Ariyanti Latifah (14)</p>
<p><strong>Pendidikan:</strong></p>
<p>- SD Sriharjo, Imogiri, Bantul</p>
<p>- SMP Muhammadiyah I, Imogiri, Bantul</p>
<p>- SMA Putra Bakti Pleret, Bantul</p>
<p><strong>Pekerjaan:</strong></p>
<p>- PT Astra International</p>
<p>- Nabasa Life Insurance</p>
<p>- Asuransi Panin</p>
<p><strong>Penghargaan:</strong></p>
<p>- Piagam Rekso Pustoko Bakti Tomo dari Pemprov DI Yogyakarta, 2006</p>
<p>- Juara II lomba Jambore Reading Club, 2008</p>
<p>- Pengelola Perpustakaan Terbaik Bantul, 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tamanbaca.guahira.com/sumanto-pustakawan-terbaik.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
