Sumanto, Pustakawan Terbaik

10:19 pm Minat Baca, Pustakaloka | 788 views

Berkeliling dengan sepeda onthel untuk menyewakan buku secara cuma-cuma adalah aktivitas sehari-hari Sumanto, selama empat tahun sebelum gempa melanda Bantul pada 2006. Setelah gempa, aktivitas keliling itu tetap dilakukannya. Namun, dia tak lagi menggunakan sepeda onthel, tetapi dengan sepeda motor beroda tiga, sumbangan dari orang yang bersimpati kepadanya.

Kegiatan menyewakan buku-buku itu mulai digeluti Sumanto sejak tahun 2003. Pengalamannya menjadi tenaga survei dalam proyek pengentasan kemiskinan telah membuka matanya akan arti pentingnya membaca bagi masyarakat di lapisan apa pun.

”Dalam kegiatan survei itu, saya melihat banyak kemiskinan di sekitar desa saya. Salah satu penyebabnya karena minimnya tradisi membaca. Ini pun berkaitan dengan kesulitan mereka untuk membeli buku,” katanya.

Dengan koleksi sekitar 500 buku, Sumanto lalu mendirikan perpustakaan swadaya di rumahnya. Perpustakaan itu diberinya nama Mitra Tema. Memanfaatkan ruangan berukuran 2 x 6 meter, ia menata koleksi buku-bukunya.

Namun, Sumanto tak hanya berharap pada pengunjung yang mau datang ke rumahnya. Dia juga menjajakan buku-bukunya berkeliling ke berbagai tempat dengan sepeda onthel-nya.

”Saya harus berkeliling untuk ’menjemput bola’. Tidak mungkin saya hanya mengandalkan pembaca yang mau datang ke rumah. Kan, saya yang ingin mengajak masyarakat agar banyak membaca,” ceritanya.

Semua itu dikerjakan Sumanto nyaris tanpa pamrih apa pun. Ia tidak dibayar oleh siapa pun, dan ia juga meminjamkan koleksi buku-bukunya secara gratis. Untuk mencukupi kebutuhannya, ia membudidayakan pisang dan singkong.

”Saya tetap harus menghidupi istri dan anak-anak saya. Selain bertani, saya juga harus bekerja di bidang bangunan,” kata Sumanto.

Ketika koleksi bukunya masih sedikit, Sumanto menyiasatinya dengan kreatif. Ia bekerja sama dengan perpustakaan keliling milik Pemerintah Kabupaten Bantul. Sistem kerja samanya, Sumanto bersedia mencarikan anggota baru bagi perpustakaan keliling asal ia bisa meminjam buku untuk kemudian dipinjamkannya lagi.

”Waktu itu belum banyak yang mau menyumbangkan buku. Kalau hanya mengandalkan koleksi saya sendiri, masyarakat pasti jenuh juga. Makanya, saya bekerja sama dengan perpustakaan keliling, yang waktu kunjungannya tidak terlalu sering,” katanya.

Lambat laun usaha Sumanto mulai mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Sumbangan buku kemudian terus mengalir. Kini, koleksinya sekitar 20.000 judul buku. Kondisi itu membuat dia makin bersemangat untuk mengajak masyarakat gemar membaca.

Saat gempa menimpa Bantul pada 27 Mei 2006, sebagian rumah Sumanto hancur, termasuk bangunan perpustakaan. Sekitar 3.000 buku rusak. Keterpurukannya itu mengundang simpati seorang distributor buku.

”Orang itulah yang membantu membangun kembali ruang perpustakaan,” katanya.

Sepeda motor

Pasca-gempa ia juga mendapatkan bantuan sepeda motor beroda tiga. Dengan fasilitas lebih baik, Sumanto bisa membawa sekitar 400 buku setiap kali berkeliling. Dulu, sewaktu menggunakan sepeda onthel, ia hanya mampu membawa 60 buku.

Wilayah kunjungannya juga makin luas. Kalau dulu ia hanya mampu menjangkau 52 titik di empat kecamatan (Imogiri, Pleret, Jetis, dan Bantul), belakangan bertambah menjadi 89 titik. Ada tiga kecamatan baru yang dirambahnya, yakni Sewon, Pundong, dan Bambanglipuro.

Titik-titik kunjungan perpustakaan kelilingnya berupa masjid, panti asuhan, toko-toko, dan kantor-kantor pemerintahan. Untuk lokasi yang pembacanya anak-anak, Sumanto memilih berkeliling seusai jam sekolah. Adapun untuk pembaca umum, biasanya ia datangi pada pagi atau sore hari.

Kegigihan Sumanto itu membuat jumlah peminjam terus bertambah. Selama tahun 2007, jumlah peminjam buku di perpustakaannya mencapai 7.156 orang, sedangkan pengunjung perpustakaan sampai 20.320 orang.

Meski tak memiliki latar belakang bidang perpustakaan, Sumanto tergolong piawai dalam mengelola perpustakaan. Buku-buku koleksinya dibagi menjadi kategori SD, SMP, SMA, agama, dan umum.

”Sistem pengelolaan itu saya pelajari dari perpustakaan milik Provinsi DIY di Jalan Malioboro. Kebetulan sewaktu SMA, saya sering nongkrong di tempat itu,” katanya.

Untuk membantu pengelolaan perpustakaan sewaktu ia berkeliling, Sumanto mempekerjakan seorang pegawai di perpustakaannya dengan upah Rp 300.000 per bulan.

Agar ia bisa membayar pegawainya itu, sang istri membuka tempat penitipan anak dengan tarif seikhlasnya. Beberapa keluarga yang menitipkan anak mereka pun memberinya sekitar Rp 50.000 per minggu. Selain itu, Sumanto juga menyewakan empat unit komputer dengan tarif Rp 500 per jam.

Jerih payah dan semangat Sumanto untuk menarik masyarakat agar gemar membaca, membuahkan hasil. Usahanya mengembangkan perpustakaan swadaya mendapat penghargaan dari Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta. Ia antara lain menerima piagam Rekso Pustoko Bakti Tomo.

Ia berkisah, menjadi pustakawan bukan impiannya. Meski dilahirkan di Bantul, tetapi sejak 1982 Sumanto merantau ke Jakarta. Selama sekitar 13 tahun, dia bekerja di PT Astra International. Namun, ritme kerja yang cepat rupanya tak cocok baginya. Sumanto merasa teralineasi secara sosial. Ia lalu mengundurkan diri saat menempati posisi sebagai kepala stok mobil.

Setelah itu, ia berusaha mencari pekerjaan baru yang relatif tak terlalu mengikat dari segi waktu. Pilihannya jatuh di bidang asuransi.

Akan tetapi, mengingat kondisi orangtuanya di Bantul, Sumanto kemudian memutuskan kembali ke Bantul dengan segala risiko, terutama dari sisi finansial. Tujuannya satu, ingin mendampingi orangtua sebagai bentuk pengabdian seorang anak.

Sesampai di desa, ia sempat bingung tak punya pekerjaan tetap. Semua tawaran kerja dilakoninya, termasuk menjadi anggota tim survei Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP). Di sinilah ia banyak bergelut dengan dunia kemiskinan. Ia melihat kemiskinan itu berkaitan dengan minat baca masyarakat. Di sinilah inspirasi mendirikan perpustakaan itu muncul.

”Memang sudah ada beberapa perpustakaan di Bantul, tetapi sayangnya, sebagian besar malah mati. Penyebab utamanya, ya, sumber daya manusia. Makanya, saya yakin bisa mengelola perpustakaan asal ada kemauan kuat dari diri sendiri,” katanya. (Kompas Cetak)


DATA DIRI

Nama: Sumanto

Lahir: Bantul, DI Yogyakarta, 12 Mei 1961

Alamat: Dusun Jati, Desa Sriharjo, Imogiri, Bantul

Istri: Siti Mardila (48)

Anak:

- Alfi Miranti Hanifah (almarhumah)

- Merviana Aulia (19)

- Baihaqi Handono (16)

- Ariyanti Latifah (14)

Pendidikan:

- SD Sriharjo, Imogiri, Bantul

- SMP Muhammadiyah I, Imogiri, Bantul

- SMA Putra Bakti Pleret, Bantul

Pekerjaan:

- PT Astra International

- Nabasa Life Insurance

- Asuransi Panin

Penghargaan:

- Piagam Rekso Pustoko Bakti Tomo dari Pemprov DI Yogyakarta, 2006

- Juara II lomba Jambore Reading Club, 2008

- Pengelola Perpustakaan Terbaik Bantul, 2008

13 Responses

  1. wibowo purnomo hadi Says:

    Setelah membaca pengalaman dan kiprah beliau saya pingin kenal,

    wibowo_ph@yahoo.co.id, 081333317458

  2. TengkuPuteh Says:

    Salut dgn Sumanto….

  3. Julil Says:

    Kirain Sumanto cuma bisa makan orang. Gak taunya ada Sumanto berhati mulia he he he

  4. islamic school Says:

    salam…. tukar2 libk dengan anek dayah..

    sekaligus tukar2 link …:0

    makasih

  5. Admin Says:

    @ islamic schooL
    Boleh. dengan Senang Hati..

  6. aih Says:

    salut dengan pak sumanto,,ruaarr biasaa!!!

  7. Fahrisal Akbar Says:

    Saleum meuturi dari Aneuk Aceh di perantauan…. :D

  8. tedjo Says:

    thank’s a lot, Pak Manto telah banyak memberikan pelajaran buatku, agar aku menjadi lebih baik lagi.

  9. Baka Kelana Says:

    Ya…ampun
    tadi saya pikir sumanto makan orang

    Sorry ya

    Salut buat Pak Sumanto, semoga tetap eksis dan sukses sebagai pustakawan terbaik

  10. Baka Kelana Says:

    Salam kenal juga dari Aneh Aceh yang di tanah jawa

    Aceh Blogging
    Aceh Wordpress

  11. Boban Says:

    Semoga Allah Ta’ala selalu melimpahkan rahmat kepada bpk sumanto, karena keihlasan hatinya

  12. ernida Says:

    Hebat……

  13. Novi Kusuma Says:

    Slm kenal, kami dr perwakilan KKN-PPM UGM memohon bntuan berupa sumbngn buku bagi anak2 SDN 1 & 2 Jarum-Bayat kab klaten Jateng. keadaan perpustkaan di sekolh ini sangat parah. bhkn bisa dsebut mati. hal ini diperparah pula dg terjdinya gempa bumi pd 27 mei lalu. bahkan perpustkaan di SDN 1 Jarum trpkda djadikan sbg gudang penyimpnan brng krn sama sekali td trsedia buku2. pengelolaan perpustkaan kedua SD ini tidah dpt dikatakan berjalan. bhkn dpt dkatakan tdk ada sama sekali. ini hnya gmbaran singkat mengenai keadaan prpstkaan kedua sekolah tsb. lain kali akan kami gambarkan dg lebih detail mngenai kadaan prpstkaan SDN 1 & 2 Jarum. kami sngt menghrpkan uluran tngn berupa buku2 tsb. besar rasa terima kasih kami atas perhatian yg dberikan. Sekian. –Novi Kusuma Ningrum–

Leave a Comment

Your comment

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.