Spiritual Reading: Mengingatkan Tentang Prioritas Bacaan

4:23 pm Resensi | 806 views

Ragam metafor kerap dipakai orang manakala membicarakan aktivitas baca membaca. Sebagaian mengatakan, membaca adalah jendela dunia. Membaca adalah gudang ilmu. Membaca menghapus kebodohan. Membaca adalah anu. Membaca adalah bla bla. Begitu kaya perumpamaan yang telah dilahirkan para pembaca. Anda pun bisa melahirkannya. Kerena memang tak ada larangan.

Bagi saya, bacaan adalah racun yang mengobrak-abrik tatanan segi pemikiran seseorang. Baik menjungkirbalikkan yang baik menjadi buruk atau sebaliknya. Buku bisa menyakiti. Buku juga bisa menjadi penawarnya. Akibat membaca, Muslim jadi Kafir. Kafir menjelma Muslim. Laki-laki alim menjadi bocah urakan. Si urakan mendadak alim. Gadis berjilbab menjadi seksi, dan si seksi segera berjilbab. Begitulah bacaan mengaduk-aduk otak pemahaman kita.

Judul : Spiritual Reading; Hidup Lebih Bermakna dengan Membaca
Penulis : Dr. Raghib As-Sirjani & Amir Al-Madari
Penerbit : Aqwam
Tahun Terbit : 2007
Tebal : 208

Secara khusus tulisan ini saya persembahkan kepada umat Islam. Sejarah telah mencatat bagaimana bacaan menjadi pegangan ideologi yang bermula dari gagasan individu merambat menjadi kepercayaan berjamaah. Kita mengenal bangsa Yahudi dengan Negara Israelnya. Barangkali Israel tidak akan pernah ada di muka bumi ini jika seandainya Benyamin Se’eb alias Theodore Herzl tidak menulis buku tipis bertajuk Der Judenstaat (The Jewish State). Bersama karya fiksinya yang berjudul Altneuland (Old New Land), buku ini telah menginspirasi jutaan orang Yahudi untuk bergerak mendirikan negara Israel dengan merampas hak-hak warga Pelestina. (Mohammad Fauzil Adhim, 2005)

Bacaan yang bergenit-genit. Genit isinya. Genit penulisnya. Genit ideologinya. Hal itu tentu saja membuat pembacanya menjadi genit nan centil pula. Saya sarankan, segera “lempar” dulu bacaan itu sekarang juga. Tapi sayangnya tidak sedikit orang yang mengaku ingin mengusung dan mendongkrak wawasan diri malah asyik menikmati bacaan itu. Lalu diceritakanlah kegilaan di buku itu. Blar.. dan seketika virus gendeng sudah menular cepat dengan indikasi retorika menggebu dan penampilan berdebu. Tak ada kesedihan yang besar menimpa bumi selain orang gila yang cerdas menyebarkan penyakit gila secepat merebaknya kentut. Jadi membaca jangan asal baca. Lantas, buku seperti apa yang harus dibaca jika demikian? Bukankah dengan buku kita seolah mengarungi laut lepas?

Jawabannya, semua buku harus dibaca. Betul jika membaca adalah mengarungi laut lepas demi mencapai pantai indah kecerdasan. Hanya saja persiapkan diri Anda sesiap-siapnya untuk membaca. Selayaknya orang hendak mengarungi lautan, meski tidak memiliki wawasan navigasi dan ketahanan hidup di laut, paling tidak ia mempunyai kemampuan berenang yang mumpuni. Bahasa anak muda sekarang, silahkan gaul asal jangan lebur.

Berangkat dari sana saya ingin menawarkan pijakan utama dalam membaca yang dipaparkan Dr. Raghib As-Sirjani dan Amir Al-Madari yang tercatat dalam buku berjudul Spiritual Reading: Hidup Lebih Bermakna dengan Membaca. Buku yang diproduksi Penerbit Aqwam ini sejatinya layak dijadikan pegangan para muslim mempersiapkan diri melawan bacaan-bacaan nyeleneh. Jika melihat kondisi banyaknya bacaan ngawur dan menyesatkan, kita sering kali dibuat bingung sendiri, dari manakah awal kita membaca? Atau buku apa sih yang seharusnya pertama kali dibaca?

Buku ini merupakan terjemah dari buku aslinya berjudul Iqro’ La Budda an Taqra’ & Al-Qira’atu Minhajul Hayati ini mengembalikan ingatan kita akan kesalahan besar para pembaca, terlebih umat Islam. Terutama sekali mengenai prioritas bacaan yang kadang saling sengkarut antara prioritas bacaan utama dengan bacaan sampingan. Sehingga yang terjadi, kita banyak membaca tapi tak banyak melakukan perubahan apa-apa. Lewat buku ini kedua penulis ingin menghadirkan kembali spirit umat Islam yang pernah memimpin peradaban dunia lebih dari 300 tahun, yakni sebagai umat yang memimpin arus informasi dunia melalui budaya baca.

Muslim adalah orang yang seimbang. Sehingga selayaknya membaca banyak buku guna menyeimbangkan hidupnya. Namun di sini Dr. Raghib As-Sirjani hanya membatasi pada sepuluh prioritas yang bisa kita baca.

Prioritas pertama, bacalah terlebih dahulu buku ini, karena di dalamnya memuat segala ilmu apa saja yang mengatur sepak terjang manusia. Hanya saja telah terjadi salah kaprah di kalangan umat Islam saat memperdebatkan suatu masalah keagamaan tanpa sama sekali berpijak pada pemahaman yang terkandung dalam buku ini: Al-Qur’an. Prioritas kedua tak lain adalah bacaan berupa Al-Hadits As-Syarif. Hal ini karena, selain Hadits mendapatkan posisi kedua setelah Al-Qur’an, Hadits juga menjelaskan maksud-maksud tertentu yang terkandung dalam Al-Qur’an. Prioritas ketiga, membaca Ilmu-ilmu Syar’i, yang di dalamnya termasuk kitab-kitab tafsir, fiqih, tauhid, dan sejenisnya. Prioritas keempat, membaca buku-buku spesialisasi keilmuan tertentu. Dokter harus banyak membaca tentang kedokteran, tentara harus banyak membaca buku-buku militer, pengusaha harus banyak membaca buku-buku perbisnisan, dan semisalnya. Prioritas kelima, membaca buku sejarah, mengingat sejarah cukup penting dalam rangka menangkap pelajaran atau ibroh positif. Prioritas keenam, membaca ilmu politik, dalam artian politik segala bidang dan negara keseluruhan. Prioritas ketujuh, buku tentang pendapat-pendapat orang lain. Ini berguna untuk mendapatkan pelajaran dari alur gerakan pemikiran-pemikiran orang lain, baik yang pro atau kontroversi. Prioritas kedelapan, membaca tentang syubhat seputar Islam guna membendung kesalahpahaman penggugat Islam memahami konsep Islam, dengan menyuguhkan dalil-dalil. Prioritas kesembilan, bacaan tentang pendidikan anak. Hal ini mengingat dalam mendidik anak menjadi shalih dan shalihah ada seni tersendiri dan telah diatur secara khusus. Dan prioritas kesepuluh, membaca buku-buku hiburan. Ini mengingat manusia cenderung merasa jenuh, maka dipersilahkan sesekali membaca berita-berita olahraga, syair-syair santun, gambar-gambar karikatur sopan, dan sejenisnya.

Buku ini juga menawarkan buku-buku yang dianjurkan pada setiap prioritas dari kesepuluh prioritas di awal. Tak ada salahnya kita membaca buku ini sebelum memutuskan membaca buku lainnya. Paling tidak kita kembali diingatkan bahwa ternyata ada skala prioritas yang harus pahami dan dilaksanakan dalam aktivitas membaca. Dan membaca bukanlah racun. Salam.

(Sumber: http://www.rumahdunia.net)

Leave a Comment

Your comment

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.