Yang ke Perpustakaan bukan Anak Gaul
February 28, 2009 1:03 am Uncategorized | 1,270 viewsHari gini, ada apa sih di perpustakaan sekolah? Kayaknya enggak ada yang ”penting” di perpustakaan sekolah atau perpus. Tinggal klik Google, semua informasi langsung tersedia….
Perpus? Udah bukunya jadul, lay out-nya enggak menarik, dilarang ngobrol lagi. Kalau saja enggak ada tugas yang memaksa kita masuk perpus, males banget ya…
Kayaknya hampir pasti kalo sebagian besar putabuers bakalan menjawab dengan ”penolakan” yang sama saat ditanya komentarnya soal perpus. Lokasi yang mestinya bisa jadi tempat nongkrongnya putabuers di sekolah, dijauhi karena kondisinya yang nyaris ketinggalan zaman.
Perpus ibarat ”penyakit”. Sejak zaman dulu, perpus identik sebagai salah satu tempat di sekolah yang amat dihindari putabuers. Kalaupun ada yang demen masuk ke perpus, bisa dibilang orang-orangnya itu melulu. Enggak jarang pula, geng perpus itu disebut sebagai kelompok enggak gaul.
Inget kan sosok Rangga di film Ada Apa Dengan Cinta? yang diperankan Nicholas Saputra? Cowok asosial yang enggak punya temen itu hobi menyendiri, demen membenamkan diri di antara buku-buku di perpus.
Jadi kesannya, perpus = enggak gaul.
Kalo dibandingin sama kantin, pastilah perpus kalah populer. Biarpun kantin pasti bikin kantong terkuras, tapi tetap aja banyak putabuers yang lebih milih nongkrong di kantin ketimbang perpus.
Tugas guru
Alfina Ambarwati, salah satu siswa XII dan Khusnul Khotimah, kelas XII IPS 3 SMAN 112 Jakarta, mengatakan, kalo enggak ada tugas dari guru, mereka enggak bakalan masuk perpus.
”Kalo secara sengaja ke perpus buat baca-baca sih jarang,” kata Fina, panggilan Alfina.
”Memang sih seenggaknya dua kali sebulanlah kita masuk perpus buat ngerjain tugas,” timpal Khusnul. Dia beralasan jarang ke perpus karena sibuk mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional.
Lho, bukannya kalo mau ujian nongkrongnya justru di perpus? ”Enggak sempetlah,” cetus Fina.
Apa yang dikatakan Fina dan Khusnul itu disetujui Arini Dwi Deswanti, kelas XII IPS 1 SMAN 28 Jakarta.
”Aku ke perpus kalo ada tugas. Biasanya sih dua kali sebulan, tergantung sama banyak sedikitnya tugas. Yang banyak ngasih tugas itu guru Bahasa Indonesia,” kata Arini.
Untungnya, masih ada alasan yang bikin putabuers mampir ke perpus, misalnya saat jam pelajaran kosong. Salah satu yang suka mampir ke perpus itu adalah Arini. Katanya, ”Kalo lagi ada jam kosong, aku suka iseng baca majalah atau buku tahunan. Kalo ke kantin takut enggak bisa berhenti jajan.”
Ayu Novita, kelas X PB 2, dan Dian Mega dari kelas X Ak 2 SMKN 20 Jakarta juga ke perpus untuk alasan sama. ”Kalo jam kosong mending ke perpus aja, baca-baca majalah atau novel,” kata Ayu.
Perkembangan terbaru, selain sebagai gudang ilmu dan informasi, belakangan ini perpus juga jadi tempat ngaso para siswa. Terutama buat putabuers yang sekolahnya mengaplikasikan program moving class.
”Biasanya sambil nunggu jam moving class, kita ke perpus sekalian istirahat. Moving class kan capek naik turun tangga,” kata Fina.
Dari puisi sampai novel
Lazimnya, di perpus itu ada buku-buku pelajaran kayak IPA, IPS, Sejarah, Geografi, dan sebagainya. Terus ada juga novel-novel karya pengarang Indonesia mulai dari Motinggo Busye sampai Sutan Takdir Alisjahbana. Ada juga buku-buku kumpulan puisi sampai koran dan majalah.
Memang sih di sebagian perpus koleksi bukunya sering kali terbatas, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Ini sering menjadi kendala yang bikin putabuers malas ke perpus.
Kenapa bisa begitu? Alasan umum adalah keterbatasan dana yang menjadi kendala pengadaan buku-buku berkualitas untuk perpus sekolah. Ini antara lain dikatakan Ibu Siti Laela, guru yang ngurusin perpustakaan SMKN 20 Jakarta.
”Dalam setahun hanya ada penambahan 20 judul baru,” katanya.
Jadi enggak heran kalau banyak sekolah yang mewajibkan siswanya menyumbang buku di akhir semester. Tujuannya jelas, demi menambah koleksi perpustakaan biar minat siswa mengunjungi perpus meningkat.
Sebenarnya sih, minimnya koleksi perpus enggak perlu bikin kita langsung bete. Soalnya mulai tahun ajaran baru 2008 lalu, banyak sekolah udah menyediakan komputer yang terkoneksi dengan jaringan internet di perpus.
Di SMKN 20 misalnya, ada empat komputer dan di SMAN 28 ada tiga. Adanya komputer bisa bikin acara ke perpus jadi nikmat. Tentu aja asal internetnya nggak dipakai buat buka-buka Facebook sama Friendster doang!
Yang lebih asyik lagi, kata Bu Laela, ruangan perpus juga dibikin nyaman dengan pendingin udara dan lantai berkarpet.
”Di perpus kami, siswa enggak lagi dilarang ngobrol,” kata Bu Laela.
Itulah jurus-jurus buat menarik putabuers ke perpus. Jurus yang diperoleh SMKN 20 Jakarta, setelah Bu Laela berkonsultasi dengan Gola Gong, pendiri ”perpustakaan” bernama Rumah Dunia di Banten.
”Buat kami, yang penting anak-anak mau ke perpus,” tandas Bu Laela.
(DWI)
Source http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/27/02012053/perpustakaan.enggak.gaul







June 15th, 2009 at 12:42 pm
sob,,…,kami inianak perpus,siapa seh yang kecek anak perpus gak gaul,,,,?Bilang ma mereka diperpus tu buat isi otak,klo kaaaaaanteen tu isi perut,skali-kalike perpus yah!!!
Sukses buat perpus,buat yang belum pernah ke meunasah timu aja okeeeeeeeeeeeeeeeeeee….!!!